Suara.Tuan

Suara.Tuan

By PotretFictionDrama
Download on the App Store

Suara.Tuan episodes

  • Racikan Takdir Semesta

    “Semesta itu adil. Pun jika belum masuk akal hari ini, lusa atau entah hari apa. Keadilan semesta akan datang, mengetuk pintu rumah kita, dengan membawa hal-hal yang tidak pernah kita perkirakan, sebelumya”  

    Semesta membuat racikan takdir yang berbeda-beda, pada tiap-tiap manusia. 












    Pengisi Suara : Caca

    Penulis : Waras Hati


    3 min
  • Ziarah Rindu di Hari Raya

    Di Hari Raya, aku lebih memilih untuk berziarah rindu di hadapan kaleng kudapan kesukaan seseorang yang kini tak lagi bisa ku sentuh dan lihat. 

    Aku lebih memilih menebar bunga di tempat-tempat yang dulunya ada ceritaku dengannya. 

    Di kursi kayu tempat aku duduk dengannya, mau pun di ruang-ruang yang masih penuh aroma keberadaannya. 


    Suara: Tuan

    Penulis: Waras Hati

    5 min
  • Eps - Untuk Ikhlasmu

    Eps - Untuk Ikhlasmu


    Untuk apa pun yang pergi

    Untuk apa pun yang hilang

    Untuk apa pun yang dicuri

    Untuk apa pun yang digagalkan

    Untuk apa pun yang rampas

    Untuk apa pun yang diambil

    Tanpa kesiapan kita

    Tanpa persetujuan kita


    Ikhlaskan bagaimana pun caranya

    4 min
  • Eps 21 - Perlawanan Terhadap Diri Sendiri

    Eps 21 - Perlawanan Terhadap Diri Sendiri


    Nanti, setelah kau lelah menghadapi perlawan hidup yang kau buat sendiri. Sempatkan untuk menemui dirimu sendiri, dan dengar apa yang dia katakan.

    Aku sudah pernah membuat rencana ku sendiri. Didalamnya terdapat kata lawan yang begitu banyak. 

    Apapun yang aku tidak suka, ku lawan. 

    Apapun yang aku inginkan, Aku akan persiapkan perlawanan untuk mendapatkannya.

    Hampir semua hal, sudah pernah aku lawan. 



    Pengisi Suara: Tuan

    Penulis: Waras Hati

    5 min
  • Eps 20 - Cerita Sahur

    Eps 20 - Cerita Sahur


    Tuhan, pagi ini rasanya sangat berbeda. Entah aku harus menyambut bulan baik ini dengan perasaan yang seperti apa?

    Bahagia kah? Senang kah? atau lagi-lagi harus ku awali dengan sebuah tangis dan ingatan yang terluka.

    Entah, makanan macam apa yang harus aku santap. sementara semua makanan rasanya sangat hambar di pandanganku.

    Bukankah, sahur harusnya dilewati dengan penuh kegembiraan dan kesyukuran.

    Tapi, satu-satunya kegembiraan dan kesyukuran yang aku miliki, adalah kenangan terakhir sahur di ruang tengah dengan keluarga yang utuh. dan ruang, telah mencuri itu.


    Bukankah, sahur harusnya dilewati dengan makan secukupnya.


    Tapi, satu-satunya rasa cukup yang aku miliki, adalah kenangan terakhir saat menemani Ibu yang terburu-buru memasak hidangan sahur, sembari menunggu Ayah membangungkan adik-adikku serta mendengar celoteh adik-adikku yang kebingungan memilih mana makanan yang akan disantap terlebih dahulu. dan waktu, juga sudah mencuri itu.

    Tuhan, bukankah bulan baik tidak hanya berbaik hati pada kebaikan. Juga pada ingatan baik seorang anak yang sedang menahan rindu sesak di dadanya.

    Tuhan, bukankah bulan baik tidak hanya berbaik hati pada kebaikan.Bukan pada rasa sakit seorang anak yang tak bisa menikmati sahur pertama dengan keluarganya.

    Tuhan, bukankah bulan baik tidak hanya berbaik hati pada kebaikan. Bukan pada hati kecil seorang ibu atau ayah yang takut bila saat sahur hari ini tak cukup makanan untuk di makan.

    Bukan aku ingin berkeluh, aku mensyukuri segala nikmatmu. Aku menerimanya, bagaimana pun aku sadar semua cerita sahur itu telah berakhir. kita hanya bisa menerimanya, dan berharap ada kabar baik yang sempat tertunda bisa datang tepat waktu di bulan baik ini.

    Pesanku, untuk siapapun yang punya cerita sahur dengan keluarga yang utuh. pun hanya dengan segelas air putih dan dengan tiga potong telur kecil, bersyukurlah.

