
Sign up to save your podcasts
Or


Tidak ada yang mengalahkan gelora dan api masa muda. Tapi di satu titik dalam hidupnya, manusia harus beranjak dewasa. Entah karena waktu, pengalaman, atau memang sudah ketetapan. Bukan berarti kemudian kita berhenti belajar. Sebaliknya, justru tak boleh berhenti.
Mungkin keberhasilan dan pencapaianku selama ini bukan karena kerja keras, melainkan karena beruntung saja. Wajar jika suatu waktu ia pergi dari kita. Orang bilang nanti akan datang lagi keberuntungan lainnya. Tapi masalahnya, seberapa beruntungnya, sih, kita yang cuma manusia biasa ini?
Sebelum bertanya lebih lanjut, ada baiknya hentikan rentetan pemikiran itu dengan tanyakan satu hal ini pada dirimu: memangnya apa, sih, yang seharusnya manusia capai dalam satu tahun hidupnya?
Salahkah kita sedih melihat mereka yang kita sayang bahagia bersama yang lain? Bukankah cinta tak harus memiliki? Apakah ini yang disebut obsesi?
Jangan berkecil hati dan segan untuk bahagia, hanya karena sumber bahagiamu terkesan sepele buat orang lain. Episode ini adalah panggilan untuk kita merayakan segala hal kecil yang membuat kita bahagia. Pada mereka yang bersikap nyinyir, biarkan saja. Memangnya mereka tahu apa?
Sejatinya keduanya penting, tapi berbeda. Dalam bilik hati kita pun demikian, fungsi dan cara memperlakukannya berbeda. Berita baiknya, kamu tak harus memilih satu. Keduanya boleh ada, hanya tinggal pandai-pandai bagaimana kita melihatnya.
Salah satu episode paling relate untuk kita yang suka bertanya-tanya: kenapa harus aku? Kan, banyak orang lain yang lebih baik. Mudah-mudahan, jawabannya kamu tahu. Karena sudah kamu lakukan seumur hidupmu. Bagikan episode ini ke teman-temanmu, ya.
Sering kita berpikir bahwa kita juga bisa jadi seperti orang lain yang hidupnya mudah dan enak. Toh, tinggal menikmati saja. Padahal, kita tak tahu persoalan macam apa yang datang sebagai bagian dari tanggung jawab mereka. Sebab semakin tinggi pohon, kan, semakin kencang pula anginnya. Memangnya benar sudah siap?
Orang bilang, hidup harus selalu bergerak maju. Sehingga pada satu titik, kita jadi anti dengan melihat ke belakang. Padahal, mengunjungi masa lalu itu perlu. Biar kita bisa memungut lagi pelajaran dan pengingat yang kemarin ketinggalan, sebagai bekal kita mempersiapkan masa depan.
Kalau sudah bicara pendapat dan nilai, seringkali yang berdiri paling depan adalah ego. Sehingga tanpa sadar, saat berjumpa perbedaan sekecil apapun, kita jadi memaksakan apa yang kita rasa benar. Demikian juga mungkin, orang lain terhadap kita. Episode ini adalah tentang itu.
From the publisher's feed