Pukul satu pagi, dengan mata yang terbuka dan tangan yang belum kehilangan daya, aku menuliskan ini. Tahun ini kau menapaki usia ke-tiga puluh satu. Ini tahun kelima aku ikut merayakannya, hari lahirmu. Tahun kelima sejak imaji tentang laki-laki idaman di kepala terwujud senyata-nyatanya. Tahun kelima sejak aku dengan sukarela kehilangan kewarasan, menyerahkan logika yang berupaya keras menjejakkan kerasionalan di atas perasaan-perasaan yang membuatku kewalahan. Sebab, aku pernah bilang pada Tuhan, bila jatah senangku di Bumi bisa dikurangi untuk menambah jatah senangmu, maka aku rela Tuhan mengambilnya dan memberinya untukmu. Ini tidak kulakukan pada manusia lain.
Menyebutmu istimewa sudah tak kuhitung lagi. Jika ada kata ganti yang lebih baik dari itu, maka aku akan telah memakainya sejak hari-hari lalu. Agustus kemarin aku menonton Sore dan aku ikut berandai jika harus mengulang kehidupan sampai sepuluh ribu kali, aku masih mau kita bertemu, masih mau kehidupanku diisi olehmu. Tentu saja aku tak mengharapkan kisah yang sama. Jika boleh meminta, aku ingin kita sama-sama dilahirkan kembali sebagai pohon. Kita akan tumbuh bersama-sama menghadapi segala cuaca. Lalu, kita akan menghitung hari menanti siapa di antara kita yang lebih dulu mati. Entah karena tersambar petir, terbakar matahari ataupun api. Dengan kukuh kita tumbuh menjadi teduh untuk makhluk lain, juga tempat pulang tupai-tupai atau burung-burung.
Sekarang aku nyalakan lilinnya, lalu kau tiup segera, ya? Senantiasalah mengingat, bahwa akan selalu ada amin-aminku yang bergemuruh menyertai seluruh doamu. Sebab, dalam setiap terkabulnya doamu, akan selalu ada senangku yang turut merayakannya. Dalam senang yang kau rayakan itu, akan selalu ada aku yang ingin Tuhan lipat gandakan senangmu. Supaya kau mudah terlelap dengan nyaman tanpa mimpi buruk yang membangunkan. Supaya kau mampu menangis keras-keras kala kepalamu sedang kewalahan. Supaya kau mampu tertawa sampai rahangmu pegal-pegal setiap kali Tuhan memberimu penghiburan.
Denganmu, hidup memang tak begitu saja menjadi lebih mudah, tapi tidak denganmu, aku tahu betul akan terasa lebih berat. Aku sudah tak takut lagi untuk merasakan takut. Sebab, Tuhan hadirkan kamu setiap kali aku merasa kalut. Aku mau terus hidup. Sebab, kehidupan yang diisi olehmu ternyata semenyenangkan ini. Aku tak mau menukarnya dengan apa pun. Kini, doa-doa telah kusauhkan, supaya setinggi apa pun kau terbang, kau akan selalu mengingat ada Bumi yang harus senantiasa kau tapak; ada aku yang peluknya siap melekap.
Tertanda,
Runindaru, satu jiwa yang telah kau selamatkan lima tahun lalu dan memilih mencintaimu sampai nanti tak terselamatkan lagi.