    Terimalah dengan kelapangan dadamu seluas-luasnya. karena itu jauh lebih dari manis dan jauh lebih dari cukup.


    Pengisi Suara: Suara Tuan

    Penulis: Suara Tuan

    5 min
  • Eps 19 - Ilalang dan Kegelapan

    Eps 19 - Ilalang dan Kegelapan



    Menghinjau, ibarat ilalang di padang rumput

    rinduku telah tumbuh subur 

    tak bertuan namun terus tersirami

    kefanaan macam apa yang sedang kurawat


    ilalang dan kegelapan

    rinduku terus hadir saat sunyi gelap malam menjemput

    hening dan suara jangkrik 

    adalah harmoni di antara tangis dan doa 


    bukankah ditinggalkan harusnya telah menjadi kerelaan bagi hati

    mengiringi yang pergi dengan berjuta rasa berbalut duka


    aku telah banyak menjumpai kehilangan

    tetapi kerelaanku terhadapmu 

    menjadikan itu seperti kemalangan bagiku

    yang tiada mengenal waktu hanya untuk meratapi luka dan kecewa

    tentang pergimu tanpa wujud maaf



    Pengisi Suara : Tuan

    Penulis : Tuan


    3 min
  • Eps 18 - Buku Harian Rindu

    Eps 18 - Buku Harian Rindu


    Semua yang tak lagi bisa aku lihat, sentuh dan dengar. Semuanya bersekongkol untuk membuat buku harian rindu, untukmu. Jika sempat serta mampu kau jangkau, bacalah. 

    Di dadaku. Rindu serupa anak semata wayang yang rapuh. Terlahir dari keluarga sederhana, yang sedang berada diujung tanduk. Ayahny bernama waktu, dan Ibunya bernama ingatan. 

    “Rindu, jika Ayah dan Ibu bercerai, kamu mau ikut siapa?”

    “Bolehkah aku hidup di dalam buku harianku sendiri, tanpa harus memilih salah satu dari kalian?” kata rindu

    Memilih Ayah dan Ibu, ingatan dan waktu. Memanglah tidak mudah bagi rindu. 

    Jika memilih waktu, itu artinya rindu harus merelakan ingatan tentangnya terhapus perlahan-lahan dan digantikan oleh ingatan yang baru. Sedangkan jika memilih ingatan, itu artinya rindu harus memperpanjang usia penyesalan, kesedihan dan kehampaan yang menghuni relung-relung hatinya. 

    Karena melupakan dan terlupakan. Bagiku sama-sama mengerikan. Oleh karena itu, aku memilih hidup abadi dalam buku harianku sendiri. Kata rindu. 

    Rupanya, tekat rindu sudah bulat. hari demi hari rindu memungut cerita masa lalunya dengan sabar. kemudian satu persatu dituliskan dalam buku hariannya. mulai dari cerita pertemuan yang tidak pernah terduga, hingga cerita tentang perpisahan yang sebenarnya tidak pernah direncanakan. semua tersusun rapi, lengkap serta tanpa ada yang terlewatkan satupun. 

    Memangnya apa yang mau kamu coba buktikan dengan pilihan itu? 

    Entahlah, mungkin suatu saat nanti. Entah kapan. 

    Ketika hatinya dihantui penyesalan dan pikirannya merasa tersesat tidak tau arah jalan untuk pulang ke tempat yang seharusnya dia tempati. aku yakin, buku harian rindu ini bisa sedikit membantu ingatannya. Itu saja, semoga. 


    Pengisi Suara : Tuan

    Penulis : Waras Hati

    4 min
  • Eps 17 - Cerita Berbuka

    Eps 17 - Cerita Berbuka



    Tuhan, semoga di bulan baik ini semua kabar baik yang sempat tertunda, tersampaikan tepat waktu. 

    Kau bilang, berbukalah dengan yang manis. 

    Tapi, satu-satunya rasa manis yang aku miliki, adalah kenangan terakhir berbuka di ruang tengah dengan keluarga yang utuh. dan ruang, telah mencuri itu. 

    Kau bilang, berbukalah secukupnya. 

    Tapi, satu-satunya rasa cukup yang aku miliki, adalah kenangan terakhir saat menemani ibu memasak hidangan berbuka, sembari menunggu ayah pulang dari kerja, serta mendengar celoteh adik-adikku yang kebingungan memilih mana makanan yang akan disantap terlebih dahulu. dan waktu, juga sudah mencuri itu. 

    Percayalah Bulan baik, hanya berbaik hati pada kebaikan. Bukan pada ingatan baik seorang anak yang sedang memikul jarak dipundaknya. 

    Percayalah bulan baik, hanya berbaik hati pada kebaikan. Bukan pada hati kecil seorang ibu atau ayah yang takut tidak bisa memberikan hidangan yang layak di meja makan untuk anak-anaknya yang kelaparan.

