
Sign up to save your podcasts
Or


Mengapa makhluk-makhluk berkulit tebal, sebesar dan sekuat dinosaurus bisa punah dari muka bumi ini? Karena mereka tidak mampu mengantisipasi bencana. Tidak tahu bahwa meteor-meteor sedang berjatuhan dan siap menghajar bumi. Nah, jangan sampai kita sebagai penulis juga mengalami hal sama.
Suka atau tidak, ada banyak hal yang dapat menjadi “meteor” untuk penulis. Aku sudah menyinggungnya dalam episode podcast-ku terdahulu, Sayangnya, Profesi Penulis Juga Bisa Punah Terimbas Robotisasi.
Salah satu dari “meteor” yang tidak pernah kita bayangkan sepuluh tahun lalu barangkali adalah penulis-penulis Artificial Intelligence (AI). Kita kenalnya mungkin hanya ChatGPT dari OpenAI atau Bard dari Google. Padahal, penulis AI itu jauh lebih banyak. Asal tahu saja, perusahaan-perusahaan digital di luar sana saat ini sedang berlomba-lomba membuat AI yang lebih andal.
Di mana ujung dari perlombaan itu? Bagaimana eksistensi kita sebagai penulis konvensional? Akankah sebagian besarnya akan diganti robot atau AI yang terampil dan cepat? Sangat memungkinkan. Meskipun, entah itu akan terjadi di tahun berapa.
Yang jelas, tantangan sebagai penulis bertambah banyak saja sejak munculnya teknologi revolusioner ini. Jangan sampai kita lengah atau meremehkannya. Semoga video ini dapat memotivasi kita supaya jangan sampai menjadi dinosaurus-dinosaurus berikutnya.
Semua orang pasti pernah bernostalgia. Sebab, semua yang terdeteksi oleh pancaindra kita berpotensi memicu nostalgia. Mulai dari rasa mi di resto yang sudah lama tutup, bau parfum mantan kekasih, pijatan nenek, foto almarhum sahabat, lagu di masa susah.
Namun, apa sebenarnya nostalgia itu? Bisakah kita memanfaatkannya untuk memasarkan sebuah produk? Bagaimana cara menerapkan nostalgia marketing? Apa saja contoh-contohnya? Apa kelebihan dan kelemahan strategi ini?
Simak selengkapnya di episode podcast Secangkir Espreso Braindito ini!
Bercanda dalam karya bukan hanya hak eksklusif penulis genre komedi. Penulis karya-karya yang menegangkan, bahkan tulisan nonfiksi, pun berhak menggunakan #ElemenHumor. Bahkan, asal takarannya pas, hukumnya wajib supaya karya tulis tersebut menjadi lebih segar dan menarik.
Jangan berpikir bahwa humor harus berhasil membuat pembaca terbahak-bahak. Cukup membuat pembaca tersenyum, dan matanya lebih melek saat membaca karya kita, #humor sudah dapat dibilang berhasil.
Tidak pernah ada salahnya menyelipkan humor-humor dalam karya-karya nonkomedi kita. Hanya masalahnya, #MenulisHumor itu ternyata sulit.
Tapi aku suka dengan bagaimana penulis #NovelEfekJera ini dalam menyelipkan humor-humornya. Ini adalah karya ketiga dari #Tsugaeda, novelis yang setia di tema kejahatan korporasi. Sudah baca?
Novel Efek Jera bertutur tentang Dio Prasetyo, pemuda 19 tahun yang diajak mantan mentornya di masa kecil, Mayor TNI (Purnawirawan) Sarjono alias Om Jon membongkar kejahatan korporasi Penida Airways. Om Jon seberani itu karena berekanan juga dengan Makarim Ghanim, seorang konsultan perusahaan yang terkenal memiliki integritas. Selain itu, ada juga angel investor di belakang mereka.
Maskapai Penida benar-benar parah manajemennya. Perlakuan ke pilot, pramugari, dan awaknya terkenal buruk. Demikian pula pelayanannya terhadap konsumen. Penerbangannya jarang tepat waktu, sering kecelakaan pula. Bagaimana tidak, pesawat-pesawat yang mestinya perlu perawatan, malah dipaksa terbang. Cuaca sedang jelek-jeleknya, tetap dipaksa take off. Pilot-pilot yang waktunya istirahat, masih disuruh berangkat.
Konyolnya, tidak pernah ada sanksi yang menimbulkan efek jera bagi maskapai ini dari otoritas atau Kementerian Perhubungan. Itulah mengapa misi pertama Om Jon, Makarim, Dio, dan Dinta adalah Penida Airways. Target utamanya menjebloskan pemiliknya, Bernard Sitanggang, ke penjara.
Bagaimanapun, dengan segenap keruwetan dan keseriusan tema yang dipilih, menurutku, Tsugaeda berhasil menyelipkan humor-humornya yang membuat novel ini terasa ringan dibaca.
Ada setidaknya tiga teknik bagaimana Tsugaeda melakukan itu dalam Efek Jera, yaitu:
Teknik-teknik ini dapat kita tiru dalam menyelipkan humor di karya-karya nonkomedi kita. Sekali lagi, humor tidak harus membuat pembaca tergelak-gelak. Kecuali kalau karya kita memang bergenre komedi.
