Dahaga Massa, itulah istilah yg sangat menarik saat membaca berita (headline news) di Kompas.com, Rabu, 2 November 2022. Istilah tsb digunakan untuk menggambarkan situasi sosial yg meliputi kondisi psikologis sosial pasca pandemi. Di saat pandemi, orang-orang dibatasi untuk berkerumun. Tentu, pembatasan ini menuntut kita untuk menyesuaikan. Namun, penyesuaian itu tentu tidak mudah, mengingat manusia selalu membutuhkan perjumpaannya dengan orang lain (the other).m yg tidak cukup hanya bertemu secara virtual. Bahasa kerennya, love language is physical meet atau touch hehe. Nah, sekarang, meskipun pandemi belum sepenuhnya berakhir, pemerintah sudah mulai melonggarkan aturan pembatasan kerumunan. Inilah momen yg tepat bagi mereka yang sudah sangat rindu beraktivitas dalam kerumunan. Kondisi ini dapat dianalogikan sebagai orang yg berpuasa di padang pasir, lalu melepas dahaga di waktu berbuka, namun dengan air yang terlalu banyak sehingga membuatnya sakit bahkan mati. Maka, pelepasan dahaga akan pertemuan sosial memerlukan pengelolaan yang terbaik dari otoritas formal (pemerintah). Sebetulnya, yg jauh lebih penting dari otoritas formal adalah diri kita sendiri sebagai otoritas primer yang menentukan setiap tindakan, entah itu dalam rangka patuh atau ingkar. Sebagai otoritas primer, individu lah yg paling paham dan sadar dgn konsekuensi setiap tindakan, baik yg menyangkut kepentingan diri sendiri atau kepentingn orang lain.