
Sign up to save your podcasts
Or


Eps 11 - Lautan Isyarat Hati
Dalam ruang persembunyian ku, aku mengaku bahwa ada deburan rasa yang diam-diam meluap seperti lautan biru.
Hadir di antara matahari pagi yang menghangatkan jiwa.
Matamu yang indah, telah melahirkan gemercak kagum dalam dada yang haru saat memandangmu teduh.
Apakah kau merasakannya, tentang isyarat yang datang membawa jutaan harapan, menerjang berusaha memecah karang-karang hatimu.
Kapal yang ku namai cinta itu telah berlayar di samudera hatimu, membawa isyarat bahwa ia telah siap menerjang segala badai yang ada di dalamnya. Bahkan bila itu tentang patah dan tumbang, sekali pun hilangmu nanti berujung kabung segala pilu.
Sebab aku takan pernah lari, dari sebuah rasa yang telah aku akui dengan susah payah yang setengah yakin campur banyak ragu. Dan kau jangan lari, seperti senja yang hanya menyisahkan bias jingga termakan gelap.
Oleh karena kapal cinta ku hanya ingin tuk berlabuh, untuk menetap, bukan sekadar lekat untuk sekadar menusuk.
Pengisi Suara : Tuan
Penulis : Tuan
Eps 13 - Bolehkah Aku Merayu-Mu Lagi Tuhan
Tuhan, setelah perginya bolehkah aku merayumu lagi? Seperti saat dulu pertama kali aku memintanya lewat doa mesra penuh yakin.
Tuhan, setelah tiadanya, bolehkah aku merayumu lagi, seperti saat dulu yang siang malam tiada henti menyebut namanya untuk kau sandingkan dengan ku yang tak punya apa-apa ini.
Tuhan, semoga kau tidak mencemburuinya sebab dikataku hanya namanya yang selalu ku semogakan. Sebuah rasa yang kini sedang bertahta di hati, letupan gejolak yang kian tak mampu kututupi.
Tuhan, setelah perginya kini siang malam tiada henti aku meratap diri. Padahal aku selalu percaya, yang kau tuliskan untukku akan selalu kembali padaku. Tetapi bagaimana bila yang ku tuliskan itu, bukan dia? Maka bolehkah aku bersimpuh lalu bersujud di kakimu seraya meminta agar ia saja yang menjadi takdirku.
Tuhan, tiada cinta yang lebih besar selain Cinta Mu pada hamba-hambamu, dan tiada cinta yang lebih agung selain mencintaimu.
Tuhan, meski syukur sering kali luput dari alam sadarku tak sedikit pun Engkau merasa rugi atas segala pemberian-Mu
itulah yang aku suka dari Tuhanku, betapa diri-Nya sangat Pemurah selalu dan terus begitu, memberi tanpa kasih yang memilah.
Dan kali ini aku ingin merayumu lagi Tuhan, ku mohon, kembalikan ia padaku.
Pengisi Suara: Tuan
Penulis: Tuan
Eps 12 - Bila Pada Kemudian Hari
Ketika hari hampir habis dan doa hanya menjadi ritus ala kadarnya, sementara daun-daun tak sedikit pun menebak ke mana angin akan meniupnya. sama seperti kita manusia, yang teramat kecil dihadapan rahasia. yang tak sedikit pun berkuasa atas jatuh bangun kita.
sama seperti tuan dan puan yang tak pernah benar-benar berkuasa atas perasaan yang telah susah payah kalian perjuangkan namun kalah oleh ego.
Tapi ingatlah ini.
Bila pada kemudian hari bukan dia yang kau temui, dan itu membuatmu sedih. maka ingatlah, seseorang pernah begitu bahagia saat kikuk jumpa pertama denganmu.
Bila pada kemudian hari tak lagi kau dapati seseorang berdiri memaku di depan pintu ruangan sebuah rumah sakit yang di dalam adalah kau, maka ingatlah. seseorang pernah begitu khawatir bercampur cemas akan keadaanmu.
