alquraanvisual

alquraanvisual

By alquraanvisualReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

alquraanvisual episodes

  • Apa itu Ad-Diin? | DEFINISI | AlQuraan Visual

    Apa itu Ad-Diin? Kali kita akan membahas tentang Ad-Diin. Mungkin kebanyakan kita masih merasa asing dengan istilah ini. Padahal Islam bukanlah agama melainkan ad-diin. Jadi apa itu ad-diin?
    Tapi adakalanya kata ‘ad-diin’ malah diartikan pembalasan bukan agama. Lah. Jadi bagaimana? Apakah terjadi kesalahan penerjemahan? Dalam Al-Quran sepertiga penggunaan kata ini diartikan pembalasan. Kita harus memahami memang dalam penerjemahan para penerjemah seringkali mengubah makna yang dianggap lebih pas dalam satu ayat tertentu. Ini bukanlah sebuah kesalahan tapi seringkali mengecohkan kita dan membuat kita sulit memahami makna sebenarnya dari suatu kata.
    Ada 4 makna ad-diin yang tertera pada sebuah laman di al-hikmah.ac. Pada laman ini disebutkan makna ad-diin adalah 1 kekuasaan, 2 tunduk pada kekuasaan itu, 3 undang-undang yang bersumber kekuasaan itu, 4 balasan bagi yang taat dan tidak. Darimana mereka bisa menyimpulkan hal ini? Dari interpretasi atas penggunaan kata ad-diin pada ayat tertentu. Pemaknaan ini tentu sah saja tapi marilah kita lanjutkan pengkajian ini agar bisa mendapatkan makna kata ini yang lebih pas.
    Perbedaan antara ad-diin dan millah. Mengapa kita membandingkan kata ad-diin dengan kata millah? Tentu karena keduanya memang maknanya sepadan yaitu ‘agama’ tapi tak sama. Kata ‘milllah’ dalam Al-Quran dikaitkan dengan tiga hal, Ibrahim as, Yahudi dan Nasrani. Sedangkan kata ‘ad-diin’ dikaitkan dengan ‘Islam’. Millah adalah bagian dari ad-diin dan hanya ada satu millah yang dianggap hanif oleh Allah SWT yaitu millah Ibrahim as. Penggunaan kata ‘millah’ terkait Yahudi dan Nasrani dalam Al-Quran menjadikan posisi keduanya tidak setara derajatnya dengan Islam.
    Mengapa kata ‘ad-diin’ dalam surat Al-Fatihah diartikan menjadi ‘pembalasan’? Salah satu laman dari al-tsaqafaf.id membahas tentang hal ini. Imam Malik berpendapat perubahan makna dalam bahasa Arab terjadi karena pengaruh letak kata dalam kalimat. Sehingga kata ad-diin yang asal katanya diartikan tunduk dan berpegang bisa dimaknai menjadi pembalasan. Makna ini tidak terlalu berbeda dari yang telah dipaparkan di empat makna Ad-diin sebelumnya.

    6 min
  • Kehidupan Ini Tidak Gratis | Rangkuman Buku Perjalanan Menapaki Al-Quran | AlQuraanVisual

