Ardi Kamal Karima

Ardi Kamal Karima

By Ardi Kamal KarimaArtsBooks
Download on the App Store

Ardi Kamal Karima episodes

  • Cinta (Bagian Kedua)

    Sebuah Puisi: Cinta (Bagian Kedua)

    Ditulis & Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima


    Puisi "CINTA (Bagian Kedua)" menggunakan metafora-metafora sehari-hari yang absurd dan sarat simbol untuk menggambarkan kompleksitas cinta yang rusak, stagnan, dan penuh nostalgia. Kloset mampet, pipa tua, sampah basah, dan bak mandi yang berubah menjadi lautan "usang" menjadi alegori tentang hubungan yang tak lagi mengalir, tersumbat oleh kenangan, kekecewaan, dan upaya sia-sia untuk memperbaiki yang sudah retak. Kata-kata seperti "pasta rindu yang kadaluarsa" atau "katalog doa-doa yang belum terjawab" menegaskan betapa cinta di sini dihadapkan pada hal-hal usang, keinginan yang tertahan, dan komunikasi yang gagal. Bahkan upaya romantis seperti mencari "cincin yang jatuh" berubah jadi tragedi ketika yang ditemukan justru kehancuran ekosistem cinta: garam yang "bercerai" dan ikan yang "berpuasa", menggambarkan keterpisahan dan kelaparan emosional.


    Puisi ini juga menyoroti ketidakmampuan untuk melepaskan masa lalu, diwakili oleh gambaran "plankton-plankton / mengeja nama mantan" atau "danau bekas mandi bunga / yang merindukan tubuh-tubuh (tak berbusa)". Air, yang semestinya membersihkan atau menghidupkan, justru menjadi medium penuh limbah kenangan. Pipa-pipa besi yang "mengubur dirinya diam-diam" dan "tikus-tikus kosong yang mulai serakah" menyimbolkan hasrat yang terkubur atau dikorupsi oleh waktu. Penyair seolah mengatakan bahwa cinta yang tak dirawat akan berubah menjadi saluran pembuangan—tempat di mana segala sisa-sia emosi mengendap dan meracuni. Akhirnya, puisi ini bukan hanya menjadi kritik pada cinta yang gagal, tapi juga refleksi pilu tentang bagaimana manusia sering terjebak dalam siklus merindukan sesuatu yang sudah kehilangan esensinya, seperti tubuh yang "tak berbusa", tanpa gairah atau kejutan.


    #ardikamal #literasi #penulis #monologue #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet #penyair #cinta #puisicinta #syair #syaircinta

    3 min
  • Cinta (Bagian Pertama)

    Sebuah Puisi: Cinta (Bagian Pertama)

    Ditulis & Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima


    Di sudut kamar yang dingin, cinta dirajut sebagai pertemuan dua jiwa yang terperangkap dalam diam. Secangkir kopi menjadi saksi bisu, bukan sekadar objek, melainkan cermin dari kata-kata yang mengeras seperti batu—keras, tajam, namun tak mampu mengikis jarak. Cinta di sini adalah bahasa isyarat yang retak, tabu, seperti jam dinding yang menertawakan ketidakmampuan kita menghitung detak dan rindu. Waktu bukan lagi selimut yang menghangatkan, melainkan labirin yang menyesatkan, mengubah kerinduan menjadi kebisuan yang dungu. Di ruang sempit ini, dua insan saling melempar metafora: hujan yang tak pernah memenuhi sumur tua, buku-buku yang ditanam di pot mati, hingga akar yang menjelma kabel listrik. Semua adalah upaya menyambung rumah-rumah yang dilapisi jarak, menerangi tetangga yang asing, sementara diri sendiri tetap gelap.


