Saya kira semua orang pernah mengalami kerja, kerja kerja ehh, malah udah duduk dua jam aja. Tiba-tiba udah sore, tiba-tiba lupa makan dan seterusnya. Hmmm, itu lebih jadi kewajaran bagi orang yang hidup di perkotaan besar, yang hampir sebagian waktu luangnya direnggut oleh waktu yang disebutnya sebagai jam produktif atau jam efektif. Dihantui target, sudah biasa! Yang penting weekend all in! open table!Pernah gak? Kalian menyadari kalo apa yang menjadi kesibukan, termasuk kerjaan yang numpuk plus segudang targetnya adalah hal yang kalian kerjakan atas dasar kesadaran penuh? Sadar kalo kerjaan yang begitu menyibukkan bener-bener ada hubungannya dengan orientasi hidup kita? Hehe. Ini mungkin hanya ada di alam mimpi. Utopis!. Kerja ya kerja! Kerja untuk dapet gaji, bisa bertahan hidup, syukur-syukur bisa saving untuk beli barang-barang hiburan. Atau jangan-jangan semua tergantung pada bagaimana cara kita memaknai pekerjaan. Kalo pemaknaannya relate sama ide tentang kebahagian yang sedang kalian bayangin, ya fine aja. Tapi, kalo hubungannya jauh banget atau bahkan sama sekali gak nyambung sama ideal kebahagiaan kalian? Hayo loo, yaa, kalo udah gini tinggal kerja! kerja! kerja! terus tipes. Di episode ini, saya bersama mas Herry (sosok yang nanti saya kenalin) sedang ngobrolin perlu gak sih, memaknai ulang pekerjaan? atau bahasa kerennya "Meredefinisi pekerjaan". Yuk simak!