Kata orang aku adalah ribuan doa-doa yang diberi sedikit harap. Enyahlah, cuma kata itu yang bisa aku ucapkan tapi terlalu pelan hingga orang-orang menolak untuk mendengar. Lucu, bahkan suaraku saja tidak seiring dengan inginku.
Ada baiknya aku tidak lagi menutupi kesedihan dengan membangun tembok pertahanan, menyamar pada diam sembari menikmati tiap sudutnya karena terlanjur nyaman, berusaha mati-matian menulis cerita bahagia tapi lupa menentukan siapa pemeran utamanya.