    Cinta dalam puisi ini adalah arus pendek yang membakar foto pernikahan ibu, sekaligus mencetak wajah berseri yang palsu. Pelukan di sini tak beda dari jeruji; ia mengurung, bukan melindungi. Kulit yang seperti kertas koran basah—setiap lipatannya memuat kematian yang belum terjadi—menjadi simbol betapa rapuhnya ikatan ini. Mencintai adalah mencuri kunci dari penjara tanpa jeruji: bebas, tapi justru merobek sekat-sekat mimpi. Bahkan pisau di meja makan bercerita tentang luka yang tak mau sembuh, tentang kesetiaan yang dihianati oleh garam dan tawa di sela Waktu. Ritual menyambut hantu, surat kepada Tuhan yang hanya dijawab pedagang sayur berkuah rindu masam, adalah ejekan terhadap upaya manusia mengukur yang ilahiah dengan kata-kata. Cinta di sini adalah gerbong kereta yang bergelantungan di rel tanpa tujuan, membawa abu warisan nenek yang setia menunggu—peninggalan dari kesia-siaan yang diwariskan turun-temurun.


    Akhirnya, cinta adalah meteor yang membakar segala mustahil, sementara kita diam, menghilang, namun tetap memilih untuk mementaskan kehancuran berulang. Ardi Kamal Karima menggambar cinta sebagai tarian antara kegilaan dan keluguan: "mencintaimu adalah lidah yang kebas sekaligus kelu." Meski langit runtuh, puisi ini tak berakhir dengan keputusasaan. Justru di puing-puing, dua tubuh memilih berdansa lagi, menerjang bayang, menghabiskan kisah dengan seluruh kasih hingga ujung jalan. Di sini, cinta bukan jawaban, melainkan pertanyaan yang terus diulang-ulang—seperti puisi yang dikubur hidup-hidup, tapi tetap bernyala dalam meteor yang jatuh.


    Ardi Kamal Karima


    #ardikamal #literasi #penulis #monologue #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet #penyair #cinta #puisicinta #syair #syaircinta

    6 min
  • Sang Pemabuk Agama!

    SEBUAH MONOLOG: SANG PEMABUK AGAMA
    (Setelah mendengar khotbah dari keparat)
    Ditulis & Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima
    Puisi Sang Pemabuk Agama karya Ardi Kamal Karima mengkritik figur religius yang hipokrit dan arogan. Melalui metafora seperti "sorban" yang menutupi kemunafikan, "suara menggantung di langit-langit masjid", dan "ayat-ayat sebagai pisau bedah", penyair mengecam tokoh agama yang menggunakan wewenang spiritual untuk pamer kesalehan, tanpa peduli pada penderitaan nyata umat. Mereka dianggap seperti "pemabuk" yang mabuk oleh kekuasaan simbolik agama, tetapi gagal menyentuh realitas kehidupan masyarakat yang tertindas.
    Puisi ini menyoroti kontras antara retorika agama yang kosong dengan kenyataan hidup kaum marginal. Gambaran "meja yang tumbuh dari akar kelaparan", "anak kecil belajar menelan kata pasrah", dan "tagihan listrik" yang membuat bapa mati lampu, menegaskan bahwa penderitaan rakyat kecil sering diabaikan oleh pemuka agama. Sementara mereka berkoar tentang "ikhtiar" dan "rezeki", kata-katanya hanya "gema sumur kering"—tanpa kepekaan terhadap tangis ibu-ibu yang menjahit demi bertahan hidup. Agama dijadikan panggung untuk puji diri, bukan sarana membela keadilan.
    Di akhir puisi, penyair menegaskan bahwa Tuhan tidak berada di lidah para penceramah sombong, melainkan dalam kehidupan sehari-hari yang rapuh: "debu di sepatu", "sendok bengkok di warung tenda", atau "diamnya bapa" yang tertekan. Tokoh agama yang diumpamakan sebagai "Musailamah al-Kadzab" (nabi palsu) dikutuk karena menjadikan agama sebagai "karung goni" untuk mengumpulkan kehormatan semu. Puisi ini adalah seruan untuk mengembalikan spiritualitas pada empati, keadilan, dan pembelaan terhadap kaum tertindas, bukan sekadar ritual dan retorika yang mandul.
    #ardikamal #literasi #penulis #monologue #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet #penyair #nabipalsu #pemukaagama #keparat