    Tapi, apa boleh buat. bagaimanapun semua cerita berbuka itu berakhir. kita hanya bisa menerimanya, dan berharap ada kabar baik yang sempat tertunda bisa datang tepat waktu. 

    Pesanku, untuk siapapun yang punya cerita berbuka dengan keluarga yang utuh. pun hanya dengan segelas air putih dan dengan tiga biji kurma murahan, bersyukurlah. 

    Terimalah dengan kelapangan dadamu seluas-luasnya. karena itu jauh lebih dari manis dan jauh lebih dari cukup. 



    Pengisi Suara: Tuan

    Penulis: Waras Hati

    5 min
  • Eps 16 - Tanah Rantau

    Eps 16 - Tanah Rantau


    Bertahun-tahun sudah daku di tanah rantau, kampung halaman nan jauh terkenang dalam ingatan. Sanak saudara saling bergilir, lirih memanggil pulang, namun tak satu jua yang menggerakkan hati untuk lekas pulang menebus rindu. 

    Demikian, ada hal-hal yang membuat ku enggan untuk pulang menjumpai tanah lahir ku, tanah leluhur ku. Maafkan daku, jiwa ku terlalu nyaman di tanah rantau ini, meski hati tak sebaik yang di kira.

    Maafkan daku, yang masih terus berusaha menemukan jati diri ku di tanah rantau ku. Siang malam tiada habis daku termenung, siang malam tiada habis daku bercerita pada diri sendiri. 

    Daku hanya berharap menemukan diri ku sendiri di sini, telah lama sudah rasanya daku kehilangan diri ku sendiri. oleh sebab banyak hal yang datangnya tiada sama sekali terduga. 

    Paduka raja di kampung halaman, sanak saudara yang rindunya pada daku tak lagi terbendung. untuk semua yang telah pulang ke tempat di mana seharusnya semua manusia akhirnya berada. maafkan daku, maafkan daku, tak pernah menemui rindu mu, tak pernah memberi mu kabar tentang keadaan daku di sini.

    Aku baik-baik saja, terus berusaha demikian, meski kaki rasanya tertatih-tatih melangkah. meski raga rasanya sangat letih, meski hati rasanya sudah tak utuh lagi. kelak aku pasti akan kembali, menemui semua hal yang membuat ku selalu merasa damai. doakan daku di sini, tanah rantau. menemukan apa yang harusnya kutemukan sebagai manusia. 


    Pengisi Suara : Tuan

    Penulis : Tuan

    4 min
  • Eps 15 - Lelaki itu Bapak Namanya

    Eps 15 - Lelaki itu Bapak Namanya


    Lelaki itu Bapak namanya, yang paling merasa khawatir saat menantikan kelahiran anaknya.

    Lelaki itu Bapak namanya, yang paling bahagia saat melihat anaknya berhasil menggapai tujuannya. 

    Lelaki itu Bapak namanya, yang paling bersedih saat mengetahui hal buruk tengah menimpa anaknya. 

    Lelaki itu, Bapak namanya, yang diam-diam selalu menanyakan segala hal tentang anaknya pada Ibu. 

    Lelaki itu, Bapak namanya, yang paling sibuk saat menjelang pernikahan anaknya meski akhirnya paling dilupakan setelahnya. 

    Lelaki itu, Bapak namanya, yang paling menangis saat menyaksikan anaknya mengucapkan akad nikah sebab merasa sangat bersalah karena merasa belum mampu berikan apa-apa. 

    Lelaki itu Bapak namanya, yang dalam diamnya hanya berisi doa untuk kebaikan hidup anak-anaknya. 

    Lelaki itu Bapak namanya, yang meski tubuhnya renta dan lelah di hajar keras dunia, namun tak sekali pun ia berujar keluh. 

    Lelaki itu Bapak namanya, yang peluhnya jarang kita hargai tapi cintanya tak pernah pudar untuk anaknya. 

    Lelaki itu Bapak namanya, yang sikap tegas selalu kita anggap kekejaman. 

    Lelaki itu Bapak namanya, yang tak pernah berkata tapi hatinya luka oleh sebab kita tak pernah punya waktu untuk sekadar berbincang dengannya. 

    Lelaki itu Bapak namanya, yang kerap berucap, maafkanlah bapakmu nak, jikalau ada yang kurang dariku.

    Lelaki itu Bapak namanya, yang diamnya doa, keringat doa, lelahnya doa, bahkan kematiannya doa. 


    Pengisi Suara : Tuan

    Penulis : Tuan



    4 min

About Suara.Tuan

From the publisher's feed

“Tidak semua hal terjadi seperti maumu, tidak semua hal untuk kau genggam. Yuk coba lagi, masih banyak kesempatan untuk tumbuh menjadi versi terbaikmu”