Silsilah Adam Sampai Anak-anak Ishak
Sabtu, 11 April 2026
Bacaan Alkitab hari ini:
1 Tawarikh 1
Penulis memulai tulisannya dengan silsilah bangsa Israel, bukan hanya dari leluhur mereka––Abraham––tetapi ditarik jauh sampai ke manusia pertama, Adam. Catatan silsilah ini melegitimasi posisi bangsa Israel sebagai bangsa pilihan TUHAN. "Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, ..." (Keluaran 6:6a). Catatan silsilah Israel yang terperinci menunjukkan bahwa Allah terus memelihara dan menjaga warisan perjanjian itu agar terus berlangsung tanpa putus, meskipun Israel sempat tercerai-berai dan terbuang dari Tanah Perjanjian.
Silsilah ini dimulai dari nama Adam dan diakhiri dengan nama Abraham (1 Tawarikh 1-27). Yang pertama adalah orang yang menjadi leluhur semua umat manusia secara jasmani dan yang mewariskan dosa, sedangkan yang terakhir adalah orang yang mewariskan anugerah keselamatan bagi umat manusia atau menjadi "leluhur iman" bagi orang percaya. Empat ayat pertama mendaftarkan sepuluh nama, dari Adam sampai Nuh. Pada zaman Nuh, seluruh manusia selain Nuh binasa oleh air bah, sehingga setelah air bah, Nuh menjadi leluhur umat manusia melalui ketiga anaknya, yaitu Ham, Sem, dan Yafet.
Dari ketiganya, Sem yang menurunkan Abraham, orang yang dipilih Allah untuk mewarisi janji anugerah-Nya. Daftar keturunan Sem ini ditulis dalam empat ayat terakhir, dan sampai Abraham juga ada sepuluh nama. Ayat 34-42 menuliskan daftar keturunan Esau, anak sulung Ishak yang kehilangan hak kesulungan karena ia meremehkan hak tersebut. Ia hanya menginginkan kedudukan dan berkat materi untuk anak sulung, tetapi ia tidak peduli terhadap yang lebih penting, yaitu warisan perjanjian dengan Abraham. Sebaliknya, Yakub menginginkan hak kesulungan yang ia rebut dengan cara yang salah, yaitu dengan memanfaatkan situasi Esau yang sedang lapar serta menipu ayahnya. Yakub berhasil mendapatkan hak itu bukan karena kelicikannya, tetapi karena Allah sudah memilih dia sejak semula (Kejadian 25:23). Bila Yakub menunggu Allah bertindak, dia akan terhindar dari berbagai penderitaan akibat perbuatannya itu.
Allah memilih Israel menjadi umat-Nya walaupun orang-orang pilihan-Nya tidak bebas dari dosa. Status pilihan tidak membebaskan kita dari hukuman dosa. Konsekuensi dosa tetap berlaku karena Allah itu adil. Ada hukum negara dan hukuman sosial yang akan menimpa orang yang bersalah. Umat pilihan Allah tidak terlepas dari dosa, tetapi Roh Kudus selalu mengingatkan akan dosa dan mengarahkan kita ke jalan yang benar. Anda harus memilih: Bertindak mengikuti keinginan roh atau mengikuti keinginan daging. Pilihan mana yang Anda ambil? Apakah Anda siap menghadapi konsekuensinya? [GI Michael Tanos]