Malas sholat tidak hanya menjakiti anak-anak maupun anak remaja. Seringkali menjangkiti kita yang usianya menjelang setengah abad. Sepertinya ini adalah penyakit yang paling umum dirasakan oleh yang mengaku muslim. Kenapa, ya?
Sholat itu apa? Kita sudah banyak mendengar penjelasan para ulama tentang sholat. Sholat adalah ibadah yang bukan hanya diperintahkan pada umat Muhammad SAW melainkan sudah diperintahkan pada nabi dan rasul sebelumnya. Tercatat di ayat 125 surat Al-Baqarah bahkan nabi Ibrahim as sudah diperintahkan sholat. Sholat diartikan doa tapi kita semua mengetahui bahwa sholat adalah miniatur semua ibadah yang harus dilakukan secara rutin setiap harinya.
Mengapa kita malas sholat? Sudah banyak ulama yang memaparkan alasan-asalan mengapa kita malas sholat. Antara lain menurut mereka itu karena kita banyak dosa, tidak memahami maksud dan tujuan. Bahkan banyak ulama yang memperbolehkan anak usia 10 tahun untuk dipukul jika tidak sholat. Padahal kemalasan tentu berawal dari ketidakpahaman. Menanamkan pemahaman pada anak tentu lebih sulit daripada sekadar mengancam dan menghukum. Tapi kelak ketika dewasa, dia akan dengan mudahnya meninggalkan sholat ketika tidak ada orangtua di dekatnya. Sungguh sia-sia mendidik anak dengan kekerasan dan ancaman.
Apa manfaat sholat? Banyak orang meneliti manfaat sholat tapi dari sisi luar sholat itu sendiri. Sholat dianggap memberikan manfaat bisa mendisiplinkan hidup seseorang, membuat seseorang menjadi lebih sehat jiwa dan raga termasuk tentunya mendapatkan pahala. Banyak juga yang bilang sholat bisa mencegah perbuatan keji dan munkar padahal kita tahu banyak orang yang sholat tapi tetap melakukan perbuatan buruk. Jadi yang salah ayat-Nya atau orang yang melakukan sholatnya? Tentu saja orang yang melakukan sholat yang salah. Manfaat sholat tidak mungkin bisa diraih tanpa memahami sholat secara keseluruhan.
Sholat adalah konsekuensi keimanan dengan yang gaib. Allah SWT sudah mengajarkan kita korelasi antara menegakkan sholat dengan keimanan dengan yang gaib di ayat 3 surat Al-Baqarah. Kita telah paham bahwa tidaklah mungkin seseorang bisa memasuki gerbang ketakwaan jika tidak mengimani kegaiban. Apa ciri kita sudah mengimani kegaiban? Iya, kita menegakkan sholat. Jadi sebetulnya hal yang harus kita pahami sebelum kita menegakkan sholat adalah mengimani kegaiban. Seseorang yang tidak paham apa itu kegaiban dan tidak mengimaninya tentu tidak memiliki motivasi untuk menegakkan sholat. Bagaimana caranya kita mengimani kegaiban? Silakan tonton video-video sebelumnya dari alquraanvisual.
Apakah sekadar sholat itu cukup? Tentu tidak. Sholat sendiri tidak pernah dibilang hanya sholat saja melainkan selalu dikaitkan dengan kata ‘menegakkan’. Seruan dan perintah sholat dalam Al-Quran selalu dalam frasa ‘menegakkan sholat’. Mengapa begitu? Karena sholat itu bukan sekadar sholat saja. Sholat berkaitan dengan rukun-rukun sholat termasuk tentunya kekhusyuan dalam sholat. Jika selama ini kita sekadar mengerjakan sholat maka wajar jika sholat kita tidak membawa kita ke arah yang lebih baik. Kualitas sholat seseorang akan berbanding lurus dengan kualitas hidupnya.