Aku mengajakmu menjenguk Abū Abdurraḥmān Ḥātim al-Aṣāmi
Di qubbahnya pinggiran negeri khurasan
terasing menjauh dari pergaulan manusia
sudah hampir berjalan 30 tahun lamanya
Tepat saat beberapa ulama zaman itu mendatanginya
kira-kira seribu duaratus tahun yang lalu
Delapan tahun sebelum meninggalnya 237 Hijriyah itu
Mereka – Muhammad ibn Hasan, al-Kasāʼi, Amru ibn Bahr, dan al-Aṣmaʻi
bertanya kepada Hatim Al-Aṣāmi;
kenapa engkau mengasingkan diri dari masyarakatmu
Bukankah diantara masyarakatmu ada orang-orang yang menyuruh kepada kebaikan dan orang-orang yang mencegah dari perbuatan buruk dan munkar yang kau kenal
Bukankah diantara mereka ada ahli-ahli juhud yang dulu sering berdiskusi denganmu
Bukankah diantara mereka ada ulama’-ulama yang kamu akrab dengannya
Tidakah cukup mereka itu menjadi alasan bagimu untuk tinggal dan bergaul di kotamu itu
Kenapa kau memilih menghindar dari mereka?
Bukankah bergaul dengan mereka mendatangkan kebaikan juga?
“ṣadaqta, walākin bainahum salāṭīna al-jawri yuftinūna ʻan dīninā, fa al-takhalī minhum awlā”
Tidak salah yang kalian katakan, tetapi ada penguasa-penguasa rusak diantara mereka yang menebar fitnah pada agama kita, maka menjauh dari mereka lebih utama”