    Kehidupan Ini Tidak Gratis—Rangkuman Buku Perjalanan Menapaki Al-Quran
    Ini adalah kesimpulan yang kita raih dari memahami surat Al-Fatihah ayat 4 dan 5. Wow, benarkah? Mari kita telusuri bersama alur logika yang dipaparkan Allah SWT di ayat 4 dan 5 surat Al-Fatihah ini.
    Di dunia ini tidak ada yang gratis? Iya. Tidak ada yang gratis di dunia. Semuanya harus dibayar jika tidak dengan uang kita harus membayarnya dengan tubuh, tenaga ataupun pengabdian. Justru yang gratis adalah oksigen, sinar matahari, air hujan dan segala hal yang kita rasakan dari alam.
    Tapi apakah menurut Allah SWT kehidupan ini gratis? Kebanyakan manusia merasa Tuhan tidak menuntut apapun dengan kehidupan ini karena Dia tidak muncul di dunia. Tapi benarkah menurut Allah SWT kehidupan ini gratis? Jika gratis mengapa harus ada hari pembalasan seperti yang tertera di ayat 4 surat Al-Fatihah?
    Fakta yang dipaparkan di ayat 4. Fungsi Allah SWT sebagai malik. Apa itu malik? Malik adalah raja. Apa bedanya dengan fungsi Allah SWT sebagai rabb di ayat 2 surat Al-Fatihah? Rabb adalah pengatur sedangkan malik adalah penguasa. Posisi malik tentu lebih tinggi dan absolut dibanding rabb. Keabsolutan Allah SWT muncul di hari akhir, tiada penguasa selain Dia.
    Makna hari pembalasan. Hari Agama? Mengapa hari agama? Karena memang arti dari Ad-Diin adalah agama. Tapi mengapa tidak diartikan hari agama melainkan hari pembalasan? Karena tentu tidak mudah memahami makna hari agama tapi di sinilah justru rahasianya. Jika kita memahami makna agama maka sebetulnya tepat jika hari pembalasan diartikan hari agama.
    Makna Ad-diin itu apa? Sebetulnya tidak tepat diartikan agama karena agama terjemahan dari millah. Kata Ad-diin ada kaitannya dengan perjanjian, kontrak dan hutang. Hutang? Iya, salah satu bentukan dari kata Ad-diin adalah hutang. Jadi makna ad-diin adalah perjanjian melibatkan hutang yang harus ditunaikan manusia. Bukankah makna ad-diin adalah cara kita menjalankan hidup? Iya, ternyata kita berhutang pada Tuhan dan cara kita menebusnya adalah dengan menjalankan sesuai dengan tuntunan-Nya.

    4 min
  • Allah SWT Memperkenalkan Diri | Rangkuman Buku Perjalanan Menapaki Al-Quran | AlQuraanVisual

    Allah SWT Memperkenalkan DIri—Rangkuman Buku Perjalanan Menapaki Al-Quran
    Kita akan langsung membahas ayat kedua surat Al-Fatihah yang berbunyi, Alhamdulillahirabbil’alamiin. Segala pujian bagi Allah SWT Rabb segala yang diilmui.
    Apakah benar surat Al-Fatihah dimulai dari ayat kedua? Jelas selalu ada perdebatan dalam segala hal tapi kita sama-sama mengetahui ayat pertama surat Al-Fatihah, Bismillahirrahmaanirrahiim tidak hanya dimiliki oleh surat Al-Fatihah tapi dimiliki oleh setiap surat dalam Al-Quran kecuali surat At-Taubah. Kita mengambil keputusan untuk menerima bahwa surat Al-Fatihah dmulai di ayat nomer dua surat Al-Fatihah.
    Apa makna ‘alhamdu’? Kata ‘alhamdu’ seringkali diartikan segala puji dan terimakasih’ sebuah bentukan kata kerja. Padahal kata ‘alhamdu’ adalah kata benda jadi semestinya kita mengartikannya menjadi ‘segala pujian’. Apa bedanya? Perbedaan kecil ini membawa makna yang jauh berbeda. Jika kita maknai menjadi segala pujian ini berarti siapapun yang memuji sebetulnya pujian itu adalah milik Allah SWT. Sedangkan jika dimaknai ‘segala puji’ seakan kita diperintahkan memuji Allah SWT. Coba renungi lebih seksama tentang hal ini dan kita akan menemukan makna yang paling tepat memang ‘segala pujian’.
    Dua bagian ayat 2 surat Al-Fatihah. Ayat ini terbagi menjadi dua yaitu segala pujian bagi Allah SWT dan Allah SWT Rabb semesta alam. Mengapa kita membagi dua bagian ayat ini? Agar kita memahami dengan lebih detil. Iya pada ayat ini Allah SWT memperkenalkan diri-Nya pada manusia dengan menyatakan Dia-lah Rabb semesta alam. Bagaimana kita harus bersikap pada Allah SWT? Dengan menyadari bahwa segala pujian adalah milik Dia.