    4 min
  • Ini & Itu

    Sebuah Puisi : INI & ITU
    Ditulis oleh Ardi Kamal Karima
    Disuarakan oleh Insom-Mia
    Puisi "INI DAN ITU" menggambarkan pergulatan batin yang terus berulang dalam kehidupan, seolah segala sesuatu selalu berkutat pada dilema dan kontradiksi. Penyair menunjukkan bagaimana hidup sering kali dipenuhi oleh luka dan keindahan, keterpaksaan dan kebebasan, yang pada akhirnya menjadikan kesepian sebagai sesuatu yang ramai dalam pikiran. Ini mencerminkan bagaimana manusia terjebak dalam aturan yang seakan mengharuskan mereka untuk bersikap dan bertindak sesuai ekspektasi, tanpa benar-benar memahami makna sejati dari pilihan-pilihan tersebut.
    Pada bagian kedua, puisi semakin menyoroti pertarungan batin yang tak kunjung usai. Pikiran menjadi ladang pertempuran antara luka dan penyembuhan, kebahagiaan dan penderitaan. Ada ironi dalam bagaimana si aku-lirik menderita, sementara orang lain mendapatkan keuntungan, atau sebaliknya, bagaimana kebahagiaannya justru membawa dampak buruk bagi orang lain. Konsep “Ini dan Itu” seolah menjadi rantai tak kasat mata yang terus membelenggu, membuatnya bingung akan makna dari setiap peristiwa yang datang dan pergi dalam hidupnya.
    Di bagian akhir, puisi menghadirkan metafora yang menyentuh tentang kelahiran puisi itu sendiri. Ia bukan sekadar alat transisi atau pelarian dari perasaan yang berkecamuk, melainkan entitas yang memahami dan merangkul segala bentuk emosi manusia. Puisi digambarkan sebagai sesuatu yang lahir dari kepedihan, seperti bayi yang tak sabar mengetuk pintu kehidupan, memaksa dirinya untuk hadir. Ini menunjukkan bahwa puisi tidak hanya sekadar kata-kata, tetapi juga perwujudan dari pergulatan batin, yang mengabadikan perasaan dan menjadikannya sesuatu yang hidup dalam setiap barisnya.
    #ardikamal #literasi #penulis #monologue #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet #penyair

    3 min
  • Bisul

    Sebuah Puisi : BISUL
    Ditulis oleh Ardi Kamal Karima
    Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima
    Puisi BISUL menggunakan metafora fisik untuk menggambarkan perasaan terpendam, luka batin, atau trauma yang terus membesar dalam diri seseorang. Bisul, sebagai luka yang matang di kulit, menjadi simbol dari sesuatu yang telah lama ada, berkembang perlahan, dan semakin menyakitkan. Penyair menggambarkan bagaimana luka ini bisa berasal dari ketidakmampuan bersuara, dari diam yang terlalu lama, atau dari respons yang dipinjam dari orang lain—seperti suara angin dalam menjawab pertanyaan ibu. Ini bisa diartikan sebagai ketidakberdayaan atau keterpaksaan dalam menghadapi sesuatu yang sulit diungkapkan.
    Pada bait kedua, bisul yang berdenyut seperti ingatan menunjukkan bahwa luka ini bukan sekadar fisik, melainkan emosi yang berusaha ditekan namun tak kunjung hilang. Kata "mengejan di bawah daging waktu" memberi kesan bahwa rasa sakit ini terus berkembang, dipicu oleh kata-kata dan tekanan dari luar. Ada usaha untuk menahan atau menekan sesuatu, tetapi justru semakin menyakitkan, mencerminkan pergulatan batin yang semakin sulit untuk diabaikan. Hari-hari yang sulit pecah melambangkan stagnasi, di mana rasa sakit tetap ada, tanpa kejelasan kapan akan berakhir.
    Bagian akhir puisi menunjukkan konfrontasi dengan diri sendiri di depan cermin, di mana luka ini menjadi identitas lain yang tak bisa dihapus. Bisul di sini bukan lagi sekadar luka, melainkan cerminan sisi diri yang terabaikan, sesuatu yang tak diinginkan tetapi tetap ada dan bertahan. Tiga baris terakhir dengan titik koma memperkuat perasaan keterasingan dan ketidakterimaan, menegaskan bahwa luka ini, baik secara fisik maupun emosional, terus hidup meskipun tidak pernah diharapkan. Secara keseluruhan, puisi ini menggambarkan penderitaan yang tak terungkap, rasa sakit yang terus bertahan, serta pencarian makna dalam luka yang tak kunjung sembuh.
    #ardikamal #literasi #penulis #monologue #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet

    2 min
  • A-B-A-B

    Sebuah Puisi : A-B-A-B
    Ditulis oleh Ardi Kamal Karima
    Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima
    Puisi ini mengungkap pergulatan batin seorang individu yang bergulat dengan kenangan, kehilangan, dan pencarian makna dalam hidup. Pada awalnya, puisi ini menggambarkan perasaan resah yang hadir dalam bentuk mimpi dan ingatan yang samar, seolah ada sesuatu yang tidak bisa dicerna sepenuhnya. Sosok ayah dan ibu muncul sebagai simbol ketabahan dan misteri, sementara buku-buku yang tak laku menjadi metafora bagi harapan atau perjuangan yang terasa sia-sia. Ada rasa sesak yang terpendam dalam ingatan, menciptakan kesan keterasingan dan ketidakpastian.
    Bagian tengah puisi semakin menguatkan perasaan sakit dan keterasingan itu dengan gambaran luka yang tak hanya fisik, tetapi juga batin. Penyair mempertanyakan keberadaan Tuhan—bukan dalam ketidakpercayaan, tetapi lebih kepada rasa kehilangan arah. Ia merasa semakin jauh dari spiritualitas atau makna doa, seolah-olah kata-kata pun tak lagi mampu menghubungkan dirinya dengan harapan. Usia yang bertambah membawa kesadaran bahwa kebenaran dan kesalahan bercampur dalam hidup, dan dalam kebingungan itu, ia hanya ingin segalanya selesai—entah dengan dilupakan atau diterima.
    Di bagian akhir, ada resolusi yang melibatkan kepasrahan sekaligus keteguhan. Penyair menemukan makna dalam tulisan, menjadikannya semacam keabadian pribadi di tengah kefanaan. Ia sadar bahwa suatu hari nanti, hidupnya akan berakhir, tetapi selama ia masih bisa menulis, ia akan terus menciptakan sesuatu yang berarti. Meski ada ketakutan akan kehilangan dan kepalsuan, harapan dalam kata-kata tetap menjadi pegangan terakhir, memberikan makna di tengah kerapuhan hidup.
    #ardikamal #literasi #penulis #monologue #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet

    3 min
  • A-A-B-B

    Sebuah Puisi : A-A-B-B
    Ditulis oleh Ardi Kamal Karima
    Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima
    Puisi ini menggambarkan perjalanan batin seseorang yang terus berusaha bertahan di tengah luka, kehancuran, dan tekanan waktu. Dalam bait pertama, tubuh yang rapuh diibaratkan sebagai seseorang yang tetap berjalan meskipun telah jatuh berulang kali. Reruntuhan yang dulu kokoh melambangkan masa lalu atau kenangan yang dulu kuat namun kini menjadi beban yang menekan. Ini mencerminkan perjuangan untuk bangkit dari trauma dan kehilangan.
    Bait-bait berikutnya semakin menegaskan perasaan keterasingan dan penderitaan batin. Ada gambaran tentang sunyi yang tumbuh dalam dada, hujan yang tak reda di dalam kepala, dan kota-kota terbakar tanpa nyala. Metafora ini menciptakan kesan kehancuran yang mendalam, di mana seseorang merasa terjebak dalam pikirannya sendiri, tak mampu mengungkapkan luka dengan kata-kata. Waktu digambarkan sebagai sesuatu yang kejam, mengulitinya dan menikam secara tiba-tiba, memperkuat rasa kehilangan kontrol atas hidup.
    Di bagian akhir, ada paradoks antara keputusasaan dan keberadaan sesuatu yang tetap tersenyum dalam diri. Ini bisa melambangkan harapan samar yang tetap ada meskipun segalanya terasa hancur. Detak yang menggigil di antara nadi menegaskan bahwa meskipun seseorang merasa terpecah dan tak utuh, masih ada sesuatu dalam dirinya yang bertahan dan terus hidup. Puisi ini mencerminkan pergulatan antara kerapuhan dan kekuatan, di mana seseorang terus mencari makna dalam kegelapan yang melingkupinya.
    #ardikamal #literasi #penulis #monologue #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet

