Nasihat Dalam Menghadapi Cobaan Hidup Yang Berat adalah Tabligh Akbar yang disampaikan oleh Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas. Tabligh akbar bersama Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas ini diselenggarakan di Lapangan Umum Desa Sembalun Kec. Sembalun, Kabupaten Lombok Timur pada Sabtu, 19 Muharrom 1440 H / 29 September 2018.
Ceramah Agama Tentang Nasihat Dalam Menghadapi Cobaan Hidup Yang Berat – Tabligh Akbar
Apa saja yang kita peroleh, semua datangnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّـهِ ۖ …
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya),…” (QS. An-Nahl[16]: 53)
Dan kita bersyukur atas semua nikmat. Dari mulai kita lahir sampai kita dewasa ini, kita sudah mendapatkan nikmat yang sangat banyak dan kita tidak akan bisa menghitungnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
…وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّـهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ ﴿٣٤﴾
“…Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, kalian tidak akan dapat menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim[14]: 34)
Kita harus berusaha untuk menjadi hamba yang bersyukur. Karena sedikit dari hamba Allah yang bersyukur. Kebanyakan manusia tidak bersyukur. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
…إِنَّ اللَّـهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ ﴿٢٤٣﴾
“…Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Al-Baqarah[2]: 243)
Dan Allah juga menyebutkan:
…وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ ﴿١٣﴾
“…Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba[34]: 13)
Allah yang mengatakan demikian. Maka dari itu kita berusaha untuk menjadi hamba-hamba yang bersyukur. Yaitu dengan beriman kepada Allah, mentauhidkan Allah, dengan kita terus melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhkan larangan-larangan Allah. Itulah bersyukur.
Tiga Pondasi Syukur
Pertama, kita wajib meyakini bahwa nikmat yang Allah berikan kepada kita dan kepada seluruh makhluk, semua itu hakikatnya datang dari Allah. Manusia tidak memiliki apa-apa. Yang memberikan nikmat hanya Allah, yang memiliki langit dan bumi Allah, yang memberikan rezeki kepada seluruh makhluk di langit, di bumi dan diantara keduanya hanya Allah subhanahu wa ta’ala. Kita bisa makan, bisa minum, bisa merasakan semua kenikmatan, semua diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Kedua, Allah memerintahkan kita untuk memuji dan menyanjung Allah subhanahu wa ta’ala atas nikmat-nikmat ini. Karena Allah yang memberikan semua nikmat dan Allah yang berhak mendapatkan pujian. Manusia tidak berhak mendapatkan pujian, siapapun dia orangnya. Yang berhak mendapatkan pujian hanya Allah subhanahu wa ta’ala. Milik Allah semua pujian, semua nikmat, semua kerajaan. Maka ketika seorang muslim menunaikan ibadah haji, itu nikmat yang besar. Dan mereka menyerukan kalimat talbiyah berikut ini:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ
“Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu).” (HR. Bukhari no. 1549 dan Muslim no. 19)
Ketika kita makan, minum,