    5 min
  • Cara Memahami Logika Al-Quran | Rangkuman Buku Perjalanan Menapaki Al-Quran | AlQuraanVisual

    Setelah kita mempelajari cara memahami Al-Quran di episode sebelumnya, pada kesempatan ini kita akan mempelajari cara memahami logika Al-Quran.
    Apa itu logika Al-Quran? Kita telah memahami logika adalah suatu cabang dalam ilmu matematika yang berkaitan dengan pengujian pola pikir. Mengapa Al-Quran dianggap memiliki logika? Karena Al-Quran sendiri adalah suatu doktrin pola pikir langsung dari Tuhan. Mungkin agak rancu jika kita menggunakan istilah logika Al-Quran, lebih tepat jika kita menggunakan istilah pola pikir Al-Quran. Jadi bahasa lain dari memahami logika Al-Quran adalah memahami pola pikir Al-Quran.
    Apa itu logika ayat Al-Quran? Sebelum berlanjut pada pemahaman tentang pola pikir ayat Al-Quran ada baiknya kita memahami apa itu logika. SIlakan membaca literatur tentang logika. Tujuan dari memahami tentang logika adalah agar kita bisa mengenali logika ayat Al-Quran atau pola pikir ayat Al-Quran. Setiap ayat adalah sebuah pola pikir yang ditawarkan Tuhan pada manusia agar manusia bisa mengubah pola pikir sesuai apa yang Allah SWT paparkan dalam Al-Quran.
    Kita harus sepakat sebelum melanjutkan pembelajaran tentang Al-Quran bahwa Al-Quran bukanlah buku sains walaupun ia memiliki logika. Al-Quran berisikan fakta kehidupan. Jelas ada beberapa irisan dalam sains dengan Al-Quran, seperti tentang kiamat. Penelitian terbaru menunjukkan alam semesta terus berkembang. Tapi Al-Quran bukanlah rujukan dalam penelitian sains karena logika manusia tidak sama dengan logika Allah SWT.
    Al-Quran juga berisikan hukum sosial. Apakah manusia telah mampu membuat hukum sosial yang adil? Hukum sosial yang bisa mengakomodir kepentingan seluruh pihak? Faktanya belum bisa. Masih terjadi dalam kehidupan ini kesenjangan sosial dan ekonomi, peperangan dan kelaparan. Maka itulah hukum sosial yang paling adil hanya mungkin hadir dari Tuhan pencipta manusia sendiri. Dia yang paling tahu apa yang terbaik bagi manusia.
    Bagaimana cara memahami logika Al-Quran? Kita harus memahami makna setiap kata dalam Al-Quran dan alur pola pikir setiap ayat. Kesalahan terbesar kebanyakan kita dalam memahami Al-Quran adalah kita tidak sabar memahami makna sebenarnya dari suatu kata dan memotong-motong ayat sehingga mengambil kesimpulan yang salah dari suatu ayat. Makna memotong-motong ayat termasuk menyerabutnya dari kumpulan ayatnya karena setiap ayat tidak berdiri sendiri tapi saling berkaitan dengan ayat sebelum dan sesudahnya.

    5 min
  • Cara Memahami Al-Quran | Rangkuman Buku Perjalanan Menapaki Al-Quran. | AlQuraanVisual

