Iman Kepada Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Syarh Hadits Jibril fi Ta’limiddiin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Iqbal Gunawan, M.A pada Rabu, 23 Ramadhan 1445 H / 03 April 2024 M.
Kajian sebelumnya: Rukun Islam Kedua: Shalat
Kajian Islam Tentang Iman Kepada Allah
Kita sampai kepada bagian hadits yang berbunyi bahwa lelaki yang dia adalah malaikat Jibril yang menjelma sebagai manusia sempurna. Beliau bertanya kepada Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam, “Jelaskan kepadaku, apa itu iman?” Maka Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam menjawab,
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ.
“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikatNya, kepada kitab-kitabNya, kepada rasul-rasulNya, kepada hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir baik dan takdir buruk.”
Kemudian orang tersebut mengatakan, “Engkau benar.” Kemudian dia melanjutkan pertanyaannya lagi, “Beritahukan kepadaku, apa itu ihsan?” Kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Jika engkau tidak mampu melakukan hal tersebut, maka yakinlah bahwa Allah senantiasa melihatmu.”
Lihat juga: Hadits Arbain Ke 2 – Pengertian Islam, Iman dan Ihsan
Pada jawaban Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang iman tentu banyak sekali faedah yang bisa kita petik. Yang pertama, yaitu bahwa rukun iman yang pertama adalah iman kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Iman kepada Allah ‘Azza wa Jalla adalah pondasi/asas dari rukun-rukun iman yang lain. Makanya, rukun-rukun iman yang lain disandarkan kepada iman kepada Allah, bahwa engkau beriman kepada Allah, kemudian malaikatNya, rasul-rasulNya, dan kitab-kitabNya.
Jadi, rukun iman yang lain adalah cabang dari iman kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Tidaklah seorang dikatakan beriman kepada rukun-rukun yang lain kecuali dia beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena selainnya disandarkan kepada Allah; malaikat-malaikat Allah, Utusan-Utusan Allah, kitab-kitab yang Allah turunkan. Maka, siapa yang tidak beriman kepada Allah, maka tidak mungkin dia beriman kepada rukun-rukun iman yang lain.
Tentunya iman kepada Allah juga mempunyai beberapa rukun, yaitu beriman kepada wujud Allah ‘Azza wa Jalla. Kita harus beriman bahwa Allah itu ada, dan adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak didahului dengan ketidakadaan, Allah tidak dikatakan dulu tidak ada kemudian ada, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga tidak akan binasa.
Jadi, di antara nama-nama Allah adalah Al-Awwal (tidak ada sebelumnya sesuatu), dan Al-Akhir (tidak ada setelahnya sesuatu).
Adanya Allah Subhanahu wa Ta’ala ini secara fitrah tentu diakui oleh seluruh manusia, karena tidak ada seorang manusia pun kecuali lahir di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi,