
Sign up to save your podcasts
Or


Membuat pertunjukan podcast atau siniar memang lebih sulit dibanding sekadar membuat artikel, tetapi jelas jauh lebih mudah dan murah dari membuat video.
Alat-alatnya pun sebenarnya sederhana saja. Kita cukup menggunakan ponsel pintar atau laptop dengan mikrofon eksternal. Lalu, diedit dengan peranti lunak semacam Audacity.
Bagaimana menulis naskah podcast-nya?
Ini pun tidak serumit menulis skenario audiovisual. Ada tiga model skrip podcast:
Untuk penulisan podcast model kedua dan ketiga, kita perlu memeriksa kembali kata-katanya. Ingat, kita menulis buat telinga. Menulis untuk didengar tidak sama dengan menulis untuk dibaca atau ditonton.
Bagaimana cara menulis untuk telinga?
Ada empat tips dasar:
Begitulah cara praktis untuk menulis naskah podcast. Untuk penjelasan lengkapnya, langsung saja simak episode Secangkir Espreso Braindito kali ini. Akhirnya, saya mengucapkan: selamat podcasting!
Saking canggihnya teknologi internet, kadang-kadang, aktivitas dunia maya terasa begitu nyata. Buktinya, ketika akun-akun media sosial (medsos), weblog (blog), atau YouTube kita mengalami sesuatu, kita di balik layar ponsel atau laptop pun ikut baper.
Kita mengunggah foto di Instagram, lalu jumlah like-nya bisa dihitung dengan jari, kita baper. Selama berbulan-bulan, kita rajin mengunggah video di YouTube, tetapi subscriber cuma bertambah sepuluh orang, baper lagi. Kita sudah merilis puluhan episode podcast, ternyata masih saja segelintir yang mau mendengarkan atau mengunduhnya, lagi-lagi baper.
Merasa familier? Merasa punya masalah yang sama? Gampang baper dan semangat membangun aset digital cepat drop? Pahami dan kuasai tiga jurus kebal ini. Dijamin, tidak tersisa lagi baper-baper itu.
Oh ya, episode podcast Secangkir Espreso Braindito kali ini bukan buat Anda yang sudah populer di medsos, blog, atau Youtube. Karena justru orang-orang seperti Andalah yang dibicarakan di sini, hehehe...
From the publisher's feed