    Kali ini kita akan menggunakan metoda yang baru dalam membahas buku Perjalanan Menapaki Al-Quran karena semakin lama pembahasannya akan semakin panjang. Jika dibacakan kalimat per kalimat durasi videonya akan jadi terlalu lama sehingga pembahasannya jadi tidak efektif. Kami memutuskan untuk membacakan rangkuman dari buku ini saja agar kita semua bisa lebih mudah memahami isi dari buku ini.
    Bagaimana cara memahami Al-Quran? Kita semua mengakui Al-Quran sungguh rumit untuk dipahami. Lalu apa yang harus kita lakukan agar bisa memahami Al-Quran? Cara yang paling sederhana tentu membaca terjemah Al-Quran dalam bahasa Indonesia. Tapi kebanyakan dari kita biasanya merasa pemahaman kita tidak banyak bertambah jika hanya membaca terjemahan Al-Quran saja. Pemahaman kita bisa meraih 20 persen jika kita melengkapi pemahaman dengan membaca terjemah Al-Quran dalam bahasa Inggris karena tata bahasa dan jumlah kosakata bahasa Inggris lebih mendekati tata bahasa dan jumlah kosakata bahasa Arab.
    Jika kita ingin meningkatkan pemahaman menjadi 50 persen caranya adalah mulailah membaca tafsir yang sederhana. Seperti tafsir Al-Maraghy, ringkasan tafsir Ibnu Katsir dan tafsir dari mufasir Indonesia seperti Hamka. Tafsir-tafsir ini akan membantu kita memahami lebih dalam ayat-ayat Al-Quran.
    Jelas memiliki pemahaman 50 persen saja tidak cukup. Jika kita ingin meningkatkan pemahaman akan Al-Quran menjadi 70 persen sebaiknya kita membaca tafsir yang lebih dalam pembahasannya tentang Al-Quran seperti Fi Zhilalil Quran karya Sayyid Quthb. Bisa juga ditambahkan dengan membaca Tafsir Misbah karya mufasir Indonesia, Quraish Shihab dan Tafsir The Messanger yang sudah diterjemahkan penerbit Mizan karya Muhammad Assad.
    Lalu bagaimana meraih pemahaman 100 persen? Caranya adalah mendengarkan paparan para ustadz di youtube ataupun langsung di mesjid. Biasanya pembahasan secara live ataupun rekaman video akan membahas lebih detil makna suatu ayat walaupun biasanya para ustadz belum pernah membahas keseluruhan ayat dalam Al-Quran karena keterbatasan waktu dan kesempatan.
    Sayangnya pemahaman 100 persen belum tentu berarti kita memahami ayat itu secara akurat. Maksud dari memahami ayat secara akurat adalah memahami suatu ayat seperti yang dikehendaki Allah SWT. Walaupun hal itu sulit diraih tapi kita bisa memulai dengan cara memahami setiap huruf, kata dan kalimat dalam suatu ayat Al-Quran dan meyakini setiap ayat berkaitan. Keyakinan ini menjadi penting karena setiap ayat memang berkaitan dan akan mengarahkan kita pada suatu pemahaman yang dikehendaki Allah SWT.

    5 min
  • Tujuan Memahami Al-Quran | Buku Perjalanan Menapaki Al-Quran | AlQuraan Visual

    Tujuan Memahami Al-Quran
    Mengapa kita sulit memulai mempelajari Al-Quran? Karena kita memang tidak pernah didorong untuk mempelajari Al-Quran sendirian. Ulama seakan menahan manusia biasa untuk mulai mempelajari Al-Quran secara mandiri. Mengapa? Mayoritas dari mereka setuju, Al-Quran tidaklah mungkin dipelajari oleh orang biasa, manusia kebanyakan.
    Mereka yang mempelajari Al-Quran tentu memahami kompleksitas Al-Quran. Mereka yakin tidak semua orang mampu memahami Al-Quran yang sangat kompleks itu. Mereka bahkan memberi fatwa bahwa orang biasa hanya boleh memposisikan diri sebagai pengikut ijtihad para ulama. Tidak boleh sembarang membuat ijtihad dan opini pribadi atas ayat-ayat Allah SWT.
    Apakah ini sikap yang bijaksana? Tentu saja menurut kebanyakan ulama, itu sikap yang bijaksana. Mereka memiliki ketakutan orang biasa akan mengacak-acak Al-Quran sesuka hati lalu mengklaim kebenaran sepihak menurut kesukaan pribadi.
    Inilah yang terjadi selama ribuan tahun. Manusia biasa seperti kita hanya bisa jadi pengikut ulama yang kita pilih. Lalu bagaimana jika kita tidak setuju pada pendapat ulama yang kita pilih? Bolehkah kita memilih ulama lain yang pendapatnya lebih cocok dengan pendapat kita?
    Dulu, di saat informasi masih terbatas, banyak orang mencela sikap seperti itu. Mereka yang berpindah-pindah panutan ulama dianggap tidak punya adab pada ulama. Tapi pada zaman ini, saat informasi tersebar luas. Kita bisa memilih opini mana yang menurut kita paling mendekati kebenaran.
    Namun bagaimana jika kita tidak menemukan jawaban yang tepat untuk suatu hal yang mengganggu pikiran kita? Bolehkah kita mencari jawaban sendiri dari Al-Qurannya secara langsung?
    Masa sih, ada pertanyaan yang tidak terjawab oleh para ulama dari dulu sampai saat ini? Sudah membaca keseluruhan terjemahan Al-Quran belum? Sudah membaca semua tafsir Al-Quran belum? Sudah membaca kitab-kitab ulama belum? Bukankah kehidupan ini begitu-begitu saja, mana ada hal yang belum pernah dibahas oleh satu orang ulama pun?
    Mungkin banyak ulama sudah membahas tentang hal-hal yang ingin dicari jawabannya. Tapi, seringkali jawaban mereka tidak tepat sasaran. Pada akhirnya ada jawaban yang harus dicari sendiri karena mungkin hanya kita yang mempertanyakan tentang hal itu. Sehingga belum ada satu ulamapun yang membahasnya.
    Apa misalnya jawaban yang ingin dicari tapi belum ditemukan jawabannya?
    Mengapa Islam belum juga meraih kembali kejayaannya? Banyak ulama merumuskan cara kembali meraih kejayaan Islam tapi pada akhirnya rumusan yang ditawarkan malah mengarahkan pada Islam garis keras yang seringkali diselewengkan menjadi gerakan terorisme. Begitu kan, kenyataannya?
    Bukankah mudah jawaban dari pertanyaan bagaimana meraih kembali kejayaan Islam adalah dengan kembali pada Al-Quran?
    Iya. Tapi kembali dengan cara seperti apa? Buktinya puluhan tahun sejak keruntuhan kekhalifahan Utsmaniyah belum ada tanda-tanda Islam akan meraih kejayaannya?
    Ah masa, bukankah Islam semakin merebak di seluruh dunia? Suatu saat pasti akan ada masanya Islam kembali meraih kejayaannya.
    Benarkah?

