
Sign up to save your podcasts
Or


Namanya juga bercanda, kita sering kali menganggap enteng hal tersebut. Padahal, dampaknya bisa jadi nggak seenteng ketawanya. Apalagi kalau itu dilakukan di ruang publik yang kadang dikira privat dan tidak serius: media sosial. Hanya karena bisa dilakukan sendirian sambil gegoleran di kasur.
Inilah pentingya literasi digital. Bukan hanya soal bercandaan yang sama sekali jadi tidak asik dan bisa jadi masalah. Masih banyak persoalan lain terkait mahir dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi dan media digital.
Kali ini kita bicara dengan @mirasahid, seorang bloger (jangan kira bloger sudah tidak ada ya), pegiat literasi digital, sekaligus ibu tunggal dari dua orang anak yang sering mendapati betapa tingkat pendidikan dan latar belakang kadang belum berbanding lurus dengan kecakapan digital (misalnya ber-medsos) yang juga perlu etika dan empati agar tidak asal lucu atau jago ita-itu.
Sebagian orang mungkin masih bertanya-tanya, mungkin tidak sih bagi orang yang bekerja di sektor sosial bisa mencukupi kehidupannya dari pekerjaannya itu?
Nah, di sini jawabannya memang masih agak belum pasti. Apalagi gerakan sosial yang secara organik tumbuh bukan sebagai bisnis atau disokong oleh bisnis besar di belakangnya. Seperti gerakan sosial yang dirintis oleh Panji Aziz sejak 8 tahun lalu ini.
Lalu, bagaimana ia dan teman-temannya bisa bertahan bahkan gerakannya semakin membesar?
Saya sangat ingin belajar darinya soal ini. Yuk simak.
Saya sangat percaya, literasi politik sangat penting. Agar politik yang selama kita hidup sebagai makhluk sosial tidak mungkin bisa lepas darinya, menjadi sesuatu yang asik dan mencerdaskan. Bukan menguras energi percuma karena kebanyakan toxic.
Kita rindu wacara dibalas wacana, gagasan dibalas gagasan, bukan nge-gas dibalas nge-gas. Caci dibalas caci.
Memang bisa ya seperti itu? Ada yang bilang, “Ah utopis! Ya sudah politik memang seperti ini kenyataannya, terima saja. Ambil yang bisa diambil sebagai keuntungan. Kalau gak suka, jauhi”.
Kali ini kita berbincang dengan Fahd Pahdepie. Saya mengenalnya pertama kali bukan sebagai politisi, melainkan penulis dan pebisnis. Tapi ia mengaku berpolitik sudah sejak lama. Menurutnya, politik seharusnya bukan hanya soal dukung mendukung, tapi memperjuangkan nilai dan gagasan. Dan kita tidak boleh menyerah dengan kondisi politik yang banal. Masih ada harapan, meskipun itu berarti kerja dengan tantangan yang besar, juga cemoohan kanan kiri. Tapi ya sudah, yang penting jalan saja.
Utopis kah Fahd? Mungkin. Tapi saya lihat apa saja yang dilakukannya selama ini cukup konkret. Bukan sekedar cerita. Meskipun dia mengaku pekerjaan utamanya sebenarnya adalah seorang story teller.
Kalau ada kata yang paling sering muncul dalam berbagai meeting, pidato, atau jargon-jargon, mungkin salah satunya adalah ini: KOLABORASI.
Siapa yang menyangkal kalau kolaborasi makin penting sekarang. Kata ini juga terdengar manis dan mudah sekali diucapkan.
Tapi… menjalankannya tidak semanis dan mudah itu.
Ego pribadi, kelompok, organisasi, hingga sektoral membuat kolaborasi seperti hanya di awang-awang dan tinggal kata-kata manis belaka.
Tapi masa sih kolaborasi jadi serepot itu dan susah dilakukan? Ada gak sih kolaborasi yang bener-bener jalan? Kali ini kita bincang-bincang dengan Taufan Teguh Akbari, akademisi, pencetus Hari Komunitas Nasional, pendiri komunitas Rumah Millenials, dan banyak aktivitas lainnya lagi.
Pindah kerjaan dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain, rasanya sudah semakin biasa. Bahkan generasi sekarang menganggap dua tahun bekerja di satu tempat itu sudah cukup lama.
Saya juga punya teman yang pindah kerjaan. Tapi sudah tidak muda (-muda amat) lagi. Tapi yang kedua, pindahnya sangat banting setir (bahkan buang setir).
Jadi, pekerjaan sebelumnya adalah seorang bankir. Karir itu dijalaninya sejak lulus kuliah, sampai 7 tahun. Berpindah ke beberapa bank mulai dari BUMN, nasional, hingga Bank milik Daerah. Ia mengakselerasi karirnya dengan baik hingga ia menduduki Kepala Cabang Khusus Jakarta dengan dua ratus karyawan di bawahnya plus fasilitas kelas satu.