Bila pada kemudian hari tak lagi kau dapati hal-hal aneh dari seseorang yang memang aneh, maka ingatlah, seseorang pernah selalu rela melakukan apa saja demi membuatmu selalu senang,
Bila pada kemudian hari tiada lagi yang kau tunggu sebab seseorang yang bukan aku telah membuatmu merasa utuh, maka ingatlah. telah ku relakan kita sebagai singgahmu yang tak dapat ku sanggah.
Bila pada kemudian hari rindu menghujam tanpa ampun. aka ingatlah seseorang pernah selalu ada untukmu meski tak pernah kau hargai keberedaannya.
Kepergiaanya, bukan karena tak lagi mencintaimu. tetapi karena ia akhirnya sadar, sudah terlalu banyak pelik yang kau dapati dari peluhnya yang hening, sudah terlalu lelah sabarmu untuk diam, dari perjuangannya yang sunyi. mungkin, dengan perginya jauh akan lebih baik untuk hidupmu.
Entah sudah berapa ribu doa yang ia panjatkan, tapi ia tak pernah merasa itu sia-sia. sebab, sedikit banyaknya, ia selalu ada untukmu. dan ia selalu percaya, doanya agar Tuhan selalu menjagamu dan membuatmu bahagia telah diijabah.
Semoga tak ada lagi yang membuatmu gusar, semoga hanya ada damai dan ketenangan. terima kasih telah bersedia mengenalnya di antara banyak kemungkinan yang lebih baik untukmu.
Kini, sudah waktunya berkemas, menghimpun angan seraya bergegas. salam kenang hanya sesaat, semak hati dipurnama. mungkin, hadir tergesah-gesah, dengan santun selamat tinggal.
Pengisi Suara : Tuan
Penulis : Tuan
Eps 11 - Teruntuk
Kepada siapapun, yang berhasil merebut hatinya. aku ingin menitipkan pesan, soal beberapa aturan yang semoga bisa membantumu. Agar kelak kau tidak mengulangi kesalahan yang sama sepertiku.
Ketahuilah, ia adalah perempuan yang sangat luar biasa, tangguh, gigih, mandiri, lembut, penyayang, dan segala hal-hal baik yang luar biasa ada padanya.
Betapa kau sangat beruntung, menjadi satu-satunya di antara banyaknya pilihan yang lebih baik untuk hidupnya. Dan kini, aku ingin memberimu beberapa aturan, yang akan membuatnya selalu mencintaimu.
Pertama, jangan memintanya untuk fenimin. Kedua, jangan biarkan ia meneguk segelas kopi, sebab ia akan berada di rumah sakit semalaman, ketiga, saat bersamanya pesankanlah ia coklat atau seporsi terang bulan kesukaannya. keempat, jika ia sedang marah bujuklah ia dengan memberinya pujian lelucon, kelima, bila ia sedang sibuk maka berilah waktu untuknya menyelesaikan rutinitasnya yang melelahkan itu. keenam, jangan pernah mengumbar hubungan kalian pada siapapun, bila tak ingin ia murka. ketujuh, apapun kabar yang kau dengar tentangnya, tanyakanlah padanya jangan pada orang lain.
kedelepan, kelak, ia akan menelponmu berjam-jam di tengah malam buta hanya untuk meluapkan semua pedihnya, maka sabarlah mendengarnya menangis agar hatinya merasa legah. kesembilan, berilah kepercayaan, dan sesekali berucaplah bila kau sedang cemburu. kesepuluh, dan apa bila dia berkata, "Mati mohon mati dong mati" maka jangan menganggap itu serius, sebab kalian akan semakin lebih baik.
Kesebelas, ia tak pernah meminta apa-apa padamu, tetapi saat ia membutuhkan sesuatu tolong berikan semuanya yang kamu punya. dua belas jagalah ia seperti kau menjaga dirimu, dan berilah pujian saat ia menunjukkan suara indahnya. dan terakhir, ia suka menulis maka berilah ia dukungan.
Kelak bila sakitnya kambuh, datanglah tepat waktu di rumah sakit, lalu berdirilah disampingnya agar ia merasa tenang atau berdirilah di depan pintu ruangannya. Jangan mengekangnya, berikanlah ia kebebasan. Jangan membentaknya, jawablah ia dengan lembut. sebab, karenanya, kau akan merasakan seutuh-utuhnya mencintai dan dicintai.