    6 min
  • Kegagalan Mempelajari Al-Quran | Buku Perjalanan Menapaki Al-Quran | AlQuraan Visual

    Kegagalan Mempelajari Al-Quran
    Siapa yang tidak mau memahami Al-Quran? Banyak orang yang mau dan selalu mencoba. Tapi kebanyakan orang gagal memahami Al-Quran. Mengapa? Karena mempelajari Al-Quran memang rumit. Al-Quran membahas tentang keseluruhan kehidupan dari berbagai segi. Pembahasan utamanya memang tentang manusia tapi cakupan yang dibahas sangatlah luas. Al-Quran membahas tentang psikologi, sosial, ekonomi, filsafat, asal muasal kehidupan dan sebagainya. Kebanyakan kita merasa kesulitan harus mempelajari banyak bidang ilmu. Hal ini menjadi kendala yang cukup besar untuk seseorang mempelajari Al-Quran.
    Kebanyakan orang bingung harus memulai dari mana. Mereka yang tidak yakin Al-Quran harus dipelajari runut dari mulai surat Al-Fatihah sampai An-Naas tentu merasa boleh-boleh saja mempelajari Al-Quran secara acak. Masalah yang muncul dari mempelajari secara acak adalah ada kemungkinan kita akan mengulang-ulang bahasan hanya yang kita anggap perlu dan penting saja dan mengabaikan membahas ayat yang tidak dianggap perlu dan penting. Sehingga pada akhirnya malah mengalami kebosanan dalam mempelajari Al-Quran karena membahas hal yang itu-itu saja.
    Selain dua alasan di atas, mempelajari Al-Quran tentu menuntut fokus dan konsistensi. Banyak orang hanya mempelajari Al-Quran di saat sedang senggang ataupun gabut. Padahal manusia jarang sekali senggang dan gabut. Selalu ada banyak pilihan aktivitas lain yang bisa dilakukan sehingga pada akhirnya kita tidak meluangkan waktu untuk mempelajari Al-Quran. Apalagi mempelajari Al-Quran tidak memberikan konsekuensi positif pada ekonomi kita, tidak seperti mempelajari ilmu lain.
    Banyak juga yang pada akhirnya berhenti mempelajari Al-Quran karena merasa Al-Quran tidak memberikan efek secara langsung pada kita yang mempelajarinya. Pembahasan Al-Quran lebih sering menitikberatkan pada ilmu-ilmu yang sekadar wacana bukan yang langsung memberikan motivasi maupun menggerakkan jiwa.

