
Sign up to save your podcasts
Or


“Tajuk Rasil”
Selasa, 2 Zulhijjah 1444 H/ 20 Juni 2023
Idul Adha 1444 H Kembali Beda Waktu
Selesai menggelar sidang Isbat kemarin, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama menetapkan 1 Zulhijjah jatuh Hari Selasa 20 Juni 2023. Dengan hasil keputusan tersebut, maka Pemerintah akan melaksanakan Hari Raya Idul Adha pada Kamis 29 Juni 2023. Sementara itu, warga Muhammadiyah dan sejumlah negara muslim lainnya termasuk Arab Saudi akan melaksanakan Idul Adha 1444 H satu hari lebih awal, yaitu pada Rabu, 28 Juni 2023. Hal ini dilakukan Muhammadiyah sesuai dengan hasil perhitungan melalui metode hisab hakiki wujudul hilal.
Lembaga Falakiyyah PBNU menjelaskan tentang perbedaan penetapan Idul Adha antara Indonesia dengan Saudi. Pada kasus awal penetapan Dzulhijjah tahun ini, di Arab Saudi posisi hilal baik tinggi maupun elongasinya dinilai sudah memungkinkan untuk dapat dirukyat. Sementara di Indonesia sudah diambil sikap dengan penerapan kriteria baru (Neo MABIMS dengan tinggi hilal minimal 3 derajat dengan elongasi minimal 6,4 derajat) dan di seluruh Indonesia belum mencapai kriteria. Dengan diperkuat laporan hasil rukyat yang nihil, maka dengan penjelasan tersebut antara kedua negara suatu saat bisa menjadi bersamaan dalam mengawali bulan. Karena itu, penetapan Idul Adha saat ini berbeda antara kedua negara.
“Tajuk Rasil”
Senin, 1 Zulhijjah 1444 H/ 19 Juni 2023
Orang Indonesia Naik Haji
Artikel Republika, Oleh: Prof Azyumardi Azra (1955-2022), cendekiawan Muslim.
Naik haji bagi orang Muslim Indonesia sepanjang sejarah lebih daripada pemenuhan kewajiban keagamaan. Ibadah haji di Tanah Suci yang sangat jauh dari nusantara juga terkait dengan motif politik, keilmuan Islam, sosial, dan budaya. Penunaian ibadah haji berarti ‘paripurna’ dalam penunaian kelima rukun Islam. Tak kurang pentingnya juga mengandung implikasi keagamaan, politik, sosial, dan budaya dalam skala besar yang tidak pernah terbayangkan.
Perspektif seperti ini sangat membantu untuk menjelaskan mengapa banyak penguasa dan kalangan istana kesultanan melakukan macam-macam upaya mengafiliasikan diri dengan Tanah Suci, khususnya Makkah sebagai lokus ibadah haji. Seperti diisyaratkan Henri Chambert-Loir dalam Buku Pertama, Naik Haji Di Masa Silam, berbagai periwayatan tradisional seperti hikayat, sejarah, tambo, babad secara hampir senada bercerita tentang hubungan sultan dan raja dengan Makkah sejak bermulanya proses Islamisasi massal pada akhir abad ke-13............................................
“Tajuk Rasil”
Jumat 27 Dzulqoidah 1444 H/ 16 Juni 2023
Andai Kita Menjadi Orang Palestina
Artikel Republika.co.id
Laga FIFA Friendly Match antara Indonesia melawan Palestina baru saja usai. Kedua kesebelasan harus puas mengakhiri pertandingan dengan skor kacamatan 0-0. Terlepas dari permasalahan teknis sepak bola siapa yang bertanding lebih baik, pertandingan kemarin malam menjadi pengingat bagi kita jika masih ada negeri terjajah bernama Palestina.
Menjadi warga kelas dua seperti yang dialami orang-orang Palestina amat sulit. Namun, bangsa Indonesia pernah merasakannya saat menderita akibat penjajahan kolonial Belanda. Dulu, Belanda membuat tiga kelas dalam struktur masyarakat kita. Peringkat pertama adalah orang Eropa asli alias kulit putih. Warga kelas dua, yakni mereka yang berstatus sebagai peranakan dan orang keturunan, baik Tionghoa maupun Arab. Orang asli Indonesia ada di level paling bawah, yakni pribumi atau inlander. Saking rasialnya Belanda, ada pengumuman di tempat-tempat pertemuan: ‘Pribumi dan Anjing Dilarang Masuk’. Jika perlakuan diskriminatif ala kolonial itu sudah menjadi cerita lalu, coba simak bagaimana orang-orang Palestina diperlakukan sekarang....................
“Tajuk Rasil”
Kamis, 25 Dzulqoidah 1444 H/ 15 Juni 2023
Politik Daging Sapi
Artikel Republika, Oleh A Makmur Makka (Wartawan Senior)
Elite adalah mereka yang dalam masyarakat memiliki kekuasaan dan pengaruh. Mereka yang memiliki otoritas dan bisa mengontrol semua sumber daya di dalam masyarakat. Mereka menentukan kebijakan dan bisa mengarahkan apa saja dalam lembaga-lembaga masyarakat, politik dan sistem ekonomi. Mereka ini sangat sedikit dalam kerucut sebuah masyarakat, tetapi menempati tempat teratas.