    3 min
  • A-A-A-A

    Sebuah Puisi & Manifestasinya: A-A-A-A

    Ditulis oleh Ardi Kamal Karima

    Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima


    Dari segi sastra, puisi ini menggambarkan suasana yang kelam dengan metafora dan simbolisme yang kuat. Penggunaan elemen seperti sungai yang mengalir tanpa salam, angin yang menusuk, dan bayang-bayang berbisik tentang mati menciptakan gambaran kesunyian dan keterasingan yang mendalam. Struktur rima yang berpola (A-A-A-A) mempertegas keharmonisan dalam kegelapan yang ingin disampaikan, sementara repetisi dan diksi bernuansa elegi memperkuat kesan tragis. Puisi ini seperti sebuah potret surealis yang menggambarkan seseorang yang terseret dalam aliran takdir, tanpa daya untuk kembali.


    Dari perspektif psikologi, puisi ini mencerminkan kondisi depresi atau perasaan kehilangan yang mendalam. Penggambaran tanpa arah, tanpa selam serta lorong tanpa pintu, tanpa arti menunjukkan rasa hampa dan alienasi, indikatif dari seseorang yang merasa terjebak dalam eksistensi tanpa makna. Penyebutan luka yang terlaminasi, namun masih meninggalkan serpihan di dalam, melambangkan trauma yang tampak tersembuhkan di permukaan tetapi masih menyakitkan di kedalaman jiwa. Ada perlawanan dalam bait terakhir, di mana meskipun tenggelam dalam kegelapan, sang penyair masih menunggu sesuatu—sebuah harapan samar yang tersisa di tengah keputusasaan.


    Secara filsafat, puisi ini bisa dikaitkan dengan eksistensialisme, khususnya gagasan absurdisme dari Albert Camus. Penyair tampak menyadari ketidakberartian hidup (hidup ini tetaplah lorong, tanpa pintu, tanpa arti), tetapi sekaligus menolak untuk binasa. Ini mencerminkan paradoks eksistensial: manusia terjebak dalam pencarian makna di dunia yang diam dan tidak peduli, namun tetap bertahan meski dihadapkan dengan kehampaan. Sungai dalam puisi bisa dilihat sebagai metafora bagi perjalanan hidup yang terus berjalan tanpa bisa dikendalikan, dan penyair, meski telah tenggelam, tetap menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan pernah datang.


    Instrumental: Sadar by Zhafir Khairan Akalanka

    Visual on Freepik


    #ardikamal #literasi #penulis #monologue #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet #penyair

    7 min
  • Me-Riang Aku!

    Sebuah puisi: ME-RIANG AKU!

    Ditulis oleh Ardi Kamal Karima

    Disuarakan: Ardi Kamal Karima & Insom-Mia


    Puisi ini menampilkan gaya ekspresionisme yang kuat, di mana penyair mengungkapkan kondisi batin yang gelap dan sunyi melalui metafora yang mendalam. Frasa seperti "Aku menanam sunyi di dalam dadaku" dan "hujan di dalam kepalaku, tak juga reda" menciptakan citraan yang kuat tentang kesedihan yang terus-menerus mengendap di dalam jiwa. Ada elemen repetisi yang memperkuat kesan mendalam, seperti "tak juga reda, tak juga lupa", yang menggambarkan betapa perasaan ini begitu mencekam dan tak kunjung usai. Struktur puisinya bebas, tetapi tetap menjaga ritme yang mendukung nuansa keterasingan dan kelelahan batin.