    4 min
  • Berhenti Sejenak! | Buku Perjalanan Menuju Al-Quran | AlQuraan Visual

    Berhenti Sejenak!

    Al-Quran bukanlah sebuah buku biasa. Jelas! Dia adalah sebuah kumpulan perkataan Tuhan. Selalu ada orang-orang yang mempertanyakan balik segala hal. Benarkah Tuhan ada? Benarkah Al-Quran perkataan Tuhan? Benarkah Al-Quran satu-satunya kebenaran?

    Terlalu banyak manusia yang senang mempertanyakan sesuatu tapi dia tak sebenar-benarnya bertanya. Sayangnya, kita yang merasa sudah yakin bahwa Tuhan ada, Al-Quran adalah perkataan Tuhan dan Al-Quran satu-satunya kebenaran merasa tidak perlu lagi penjelasan detil tentang semua itu. Kita cukup puas akan keberhasilan kita mendoktrin diri akan sebuah kebenaran.

    Benarkah kita tidak semestinya peduli dengan ‘pembuktian’ atas semua doktrin itu? Tentu tidak. Kita harus peduli dengan pembuktian semua fakta tentang kebenaran agar kita bisa melangkah dengan yakin di dalam kebenaran.

    Sayangnya, banyak orang yang merasa hidupnya terlalu sibuk untuk memikirkan hal yang terlalu rumit tentang kehidupan. Apalagi memikirkan kebenaran tidak berefek positif pada kondisi keuangan mereka. Kebanyakan dari mereka membatasi diri dengan mencukupkan menjalani kebenaran versi mereka. Toh yang penting bukan cara berpikir tentang kebenaran melainkan amal perbuatannya. Begitu pikir mereka.

    Wahai kawan, luangkan waktu mulai sekarang. Kehidupan ini sudah terlampau cepat bergerak. Saatnya diam sejenak, duduk tenang dan memikirkan kembali tentang kebenaran yang hakiki.

    Apalah artinya menjalani kehidupan ini tanpa memahami kehidupan?

    Myast Arraya, temanmu dalam mencari kebenaran.

    4 min
  • Bani Israil Menyembunyikan Kebenaran | Surat Al-Baqarah 41-42 | Mamy, Aku Mau Tanya | AlQuraanVisual

    Sebelum kita melanjutkan ke ayat 41, kita bahas dulu kata perjanjian di ayat 40. Kata ini pernah muncul di mana, Kak?

    Hmm, di ayat 27 surat Al-Baqarah merujuk pada ciri orang fasik.
    Betul, Kak. Maka ketika di ayat 40, Allah SWT memerintahkan Bani Israil untuk memenuhi perjanjian jika mereka melanggarnya, maka mereka akan jadi orang fasik.
    Walaupun mereka keturunan Nabi dan Rasul, ya?
    Iya karena seseorang dinilai dari perbuatannya bukan pengakuannya.
    Setelah itu apa lagi seruan Allah SWT pada Bani Israil, Mamy?
    Baca dulu Kak, ayat 41-nya!
    Wa aaminuu bimaa anzaltu mushaddiqal limaa ma'akum wa laa takuunuu awwala kaafirim biHi wa laa tasytaruu bi'aayaatii tsamanan qaliilaan wa iyyaaya fattaquun.
    Berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan sebagai pembenar bagi apa yang ada pada kamu dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya. Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga murah dan bertakwalah hanya kepada-Ku
    Bani Israil diperintahkan untuk mengimani Al-Quran, Kak! Bahkan dilarang untuk menjadi yang awal kafir terhadapnya. Setelah itu mereka juga diperintahkan untuk tidak menukarkan ayat-ayat Allah SWT dengan harga murah.
    Mereka juga sama ya, Mamy, diperintahkan untuk takwa. Maksudnya takwa hanya pada-Ku apa?
    Seperti juga istilah dalam Al-Quran seperti iman, kafir, mengabdi, kata takwa bisa ditujukan pada selain Tuhan.
    Gitu ya, Mamy? Kalau menukar ayat-ayat Allah SWT artinya apa?
    Kata menukar sebelumnya ada di ayat berapa, Kak?
    Ayat 16 tapi menukar petunjuk dengan kesesatan kalau di ayat ini dengan harga sedikit.
    Bani Israil demi keuntungan dunia memilih untuk tidak iman dan kafir pada Al-Quran yang diturunkan pada Muhammad SAW.
    Apa yang bisa membuat mereka tidak melakukan apa yang dilarang, Mamy?
    Ya, itu Kak, ketakutan pada Allah SWT.
    Takut?
    Takwa itu salah satu artinya takut.
    O iya, kayak di ayat 24 surat Al-Baqarah, ya?
    Betul. Kalimat penutup di suatu ayat itu jadi motivasi dasar seseorang melakukan suatu perbuatan, Kak.
    Seperti di ayat 40 juga ya, Mamy?
    Betul. Sama juga kan diartikan takut hanya beda kata FarHabuuna.

    6 min
  • Siapakah Bani Israil? | Surat Al-Baqarah 40 | AlQuraanVisual

    Sekarang kita masuk ke bahasan baru yaitu tentang seruan pada Bani Israil yang terbentang di ayat 40-48 surat Al-Baqarah.
    Kenapa, Mamy, kok setelah membahas Adam as malah langsung membahas tentang Bani Israil?
    Hayoh kenapa coba, Kak?
    Nanya malah ditanya balik. Hmmm karena Bani Israil adalah pemegang panji kebenaran sebelum Rasulullah SAW?
    Nah benar itu. Bani Israil adalah tokoh utama sebelum diutusnya Muhammad SAW.
    Tapi setelah seruan pada manusia lalu dilanjutkan dengan kisah Adam as mengapa langsung dibahas tentang Bani Israil?
    Kumpulan ayat ini tentu sebagai sebuah peringatan bagi Bani Israil agar mereka menyikapi apa yang dibawa Rasulullah SAW dengan benar.
    Lalu mereka semestinya menjadi pendukung Rasulullah SAW, ya?
    Betul. Tapi kenyataannya kebanyakan mereka tidak begitu.
    Wah, kok bisa?
    Itulah yang Allah SWT jelaskan panjang lebar di bagian awal surat Al-Baqarah.
    Hmm... Mamy, Bani Israil itu berarti keturunan Israil, kan? Siapa Israil?
    Israil nama lainnya dari Yaqub as, merupakan keturunan Ibrahim as dari Ishaq as sedangkan Muhammad SAW adalah keturunan Ibrahim as dari Ismail as.
    Masih saudaraan dong, Mamy?
    Lah, semua manusia kan memang bersaudara, Kak!
    Eh, iya juga ya! Hehe. Tapi Mamy, memangnya semua nabi adalah Bani Israil?
    Setelah Yaqub as iya, semua nabi berasal dari Bani Israil.
    Makanya mereka jumawa sekali, ya?
    Betul. Termasuk Isa as adalah Bani Israil.
    Tapi mengapa Yahudi dan Nasrani saling berkelahi?
    Yaa memang aneh, kan? Tapi keduanya setuju akan datang nabi terakhir dan mereka yakin nabi itu adalah keturunan Bani Israil.
    Ternyata bukan ya, Mamy?
    Iya. Itu alasan utama mereka tidak mau mengimani kebenaran Muhammad SAW. Semua dibahas dalam Al-Quran. Yuk kita baca dulu ayat 40 surat Al-Baqarah!
    Jadi kenapa yang dibahas Bani Israil karena mereka memang unsur penting dalam kebenaran ya, Mamy?
    Iya dan banyak sekali hal yang mesti kita pelajari agar kita tidak menjadi seperti mereka.
    Ya ya.Yaa banii israa`iiladzkuruu ni'matiyallatii an'amtu 'alaykum wa awfuu bi'ahdii uufi bi'ahdikum wa iyyaaya far-habunn.
    Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu. Hanya kepada-Ku hendaknya kamu takut.

    6 min

About alquraanvisual

From the publisher's feed

membahas sisi lain dari alquraanvisual agar pemahaman kita tentang alquran lebih menyeluruh