Elite politik kita, tipe the founding father bangsa ini, adalah orang-orang pilihan yang langka. Dari elite seperti inilah muncul pemikiran-pemikiran kebangsaan dan cita-cita kemerdekaan. Hasilnya berupa negara merdeka yang kita kecap sekarang ini. Tetapi ketika Indonesia telah menyatakan kemerdekaan, dan pemerintahan sudah terbentuk, para elite ini mulai berbenturan ideologi dan kepentingan. Masing-masing sudah muncul sebagai wakil-wakil partai dan kelompok. Para elite ini terpisah dalam ideologi kepartaian yang berdasarkan keagamaan (Masyumi, NU, PSII,dll), nasionalis (PNI,PIR,Parindra,) dan Marxisme/sosialime (PKI, PSI,Murba,) dan lain-lain menjadi pecahan partai yang lebih kecil...............................
“Tajuk Rasil”
Selasa, 23 Dzulqaidah 1444 H/ 13 Juni 2023
LGBT Dalam ‘New World Order’
Maraknya fenomena LGBT akhir-akhir ini menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak, berbagai diskusi diadakan baik di media sosial maupun diruang publik. Intinya satu, kaum LGBT meminta legalisasi hukum atas keberadaan mereka di Indonesia. Tentu saja banyak yang kontra, namun yang pro juga tidak sedikit. Meski jelas, ini bertentangan dengan naluri manusia.
Berbicara LGBT dalam perspektif semua agama jelas tidak diterima. Dalam Islam ijma' ulama mengharamkan. Namun, bukan hanya itu persoalannya, karena perilaku menyimpang ini sudah ada semenjak zaman Nabi Luth. Yang perlu ditelusuri lebih dalam adalah siapa yang memunculkannya ke ruang publik. Ibarat kita panik dengan kotornya air kamar mandi kita, fokus kita bukan pada krannya, tapi sumber airnya lah yang harus dicek. Pertanyaannya, mungkinkah kaum yang mempunyai orientasi seks menyimpang ini secara kebetulan memiliki pikiran yang sama untuk berkumpul membentuk sebuah lembaga yang menuntut legalisasi hukum negara tanpa adanya fasilitator media dan penyandang dana?
“Tajuk Rasil”
Senin, 22 Dzulqoidah 1444 H/ 12 Juni 2023
SBY Bukan “Bapak Plin Plan”
Oleh: Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa
Anies harus gagal nyapres. Ini harga mati. Tidak boleh ada celah sedikitpun bagi Anies untuk nyapres. Segala upaya all out akan dilakukan untuk penjegalan. At all cost. Mulai strategi pembusukan (stigma gagal kerja dan dapat dukungan dari kelompok radikal), penundaan pemilu, hingga upaya kriminalisasi, tidak cukup berhasil. Tiga partai pada akhirnya membentuk Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) dan sepakat mengusung Anies Baswedan sebagai capres.
Gagal menjadikan Anies sebagai obyek operasi, maka strategi beralih ke partai pengusung. Kali ini tiga partai koalisi digarap. NasDem ditekan. Para menteri terancam jika NasDem tetap mengusung Anies. Surya Paloh, ketum NasDem kekeuh. Tetap tegak menghadapi semua ancaman. Akhinya, prahara pun menimpa Johnny G Plate. Ini baru babak awal. Kemungkinan masih ada babak berikutnya. Prof. Denny Indrayana sudah mulai sedikit membuka episode berikutnya......
“Tajuk Rasil”
Jumat, 19 Dzulqoidah 1444 H/ 9 Juni 2023
Keteladanan Sayyidina Umar bin Khattab dalam Mengendalikan Harga Kebutuhan Publik
Artikel NUonline.com, oleh: Ustadz Yuhansyah Nurfauzi (pegiat sejarah farmasi)
Bentuk bansos dan barang-barang subsidi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab sangat beragam. Berangkat dari kemampuan negara yang terbatas sejak awal pemerintahannya, khalifah Umar berusaha menyinergikan bansos dan subsidi bagi masyarakat muslim. Bantuan kesejahteraan yang muncul pada masa itu menarik untuk dicermati karena di balik kesuksesannya, Sahabat Umar adalah seorang pemimpin yang sangat sederhana, cerdas, kreatif, dan inspiratif.
Khalifah Umar pernah berpidato dan menyatakan usahanya untuk meningkatkan penerimaan negara serta memenuhi kekurangan kaum muslimin. Realisasi dari niat mulia itulah yang nantinya menjadi bentuk bansos dan subsidi di era pemerintahannya. Perluasan wilayah Islam ketika masa Umar bin Khattab menjadi khalifah sampai ke Syam, Mesir, dan Iraq. Ketika ada daerah lain yang lebih makmur, maka sayyidina Umar mengusahakan subsidi barang-barang kebutuhan pokok dari daerah yang makmur ke daerah yang kekurangan.
From the publisher's feed