Tulisan Votavato

Tulisan Votavato

By Anisa RahmaArtsBooks
Download on the App Store

Tulisan Votavato episodes

  • Cerita fiksi: Catatan Psikopat #Predator - Bag. 26. Balas Dendam #Alurcerita Thriller 18+
    Saat aku sedang berada di luar rumah, aku selalu mendapati pandangan meremehkan dari orang-orang yang tinggal di sekitar rumahku. Padahal, aku sama sekali tidak pernah memiliki masalah dengan mereka.
    Beberapa diantara mereka, kadang juga sampai membicarakanku dibelakang. Bahkan sampai telingaku pun dapat mendengarnya. Seolah mereka sengaja melakukannya.
    Sampai pada suatu malam, rasa kesal yang terus menumpuk dan bersarang dalam kepalaku itu mencapai batasannya. Aku kembali teringat dengan semua ucapan buruk mereka kepadaku.
    Saat itu di rumah salah satu dari mereka sedang diadakan sebuah acara seperti pesta. Aku menggunakan kesempatan itu untuk menyelinap ke rumah. Semua orang sibuk dengan dirinya masing-masing. Aku lalu mencari wajah-wajah dari mereka yang suka sekali berkomentar buruk terhadapku maupun orang lain.
    Saat itu aku menemukannya sedang berkumpul bersama. Pas sekali.
    Aku lalu membuat gerakan tanpa sengaja agar bisa menyentuh tubuh mereka sekaligus. Tersisa satu yang belum sempat kusentuh, aku kemudian dengan gerakan tak kentara kembali bergerak untuk bisa menyentuhnya juga. Hingga akhirnya, semua orang dalam kelompok itu tersentuh olehku. Beberapa saat kemudian, aku mulai membuat mereka masuk ke dalam sugestiku. Meminta mereka untuk masuk ke dalam gudang yang ada di belakang.
    Aku membuat mereka untuk mengikuti satu-satu agar tidak membuat orang-orang menatap curiga.
    Setelah mereka semua sudah masuk ke dalam gudang. Aku lalu mengunci pintunya. Jumlah mereka tak begitu banyak, sekitar delapan orang. Dan semuanya adalah orang dewasa. 5 wanita dan 3 pria.
    Aku lalu mengambil satu bongkahan kayu yang memiliki beberapa paku yang menancap di sekelilingnya. Entah itu bekas apa aku tidak peduli.
    Kemudian, kuarahkan pada masing-masing mulut mereka dengan memukulnya cukup keras sampai membuat tubuh mereka terjengkal ke belakang. Mulut dan wajah mereka robek seketika. Dan aku terkekeh melihat darah mengalir perlahan di wajah mereka.
    Tidak berhenti sampai di situ. Aku lalu memasukan ujung kayu ke mulut mereka hingga setengah masuk dan menariknya kembali dengan paksa. Karyaku pada wajahnya semakin kelihatan. Dengan adil kulakukan juga hal serupa pada yang lainnya. Setelah itu, aku mengambil satu kapak yang sudah berkarat.
    Dengan santai kulayangkan kapak itu sembarang ke kaki-kaki mereka hingga terlepas seketika. Kemudian disusul dengan jari tangan mereka sekaligus. Kupastikan juga mereka tak dapat mengeluarkan suara selain rintihan yang membuat sakit.
    Setelah puas menghancurkan tubuh mereka, barulah kemudian aku mengembalikan kesadaran mereka. Detik itu juga, suara rintih tangis yang bercampur dengan rasa sakit, mengalun indah masuk ke telingaku. Kuharap, setelah ini, takkan ada lagi suara brengsek yang sering terdengar di belakang kepalaku.
    4 min
  • Cerita fiksi: Miror Short - Bag. 19. Koper Misterius #Alurcerita Mystery Horror
    Aku membuka mataku yang masih mengantuk. Menoleh pada ponselku yang bergetar di atas meja. Dengan perlahan aku meraihnya dan mendapati dengan adanya pesan spam yang sama sekali tidak penting.
    Aku kemudian meletakan kembali ponselku dan kembali melanjutkan tidurku. Ponselku juga kuganti dengan mode diam.
    Isi pesannya tadi mengatakan bahwa ayahku sudah berada di dalam koper di luar pintu. Tentu saja itu pesan yang sama sekali tak masuk akal.
    Ayahku bahkan sudah meninggal sejak 5 tahun yang lalu.
    Besok paginya, aku mendapatkan pesan lagi dari nomor yang sama. Ia mengatakan bahwa yang berikutnya adalah ibuku.
    Astaga, ayah dan ibuku saja sudah bercerai sejak aku masih sangat kecil. Bahkan wajah ibuku saja aku tak pernah tahu, meski dalam foto sekalipun karena ayah tak pernah menyimpan atau menunjukan apapun tentang ibuku.
    Aku kembali mengabaikan pesan itu dan pergi mandi. Selesai mandi dan mengenakan seragam, aku keluar kamar dan menuju dapur. Saat aku membuka kulkas, aku seperti mencium adanya aroma busuk. Tapi, ketika aku dekatkan hidungku satu persatu pada toples yang ada di kulkas, tak ada satupun yang berbau busuk.
    Aku pun mulai berspekulasi bahwa Choram pasti habis membunuh seekor tikus.
    Karena sudah tak sempat lagi untuk mengecek, aku akhirnya hanya membawa setangkup roti dan sekotak susu untuk dimakan dalam perjalanan pergi ke sekolah.
    Begitu aku membuka pintu, aku terhenyak dengan adanya dua koper serta bau busuk yang begitu menyengat. sesaat kemudian, aku jadi teringat dengan isi pesan dari nomor tak dikenal itu.
    Dengan menutup hidung, aku perlahan mencoba untuk memeriksa isinya. Aku harap itu tidak seperti yang ada dalam pikiranku.
    Namun, nyatanya saat kubuka pada salah satu kopernya.
    Dua tengkorak kepala dengan satu badan utuh teronggok di dalamnya.
    3 min
  • Selamat Malam, Hai Introvert
    Bisa didengar dan ditonton juga lewat channel youtube aku Tulisan Votavato. Harap untuk tidak menyalin, menjiplak, atau memgembangkan karya ini tanpa izin. Terima kasih.
    5 min

About Tulisan Votavato

From the publisher's feed

Karena, anak introvert juga punya cerita untuk minta didengar