
Sign up to save your podcasts
Or


Media sosial digunakan oleh hampir seluruh penduduk bumi. Begitupun di Indonesia. Konon, dalam sehari setidaknya 3,5 jam dihabiskan oleh setiap pengguna media sosial di tanah air.
Maka tak heran apabila media sosial dijadikan ajang utama dalam berbagai upaya merebut perhatian publik untuk berbagai keperluan. Mulai dari politik, pemasaran, atau sekadar panjat sosial dari kelompok orang maupun individu.
Akibatnya, media sosial menjadi sangat bising. Maunya mencari inspirasi, tapi kita jadi gampang sekali terintimidasi oleh konten yang kita lihat dan perasaan-perasaan aneh yang ditimbulkannya. Informasi melimpah. Tapi banyak sampah. Kita jadi mudah sekali terpapar dan terlibat secara emosional oleh hal-hal yang sebenarnya bukan urusan kita.
Gejala apa ini? Bagaimana caranya agar kita bisa tetap waras?
Bersama Ika Karlina Idris, Associate Professor di Monash University, kita berbincang.
Saya termasuk yang merasa bank syariah dan konvensional itu sama saja. Sama-sama kalau kita nabung dapat lebih, kalau pinjam harus bayar lebih. Bedanya di konvensional istilahnya lebih sederhana: bunga. Sementara di bank syariah pakai istilah-istilah dalam bahasa Arab, yang kebanyakan orang tidak hafal dan iya-iya saja biar tidak ribet dan diceramahi dengan dalil-dalil.
Perbincangan dengan Ahmad Ifham ini menjadi semacam klarifikasi langsung dengan ahlinya, yang selama ini sangat getol mempromosikan Bank Syariah. Sebagai praktisi Bank Syariah sekaligus penulis banyak buku tentang perbankan syariah, bisakan sudut pandang yang disampaikan oleh Ifham mengubah pandangan tentang syariah dan konvensional yang (tadinya saya merasa) aslinya sama saja? Atau malah sebaliknya.
Lulus kuliah paling cepat bukan karena paling pintar, tapi karena merasa "tersiksa" dengan sistem pembelajaran yang dirasanya tidak menarik, Dwi Purnomo kembali ke kampus dan berusaha membuktikan bahwa pendidikan itu bisa dilakukan dengan cara lebih bermakna. Sehingga lulusannya mampu menjadi outcome, bukan hanya output.
Sejak sepuluh tahun lalu ia membangun The Local Enabler (TLE), yang bukan hanya sebagai sebuah komunitas tapi ekosistem, menampung ide-ide kreatif dari mahasiswa yang sering "diremehkan" di kampus tapi justru berdampak besar di berbagai kelompok masyarakat lokal. Organisasi TLE juga sangat dinamis dengan anak-anak muda yang mengisinya. Menjelma menjadi ekosistem yang sangat produktif dan menyenangkan. Membuat bekerja riang gembira dan produktif itu bukan hanya mitos.
Bagaimana perjalanannya? Yuk simak.
Setiap orang senang menerima ucapan terima kasih, tapi ternyata banyak yang sulit sekali mengucapkan kata itu untuk orang lain. Kenapa sih bersikap sedikit manis saja susah? Gimana cara memperbaikinya?
Begitu banyak orang yang merasa dirinya perlu keluar dari zona nyaman.
Tapi kalau diterjemahkan mentah-mentah maknanya malah jadi absurd. Karena sesungguhnya setiap orang mencari kenyamanan.
Kalau ada orang yang bilang ia mau keluar dari zona nyaman yang sekarang, itu artinya: ia sedang ingin mencari atau menuju ke kenyamanan yang baru. Artinya, dia tetap mengejar kenyamanan kok; bukan mencari ketidaknyamanan.
From the publisher's feed