Dan yang paling penting, tetaplah memperjuangkannya, meski ia terus saja menolakmu. Dan temuilah orangtuanya secepatnya, sebab ia tengah menunggumu.
Pengisi Suara : Tuan
Penulis : Tuan
Eps 10 - Di Kota ini
Di kota ini, pada awalnya kita hanya sama-sama saling menggantungkan nasib, untuk sebuah kehidupan yang kita percayai akan lebih baik dari kota kelahiran kita.
Bekerja dari pagi hingga menjelang pagi lagi, bergelut dengan kesibukan. Bersua dengan puluhan hingga ratusan manusia setiap harinya, menjadi bagian dari perjalanan kita menempuh harap.
Hingga pada akhirnya, Tuhan mulai menjalankan takdir yang telah ia tulis untuk kita. tentang pertemuan dan perkenalan. saling memberi energi pengharapan, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh.
Waktu berlalu, nasib terus di adu di kota yang kecil ini. sedikit keras dengan banyaknya dominasi manusia-manusia hebat lainnya. Padamu, apa yang kusebut sebagai cinta tak lebih tegar dari setetes embun yang berhastrat meretaki bebatuan, tak lebih khusyuk dari doa-doa yang kuisyaratkan dalam munajat-munajat hening pengharapan.
Dan oleh sebab kita manusia, hati kita bereaksi untuk saling menerima, berharap jatuh cinta hingga Tuhan Meridhoi semua proses ini dan berbuah akad di hadapan penghulu.
Tapi ternyata kenyataan berbeda, sumpah bersama yang terucap justru berbuah kepahitan. patah hati, juga tangis mewarnai perjalan hidup kita di kota ini.
Pada akhirnya kau memilih pergi meninggalkan kota ini, bersama dengan ku yang juga pada akhirnya seperti kehilangan harapan tentang masa depan indah yang sudah terancang dalam kepalaku sejak kikuk jumpa pertamamu denganku.
Ternyata, kita manusia hanya bisa berencana. melibatkan Tuhan di dalamnya, sembari berharap semestanya merestui. rupanya, kita gagal saling menguatkan hati, dalam perjuangan menempuh harap dan duri penghidupan.
Pada akhirnya, ternyata kau hanyalah singgah yang tak dapat ku sanggah.
Pengisi Suara: Tuan
Penulis: Tuan
Eps 09 - Perempuan Ku
Apa kabar? Ku harap baik-baik saja.
Aku juga, sama baik.
Sekarang kamu sama siapa? Pacar? Mantan? gebetan? Atau sama suamimu?
Aku sedang duduk di halaman rumah, menikmati sebatang rokok ditemani secangkir kopi hitam hangat. Yang kelak diseduhkan tanganmu.
Perempuan ku, berdamaikan kau dengan Tuhan? Atau masih mencari alasan dan waktu yang tepat untuk berdamai?
Aku pun sama, masih mencoba dan terus berusaha.
Adakah baik agamamu atau belum, aku tak mengapa. Bila kelak saat bertemu, kita belum baik, mari belajar bersama.
Aku percaya, setiap manusia punya celah untuk salah. Jadi jangan malu, kita saling memperbaiki.
Perempuan ku, masih kah kau menjaga sucimu? Atau pernah ternoda? Halal haram hubungan lalumu, jelas bukan hak ku untuk tahu itu.
Hanya saja, bila kesucian gagal kau jaga, sangat tak apa. Selama kau mampu mencintai ku seutuhnya, sungguh tak apa.
Tiap manusia memiliki titik tersalah, di dalam hidupnya. Aku juga, kamu juga.
Harusnya cinta mampu menerima bukan? Dan aku yakin, hati tak ada bekasnya, selalu murni, tak terpengaruh hal-hal ragawi.
Sebagai laki-laki, tentu aku ingin utuhmu lahir batin. Tapi aku sadar, aku pun tak utuh, tak sebaik itu.
Dan sebagai manusia, aku ingin diterima selapang aku menerima. Mencintai seikhlas aku mencintai.
Perempuan ku, adakah aku pantas untukmu atau tidak? Aku tak pernah tahu.
Banyak lubang yang ku lalui saat mencarimu, banyak luka yang ku dapati saat menujumu.