    Puisi ini mencerminkan kondisi psikologis seseorang yang mungkin mengalami depresi atau kelelahan emosional. Simbol hujan di dalam kepala bisa diartikan sebagai representasi dari overthinking atau tekanan mental yang tak kunjung reda. Frasa "Orang-orang bicara tentang cahaya, tentang jalan pulang, atau kenangan. Aku mendengar, tapi telingaku sudah lama tuli" menandakan adanya kelelahan terhadap optimisme yang ditawarkan orang lain, sebuah tanda apatis yang kerap muncul dalam keadaan depresi. Keseluruhan puisi ini menggambarkan pergulatan batin antara harapan dan kelelahan, antara ingin merasa riang tetapi justru tenggelam dalam kesunyian.


    puisi ini menggambarkan keterasingan individu dalam dunia yang terasa hampa. Penyair mempertanyakan makna kebahagiaan dan eksistensi dirinya di tengah ketidakpastian. Konsep absurditas Camus dapat dibaca dalam puisi ini—kehidupan terasa hampa dan tidak masuk akal, tetapi tetap harus dijalani. Baris "Aku menyusun puisi ini dari luka yang cukup tenang" menandakan upaya penciptaan makna dari penderitaan, sebagaimana dalam filsafat Nietzsche yang melihat seni sebagai sublimasi dari derita. Puisi ini seolah menyiratkan bahwa meskipun hidup penuh luka, ada kemungkinan transendensi melalui seni atau, dalam konteks lebih luas, melalui penerimaan terhadap absurditas itu sendiri.


    #ardikamal #literasi #penulis #monologue #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet #penyair #penyair #kutipan #poetry #sajak #mentalhealth #syair #dialogue #dialog

    4 min
  • Dulu, Aku Pikir.

    Sebuah puisi: Dulu, Aku Pikir.
    Ditulis oleh Ardi Kamal Karima
    Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima & Insom-Mia
    Puisi

    ini merefleksikan perubahan perspektif manusia terhadap dunia seiring
    bertambahnya usia. Dengan diksi sederhana namun penuh imaji, penyair
    menggambarkan transisi dari masa kanak-kanak yang penuh fantasi menuju
    kedewasaan yang lebih realistis. Kontras antara harapan masa kecil dan
    kenyataan dewasa menciptakan efek melankolis, namun diakhiri dengan nada
    optimis: keajaiban tetap ada, meskipun kini lebih sulit ditemukan.
    Struktur puisi yang bergerak dari pengandaian masa lalu ke kesadaran
    masa kini menciptakan alur naratif yang kuat, hampir seperti dongeng
    yang berakhir dengan kebijaksanaan hidup.
    Puisi ini menyiratkan
    perjalanan epistemologis manusia dalam memahami realitas. Masa kecil
    diwarnai oleh pemikiran magis, di mana segala sesuatu memiliki makna
    yang subjektif dan emosional. Namun, dengan bertambahnya usia,
    rasionalitas mulai mendominasi, menggantikan keajaiban dengan hukum
    sebab-akibat. Ini mencerminkan gagasan dari filsafat eksistensialisme:
    manusia harus menemukan makna dalam dunia yang tampaknya tak bermakna.
    Pada akhirnya, penyair tidak menyerah pada nihilisme, melainkan
    menyarankan bahwa makna dan keajaiban tetap ada—hanya saja, perlu lebih
    banyak usaha untuk menemukannya di tengah absurditas kehidupan.
    Dari
    sudut pandang psikologi perkembangan, puisi ini mencerminkan perubahan
    kognitif yang dijelaskan dalam teori Jean Piaget. Pada masa kanak-kanak,
    pemikiran bersifat pra-operasional, dipenuhi dengan animisme dan
    kepercayaan bahwa dunia berfungsi sesuai kehendak pribadi. Seiring
    bertambahnya usia, individu memasuki tahap operasional konkret dan
    akhirnya operasional formal, di mana realitas diterima dengan lebih
    objektif dan logis. Namun, bagian akhir puisi menunjukkan bahwa meskipun
    pemahaman rasional telah berkembang, kebutuhan psikologis manusia untuk
    keajaiban dan makna tetap ada. Ini mencerminkan konsep "inner child"
    dalam psikologi: bagian diri yang masih mendambakan keajaiban dan
    imajinasi, bahkan di tengah kesibukan dan tekanan hidup dewasa.
    #ardikamal
    #literasi #penulis #monologue #jurnal #luka #perspektive #monolog
    #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet #penyair
    #penyair #kutipan #poetry #sajak #mentalhealth #syair

    4 min

About Ardi Kamal Karima

From the publisher's feed

Menulis apapun yang ada pada kepala, mengkonversikannya menjadi beberapa bait, atau kosa kata, yang dipenuhi berbagai rasa yang berbeda.