Tapi 2013, saat berusia 33 tahun, ia buang setir. Mengejar cita-citanya masa kecil: menjadi PILOT. Resign-lah ia dari Bank dan mendaftar lagi ke sekolah penerbang, kemudian menjadi pilot komersial.
Namanya @ekorohmat, dia teman SMA saya saat di Malang. Sama-sama dari daerah yang ingin sekolah ke kota yang lebih besar, kami sama-sama anak dari keluarga kebanyakan. Di Malang, saya tinggal dengan numpang di rumah Bu Dhe; Eko sambil mondok di pesantren di dekat Pasar Besar, Malang.
Dalam pergaulan ABG jaman itu, kami bahkan tidak memiliki fasilitas berupa barang-barang yang bisa dibanggakan. Tapi masa itu tetap menjadi masa-masa yang menyenangkan.
Selengkapnya tentang kok bisa orang berpindah karir/pekerjaan di usia yang tidak lagi muda (apalagi bidang pekerjaannya cukup jauh), apa yang melatarinya dan motivasi kuat dibaliknya, yuk simak di sini.
Dibesarkan dalam tradisi keraton yang kuat sebagai anak Raja, sekolah sampai tinggi di Barat, pernah bekerja di perusahaan IT di ibu kota yang rock & roll, sejak 2012 ia menjadi Penghageng Tepas Tandha Yekti, Kepala Divisi IT dan Dokumentasi @kratonjogja.
Selama ini setiap ada yang masih menyoal emansipasi dan diskriminasi terhadap perempuan di negeri ini, saya anteng2 saja. Karena saya pikir, masak sih masih sebegitunya soal emansipasi dan diskriminasi terhadap perempuan? Jaman sudah modern gini.
Kadag malah saya berpikir usil saat kebanyakan orang membahas emansipasi perempuan. Jangan-jangan orang-orang itu sedang melupakan perlunya juga pembahasan tentang emansipasi terhadap laki-laki (nah kan, bisa dianggap nantang berantem kalau ini benar-benar dilontarkan. Hehe)
Ternyata saya perlu mengoreksi pandangan saya tentang diskriminasi pada perempuan, setidaknya setelah perbincangan dengan GKR Hayu ini.
Memangnya seperti apa sih pandangan "Anak Sultan” beneran ini tentang isu tersebut? Kok bisa ia berpikir diskriminasi terhadap perempuan itu masih perlu diangkat dan diluruskan? Karena bahkan untuk yang mengaku tidak diskriminatif pun jangan-jangan juga diskriminatif dalam hal-hal yang terkesan kecil dan sederhana dalam keseharian.
Yuk ikuti perbincangannya.
Setiap ia berkomentar di media, ada yang bersorak-sorai mendukung, lalu ramai-ramai menyebarkannya di media sosial dan grup-grup percakapan. Tapi ada juga yang tersenyum getir, atau malah membencinya. Itulah risiko ketika memberikan pendapat politik. Apalagi di tengah masyarakat yang membicarakan politik dengan hati (alias pakai persaan banget) sehingga menimbulkan cinta yang berlebihan dan benci keterlaluan.
Bagaimana Hendri Satrio melihatnya?
Saya mengenal lama mas Hendri karena senior sealmamater. Unit Kegiatan Mahasiswa di mana saya pernah aktif di dalamnya pun, didirikan oleh ia dan teman-teman seangkatannya. Tapi melalui obrolan kali ini saya merasa baru kenal lagi, karena ternyata banyak yang baru saya ketahui darinya. MIsalnya tentang ia yang memulai karir bekerjanya di hotel lalu sales makanan anjing dan kucing, sebelum malang melintang sebagai profesional bidang komunikasi di berbagai perusahaan nasional maupun multinasional. Dari semuanya saya belajar lagi: memanfaatkan momentum itu sangat perlu. Dan ini berguna baik untuk karir politik maupun di semua bidang kehidupan.
Episode kali ini perlu disimak oleh yang muda maupun yang tua. Buat si belia yang bekerja dengan yang lebih senior, apa yang disampaikan Della Aniswara ini bisa jadi mewakili perasaan kalian.
Sementara buat si orang agak tua (seperti saya) yang bekerja dengan mereka yang belia, mendengarkan ini seharusnya membuat kita ikutan “lebih muda" dan siap berlari kencang bersama mereka.
Kolaborasi/kerja bareng antar generasi ini seharusnya bisa menghasilkan letupan-letupan yang seru dan lebih powerful. Juga lebih sanggup menyambut tantangan-tantangan jaman, apapun bidangnya.
Dari episode ini, saya belajar soal nilai-nilai yang mereka pegang, suasana kerja yang mereka inginkan, sampai soal kebiasaan menghutang yang ternyata banyak terjadi di antara mereka (kok bisa ya?).
From the publisher's feed