Kini, aku tengah membenahi, menempuh perjalanan menghapus luka, dan memantaskan diri untuk bisa kau miliki.
Adakah kau sama dengan ku? Ku harap tidak, pun jika memang kamu juga tengah menempuh perjalanan yang sama, tak apa.
Semoga kau menemukan tujuan mu. Dan bila waktunya tiba, aku ingin kita saling menyembuhkan dan mengubur dalam-dalam semua hal pahit yang sudah kita dapati dalam perjalanan untuk saling menemukan.
Semoga tepat waktu.
Pengisi suara : Tuan
Penulis: Tuan
Eps 14 - Setelah Seberjuang Itu
Melelahkan yah, berjuang seorang diri.
Kita pernah seberjuang itu, untuk seseorang yang kita sebut cinta. Memberikan segala hal yang kita punya. Tak terhitung rasanya. Tapi jangan sesali, setidaknya kita telah berjuang hebat.
Rasanya melelahkan, peduli pada orang yang bahkan tak pernah mau tahu tentangmu
Rasanya menyakitkan, berjuang untuk seseorang yang bahkan tak pernah menganggapmu ada
Rasanya menyesakkan, menyayangi seseorang yang bahkan hatinya tidak pernah untukmu
Rasanya menyebalkan, selalu ada untuk seseorang yang bahkan acuh padamu
Rasanya menyedihkan, selalu berusaha menjadi pelangi untuk seseorang yang bahkan buta warna.
Dan lalu, rela itu akhirnya berlari-lari kuat, membiarkan tubuh terpukul sakit menabrak rintangan. Jatuh-jatuh berkali-kali tersandung batu-batu, tapi bangkit lagi lalu lari lagi. Kuat-kuat lagi. Terpukul lagi. Jatuh lagi. Lalu tiba di sana dan ternyata yang kau kejar diberikan kepada yang lain.
Tapi tenang saja, suatu saat bila waktunya telah tiba akan datang seseorang yang akan menemanimu berjuang, menerimamu selapang kau menerima, dan mencintaimu seikhlas kau mencintai.
Setiap manusia, sudah memiliki takdirnya masing-masing. Tugas kita hanya tenang, bahwa rela itu, tak mendapatkan tapi tetap tersenyum tenang, percaya tenang, ikhlas tenang. Walau kau sudah seberjuang itu.
Setelah sedihmu hari ini, akan menjadi syukur suatu saat nanti, di waktu yang tepat pada orang yang tepat.
Pengisi Suara : Tuan
Penulis: Tuan
Eps 07 - Penyair
Penyair tidak pernah benar-benar mabuk. Kecuali dalam puisinya sendiri. Kesepian juga bukan kesedihan. Jangan lupa terbangkan balon keberuntunganmu hari ini”
Perihal di antara kita, kau atau aku yang lebih dulu terbuai luka, tenggelam dalam bahagia, kita pernah menertawakannya beberapa tahun lalu.
Kehidupan memang seperti parafin tersulut sumbu. Suatu saat ada yang menangis karena perpisahan, ada yang tak bisa berkata tapi hatinya luka. Ada yang bibirnya gemetar ketika menyebut nama seseorang dalam doa panjang. Ada yang melepas dengan rela, ada yang setia menyendiri dengan kenangan hampa.
Bagiku, sair bukan hanya kumpulan kata kata. Tetapi sebuah ungkapan hati dalam jiwa yang meronta dalam kesepian. Aku memang telah jatuh hati padamu, tetapi termentalkan.
Bagaimana bisa kau jatuh hati pada kesepianku? Sedang dadamu adalah kota yang sangat ramai. Sepanjang jalan, lampu dan bunga berjejeran, betapa riuhnya para kembara yang tiba.
Barangkali, kesepianku itu seperti pohon mati yang diceritakan seorang pujangga dari pulau jauh. Atau sungai-sungai layu, seolah mataku yang basah oleh tempias hujan dari jendela kayu.
Puisi adalah pintu. Seperti cinta. Seseorang yang menulis puisi untuk cinta, membuka pintu agar yang dicinta masuk.
