Nilai-nilai moderasi beragama sebagaimana dikemukakan KH. Ma'ruf Amin (saat itu selaku Ketua Umum MUI dan Rais 'Aam Nahdlatul 'Ulama) antara lain adalah Tawazun, Tawasuth, I'tidal, dan Tasamuh.
Dalam berseni budaya, tentunya hal tersebut dapat ditanamkan dengan beberapa penjelasan sebagai berikut:
Dalam hadits tentang 3 orang yang ingin shalat tanpa tidur, puasa tanpa jeda, dan hidup selibat tanpa menikah agar dapat fokus beribadah, Rasulullah ﷺ menegur mereka agar tetap memperhatikan hak jasad dan keluarganya, sebagaimana juga dalam penjelasan Salman kepada Abud Darda'. Manusia terdiri atas ruh, akal, dan jasad yang semua potensinya perlu dijaga dan dikembangkan. Demikianlah seni budaya Islam seyogyanya menjadi penjaga keseimbangan ketiganya.
"Khairul umuuri ausathuha", maknanya sebaik-baik perkara adalah pertengahannya. Demikianlah Ahlus Sunnah wal Jama'ah berdiri di tengah antara Qadariyah dan Jabariyah dalam memahami takdir, antara Khawarij dan Murji'ah dalam mendefinisikan iman, dan antara Rafidhah dan Nashibi dalam mencintai sahabat dan Ahlul Bait.
Dalam hal yang lebih umum, 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ selalu memilih yang ringan selama bukan haram. Maka seni dan budaya Islam bisa menjadi wasilah penyampaian pemahaman kepada masyarakat untuk menjauhi sikap ekstrim beragama, tidak memudah-mudahkan mengkafirkan dan membid'ahkan serta menjadi sarana agar masyarakat menemukan rasa senang dan bahagia dalam ketaatan, ibadah, dan 'amal shalih.
Sebagaimana disebutkan Imam As Suyuthi, kaidah "Al Ashlu fil Asya-i Al Ibahah hatta yadullud daliilu 'alat tahriim"; asal hukum segala sesuatu (selain ibadah) adalah mubah sampai adanya dalil yang menunjukkan pengharamannya. Para pelaku seni budaya Islam perlu memahami fikih seni budaya secara komprehensif untuk menjawab keraguan tentang kebolehan suatu ekspresi seni dalam Islam.
Dari para 'ulama kita belajar memahami persoalan secara komprehensif sebelum mengambil kesimpulan hukum seperti dalam soal musik dan nyanyian. Dengan pemahaman yang kokoh bahkan dimungkinkan dilahirkan bentuk sajian seni budaya Islami yang kreatif dan inovatif seperti dicontohkan Sunan Kalijaga dan para Wali Songo.
Tasamuh atau toleransi didasari pemahaman akan keberagaman bahwa Allah mencipta kita dari Bapak dan Ibu yang satu dan menjadikan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling kenal mengenal, dan bahwa yang paling mulia di antara kita adalah yang paling bertaqwa. Maka seni dan budaya Islam harus menjadi perekat, pemersatu, serta jangan sampai menjadi pemecah belah dan sarana saling olok dan merendahkan antar kelompok ummat dan bangsa.
Marilah terus memajukan seni budaya Islam sesuai mahfuzhat, "Al Muhaafazhatu 'Alal Qadiimish Shalih wal Akhdzu bil Jadiidil Ashlah" atau memelihara nilai lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Terus lakukan re-interpretasi, re-aktualisasi, serta re-kontekstualisasi terhadap warisan seni budaya Islam dari para Wali dan Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.