Yang jelas, kalau kita perhatikan dari novel Efek Jera ini, humor harus memenuhi empat syarat ini:
Penjelasan selengkapnya ada dalam episode podcast ini. Jadi, simak sampai habis. Jangan lupa, kalau suka, share sebanyak-banyaknya di medsos, WA, blog, atau di manapun. Subscribe atau follow juga Kanal Secangkir Espreso Braindito.
Terima kasih dan salam kreatif!
Setiap karya yang bagus selalu meninggalkan catatan sebagai bahan pelajaran untukku. Begitu juga film pendek Tilik yang sedang viral ini. Di episode ini, aku berbagi catatan itu, khususnya tentang bagaimana cara menciptakan tokoh antagonis.
Jadi, bumbu apa yang perlu ditambahkan untuk membangun karakter antagonis yang berkesan? Aku mencatat, setidaknya ada empat bumbu penyedap:
Untuk penjelasan detailnya, silakan simak episode podcast ini sampai habis, ya...
Spesifikasi Film Tilik
Mari sejenak urai kepenatan dengan membaca novel. Tidak tahu mau baca apa? Cobalah Hellweek, karya terbaru dari Yogie Nugraha, penulis novel Koin Terakhir dan co-writer novel Pendosa Suci. Novel ketiganya ini masih bertema intelijen, kontraintelijen, dan konspirasi.
Dikisahkan, di Nduga, Papua, Indonesia, tujuh anggota gerakan separatis tewas oleh senjata pemusnah massal yang melibatkan gas sarin. Video amatir yang mempertontonkan betapa mengerikannya keadaan tujuh korban saat meregang nyawa bocor di dunia maya. Jadi viral!
Ramailah dunia internasional menyorot Indonesia. Apa lagi kalau bukan soal pelanggaran HAM?
Namun, tentu saja pemerintah Indonesia membantah. Bukan hanya membantah, Presiden langsung menugasi Menkopolhukamnya meringkus dalangnya. Menkopolhukam Djoko Suyono segera mengumpulkan Menteri Pertahanan (Syarifuddin Sutasoma), Panglima TNI (Bagus Waluyo), Kepala Badan Intelijen Negara (Syamsir Soedibjo), dan Kapolri (Sarwono Adjie).
Ditunjuklah Rocky Pattinama, orang BIN yang sekaligus jebolan Komando Pasukan Katak (Kopaska) sebagai eksekutor dari operasi yang berkode End of Day itu.
Rocky adalah orang Maluku. Ya, tokoh utama di novel Hellweek ini memang tidak mainstream. Unik. Temanya asyik. Alurnya pun enak diikuti dan seru. Meskipun ada juga hal-hal yang mengganjal di Hellweek.
Untuk lebih lengkapnya, tentu saja silakan langsung simak episode podcast Secangkir Espreso Braindito ini sampai habis.
Laptop, notebook, atau netbook saat ini adalah alat yang paling dasar dari seorang penulis profesional. Dibanding PC atau komputer, laptop jauh lebih ringan, portabel, dan hemat listrik. Sementara layarnya terasa nyaman di mata dan kibornya pas di tangan, tidak seperti komputer tablet (tab) atau ponsel pintar (smartphone).
Kamu penulis atau berencana menjadi penulis yang serius? Tapi belum punya laptop? Saranku, pinjamlah. Atau, lebih baik lagi: beli saja!
Tapi hati-hati salah memilih laptop! Sebenarnya, beli laptop bukan persoalan mudah juga. Apalagi kalau kita penulis pemula yang gagap teknologi (gaptek). Asal tahu saja, di Indonesia saja terdapat puluhan merek laptop, beserta aneka spek atau spesifikasinya.
Mana yang mau dibeli, coba? Puyeng, kan?
Tapi jangan khawatir. Di episode podcast kali ini ini, aku bagikan tips membeli laptop baru. Pada dasarnya, simpel, kok. Yang perlu kita perhatikan dalam memilih laptop itu hanya lima langkah sederhana ini:
Untuk penjelasan detail mengenai tips beli laptop baru bagi pemula, simak saja episode ini sampai habis. Semoga bermanfaat. Selamat membeli laptop baru dan berkarya!
Rupanya, manusia bukan satu-satunya makhluk yang tega membunuh sesamanya demi harta, takhta, dan wanita. Monyet dan kera pun ternyata demikian. Sama seperti manusia, dunia hewan bukan hanya tentang rantai makanan. Di sana, juga ada intrik dan politik. Semakin cerdas hewannya, semakin pelik intriknya.
Episode podcast kali ini memang agak berbeda dari biasanya. Dalam serial #Faktastis ini, aku ingin berbagi pengetahuan dan ide yang kupikir menarik. Kalau ada yang mau mengangkat ini jadi cerpen, novel, atau film, silakan saja.
Aku akan mengunggah episode faktastis mungkin sebulan sekali. Jadi kalau tertarik, pastikan untuk subscribe atau follow Channel Secangkir Espreso Braindito ini. Share juga sebanyak-banyaknya, ya... ;)
Terima kasih,
Braindito
From the publisher's feed