
Sign up to save your podcasts
Or


Ketika demonstrasi meletus pada pertengahan Mei 1998, terjadi pengrusakan properti dan kekerasan seksual yang menargetkan etnis Tionghoa. Sampai saat ini, kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan Tionghoa tidak diakui kebenarannya. Sentimen rasis terhadap etnis Tionghoa ada jauh sebelum Indonesia merdeka dan masih hidup sampai sekarang, jika tidak dipelihara untuk tujuan tertentu. Episode ini menghadirkan Andy Yentriyani, Ketua Komnas Perempuan dan Kevin, pegiat kolektif Suara Peranakan.
Ketika perang terjadi, perempuan seringkali berperan penting dalam mengupayakan kedamaian dan ketentraman di saat para pejuang berperang, seperti memastikan keluarganya tetap makan, menyembunyikan para kombatan untuk menghindari eskalasi, hingga mengurusi dan mengobati mereka yang terluka. Namun, konflik selalu dilihat dengan cara yang maskulin sehingga peran ini sering tidak diperhitungkan. Terlebih lagi perempuan adalah salah satu kelompok yang paling merasakan dampak perang tetapi malah sering diabaikan oleh para pengambil kebijakan dan penjaga perdamaian di masa pasca konflik. Di episode ini, kita akan mendengarkan cerita dari Laila Juari, seorang perempuan pekerja kemanusiaan di RPuK Aceh, mengenai pengalamannya mendampingi perempuan di masa pasca konflik.
Kita masuk di masa orde baru di mana pengawasan dan kontrol oleh negara benar-benar masif. Bermula dari laporan bahwa ada sebuah kegiatan keagamaan yang dilakukan tanpa ijin di sebuah dusun di Lampung, situasi makin memanas dengan kedatangan aparat militer ke dusun tersebut. Puncaknya adalah tewasnya ratusan orang pada 7 Februari 1989, yang dikenal sebagai Peristiwa Talangsari.
Pada masa kolonial Belanda, Papua dijadikan tempat pembuangan tahanan politik. Lalu pada masa kemerdekaan, Papua menjadi rebutan antara Indonesia dan Belanda. Ketika rezim pemerintahan Indonesia berganti dari Orde Lama ke Orde Baru, tanah Papua dijual kepada perusahaan asing. Sementara itu, referendum yang dulu pernah dijanjikan kepada rakyat Papua, dilakukan dengan tekanan dan ancaman. Bagaimana rasanya menjadi orang Papua di Indonesia?
Seberapa jauh kamu mengenal keluargamu sendiri? Bagaimana jika selama ini ada rahasia yang sangat kelam yang disimpan erat oleh orang tuamu? Mbak Pipit, yang lahir pada 1981, baru mengetahui bertahun-tahun kemudian bahwa kedua orang tuanya adalah mantan tahanan politik 65. Pada masa Orde Baru, stigma “eks-PKI” mempunyai konsekuensi yang berat dari segi sosial, ekonomi, dan politik dan stigma tersebut berlanjut sampai ke anak cucu.
Siniar atau podcast #BicaraBenar merupakan kolaborasi antara Pamflet Generasi, Asia Justice and Rights (AJAR) dengan Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK). Kegiatan ini dilakukan guna menggalakkan pendidikan publik yang lebih populer dalam isu pelanggaran berat HAM masa lalu di Indonesia. Siniar ini dibuat untuk menjadi kanal informasi, diskusi, dan refleksi yang dipersembahkan oleh Pamflet dan AJAR bersama KKPK untuk para pendengar muda yang peduli akan isu HAM.
Di siniar ini, kasus-kasus pelanggaran HAM yang akan dibahas adalah pembantaian 1965, peristiwa Talangsari Lampung, peristiwa Mei 1998, Daerah Operasi Militer Aceh, dan pendudukan Papua. Pemilihan kelima kasus ini diambil dengan maksud memperluas narasi-narasi yang sudah pernah dikumpulkan dan diterbitkan oleh KKPK dalam buku “Menemukan Kembali Indonesia,” dan oleh Pamflet dalam buku “Yang Kelewat di Buku Sejarah.”
Di dalam siniar #BicaraBenar, narasi-narasi melalui arsip wawancara yang sudah pernah terkumpul akan diolah kembali dan dituturkan dalam produk audio. Melalui pembahasan di dalam siniar, pembawa acara yang mengisi di masing-masing episode akan menyampaikan informasi dan refleksi atas cerita pelanggaran yang akan diperdengarkan. Tentu saja, arsip wawancara yang ada hanya akan digunakan dan dituturkan ke dalam siniar setelah mendapatkan persetujuan dari pemilik narasi dan pemilik arsip.
From the publisher's feed