Aku tak pernah benar-benar jatuh cinta, kecuali pada seseorang yang matanya pernah kuceritakan padamu seperti bening kelereng. Dia sudah pergi, lama, kau tahu? Kulepas tanpa air mata.
Sama seperti pergimu, aku melihat orang orang menulis kesedihan, air mata, seolah mengenangmu terasa begitu perih.
Kehilangan selalu seperti itu, sejak dulu. Kita lahir pun orang-orang menangis haru, kemudian kita pulang dan berkabung segala pilu. Tapi hari ini aku tak ingin menangis untukmu.
Aku hanya tak tahu bagaimana menikmati semangkuk sup yang sedikit berlemak ini, pada sebuah malam minggu dari mata ku yang sembab
Pengisi Suara : Tuan
Penulis: Tuan
Eps 06- Topeng untuk Hari Esok
Di lemariku, selain berisi baju, aku juga menyimpan ratusan topeng yang tertumpuk rapi. Saling siap secara bergiliran menantiku setiap pagi, sebelum aku berangkat pergi.
Di hari apa, pada tanggal berapa dan di tahun berapa. Manusia pada akhirnya sudah boleh bepergian keluar dari kamarnya tanpa membawa turut serta topeng-topengnya. Pertanyaan itu selalu muncul setiap malam sebelum mata ini terpejam.
Dulu bapak pernah berkata.
“Nak manusia tidak hanya terlahir dengan pikiran dan perasaan. Namun juga dibelaki dengan koper besar berisi penuh topeng-topeng bayangan. Memangnya apa gunanya topeng itu pak? Tanyaku polos. “Untuk menyelamatkan sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh manusia lain” jawabnya.
Kemudian, beberapa hari ini aku benar-benar baru menelan perkataan bapak. Dalam satu suapan dan tanpa aku kunyah sedikit pun.
Satu untuk teman-temannya, satu untuk sanak saudara yang tidak sengaja bertemu di jalan. Satu untuk orang-orang asing, satu untuk bos di kantor, dan terkadang satu untuk kekasih hati.
“Lalu di mana yang asli?”
Yang asli tersimpan rapat untuk diri sendiri, dan Tuhan sesekali.
Bukankah sangat ironis? Tadinya. Hingga semua sudah menjadi kewajaaran, demi ini dan itu.
Pengisi Suara : Tuan
Penulis: Waras Hati
Eps 05 - Para Pencari Makna
Teruntuk tuan dan puan, pencari makna kehidupan. Pulanglah, pencarianmu tidak berujung. Karena hidup adalah perihal perjalan dan pencarian makna.
Setiap hari ku persiapkan sepatu kesayanganku. Lengkap dengan kaos kaki yang berwarna senada dengan baju dan celanaku. Tak lupa juga, ku bawa turut serta doa dan pesan orangtua ku di dalam ransel sebagai bekal agar aku tidak kelaparan di tengah jalan.
Karena hidup adalah perihal perjalanan dan pencarian makna. Oleh karena itu aku berjalan dan mencari. Dari cinta satu ke cinta lainnya, dari ragu satu ke ragu lainnya, dari mimpi satu ke mimpi lainnya, dari luka satu ke luka lainnya, dari gagal satu ke gagal lainnya, dari bangkit satu ke bangkit lainnya, dari cerita hari ini ke cerita hari berikutnya. Berharap menemukan. Berharap ditemukan.
Kabar baiknya, beberapa masih mencari. Beberapa ada yang sudah menemukan. Bahkan beberapa yang sudah menemukan, sudah merasakan kehilangan. Kabar buruknya, beberapa yang sudah merasakan kehilangan, memutuskan untuk melakukan pencarian lagi dan menempuh perjalanan lagi.
Lantas, di mana ujung perjalanan dan pencarian ini?
Jangan tanyakan pertanyaan itu kepadaku. Karena aku hanyalah korban dari perjalanan dan pencarian makna hidup yang tak pernah benar-benar disepakati garis akhirnya.
Ya sudah. Kalau begitu, lanjutkan perjalanan dan pencarianmu. Tapi yang perlu kamu ingat, ingat baik-baik jalan pulang.
Pengisi Suara : Tuan
Penulis : Waras Hati
From the publisher's feed