Ardi Kamal Karima

Ardi Kamal Karima

By Ardi Kamal KarimaArtsBooks
Download on the App Store

Ardi Kamal Karima episodes

  • Cinta (Bagian Ketiga)

    Sebuah Puisi: Cinta (Bagian Ke-tiga)

    Ditulis & Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima


    Puisi ini menggambarkan ketabahan seorang ibu yang menjalani hidup sederhana dengan pengorbanan tak terucap. Ibu digambarkan melakukan pekerjaan domestik yang melelahkan—seperti mencuci gelas di lantai kamar mandi, menggunakan ember dan sikat usang—tanpa mengeluh, sementara kemewahan atau kemajuan teknologi hanya menjadi angan. Ritual hariannya, seperti menonton sinetron untuk sekadar menangis diam-diam atau menikmati momen langka ke mall sebelum Lebaran, menjadi simbol pelarian dari beban hidup. Kehidupannya diabdikan untuk memastikan anak-anaknya tumbuh tanpa terbebani oleh nestapa yang ia rasakan, meski ia sendiri tak pernah merasakan "keindahan hidup" yang diidamkan.


    Puisi ini juga menyuarakan kegelisahan anak yang takut kehilangan sang ibu, sosok yang menjadi tumpuan harapan sekaligus pelindung dari kerasnya dunia. Ketakutan terbesar bukanlah kegelapan atau nasib buruk, melainkan saat ibu "tiba-tiba berhenti" setelah lelah berdoa dan bekerja. Momen-momen kecil, seperti es krim meleleh di mal atau senyum ibu yang tertahan, menjadi saksi betapa kebahagiaan mereka rapuh dan sementara. Namun, di balik itu, ada upaya untuk mengabadikan luka dan perjuangan ibu melalui puisi—sebagai cara melawan lupa, mengubah air seni dan air mata menjadi kata-kata yang dijual ke "pasar tak kasat mata", sekaligus mengukir warisan cinta yang tak lekang waktu.


    Puisi ini menegaskan bahwa cinta sejati tak memerlukan kata-kata indah, melainkan kehadiran tulus dalam kesederhanaan. Cinta ibu terlihat dari tangannya yang tak pernah berhenti bekerja, dari kesediaannya menahan air mata agar anak-anaknya tumbuh tanpa beban, dan dari doa-doa yang dipintal di sajadah usang. Penulis menolak meromantisasi penderitaan, tetapi justru mengangkatnya sebagai bukti ketangguhan dan kesetiaan. Puisi ini adalah penghormatan pada ibu yang "berpulang dengan lega", yakin bahwa anak-anaknya akan melanjutkan perjuangan dan cintanya—meski tanpa kehadirannya. Di sini, cinta bukanlah kisah sinetron bahagia, tetapi jejak langkah ibu di keramik mall yang menyilaukan, atau sikat cuci yang tetap setia di sudut kamar mandi.


    #ardikamal #literasi #penulis #dialog #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet #penyair #penyairindonesia #syaircinta #cinta #patahhati #manusia #cinta #monologue

    7 min
  • Ekdisis (Mlungsungi)

    Sebuah Puisi: Ekdisis (Mlungsungi)

    Ditulis & Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima


    Tulisan ini menggambarkan perjalanan batin yang penuh dengan luka, pertanyaan, dan pencarian makna. Kulit yang disebut sebagai "kota mati" melambangkan diri yang telah terkikis oleh pengalaman-pengalaman pahit, seolah-olah setiap selnya menjadi tembok rapuh yang menahan beban emosi dan keraguan. Penulis mempertanyakan apakah luka-luka yang dialami akan menjadi kekuatan ("sayap") atau hanya ilusi yang tak bermakna. Ritual "mlungsungi" (mungkin merujuk pada proses introspeksi atau pelepasan) dijelaskan sebagai kuburan tempat nama-nama masa lalu dikuburkan, seolah-olah identitas lama telah mati dan menjadi nisan yang bisu, tak lagi dikenang atau dihormati.


    Tubuh digambarkan sebagai pantai yang tercabik badai, dengan sungai-sungai yang mengalir ke masa lalu, membawa kenangan yang menyakitkan. Penulis berusaha melepaskan diri dari "kulit yang membatu," tetapi yang tersisa hanyalah bayang-bayang yang bersembunyi di antara hujan, merangkak seperti ulat, mencoba bertahan di antara retakan langit dan dahan-dahan yang menua. Gambaran ini melambangkan perjuangan untuk melepaskan diri dari masa lalu yang membebani, namun tetap terjebak dalam bayang-bayang yang tak bisa sepenuhnya dihilangkan.


    Di akhir tulisan, penulis merenungkan proses perubahan dan pelepasan diri, seperti ngengat yang memakan cahayanya sendiri atau ular yang mengganti kulitnya di laut beku. Laut itu diibaratkan ada di dalam dada, dengan gelombang suara yang akhirnya terdampar sebagai diam. Museum tubuh menjadi tempat bagi patung-patung yang belum selesai, simbol dari identitas yang terus berubah dan belum menemukan bentuk akhir. Tulisan ini diakhiri dengan gambaran tengkorak di tepi sungai, bukan sebagai kematian, melainkan sebagai "ekdisis terakhir" (proses pergantian kulit) dari perjuangan yang akhirnya menemukan henti. Penulis menyatakan bahwa semua ini dilakukan "demi puisi," seolah-olah puisi adalah cara untuk mengolah luka dan menemukan kedamaian dalam prosesnya.


    #ardikamal #literasi #penulis #dialogue #dialog #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet #penyair #penyairindonesia #syaircinta #cinta #patahhati #manusia

    5 min
  • Pause (Jeda)

    Sebuah Puisi: Pause (Jeda)

    Ditulis & Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima


    Puisi ini menggambarkan kelelahan dan keputusasaan dalam menghadapi rutinitas hidup yang terasa seperti sistem teknis yang rusak. Kursor yang berkelap-kelip, sintaks error, dan hutang dalam "looping larik yang tak ada akhir" menjadi metafora untuk kebuntuan emosional dan finansial. Penulis merasa terjebak dalam siklus monoton—kerja yang tak membuahkan hasil, doa yang tak terjawab, dan mimpi yang terfragmentasi. Layar komputer yang redup dan sampah memori menjadi simbol kehidupan yang mandek, di mana harapan hanya tersimpan dalam "bahasa biner" (0 dan 1), mengisyaratkan ketidakmampuan untuk keluar dari keterpurukan.


    Ironi modernitas juga terasa kuat: upaya untuk bertahan justru berujung pada kehancuran diri. "Pop-up iklan kebahagiaan instan" yang tak bisa diklik, password yang salah ketik, serta "login ke malam-malam yang mengutuk" mencerminkan kegagalan mencari solusi di dunia digital yang semrawut. Bahkan kebutuhan dasar seperti air dan listrik pun menjadi beban ("keran bocor dan token listrik yang bernyanyi-nyanyi"). Hidup terasa seperti "bug yang tak kunjung rampung"—penuh kesalahan yang tak terselesaikan. Namun, di tengah kekacauan ini, ada upaya untuk merapikan "file-file" kehidupan, meski nama-namanya tak lagi dikenali, seperti usaha sia-sia untuk menemukan makna.


    Di balik kegelapan, puisi ini menyisipkan secercah harapan. Secangkir kopi dingin yang berbisik, "Jeda bukanlah akhir," menjadi simbol ketahanan. Meski sistem operasi hidup "usang" dan penuh error, ia bisa di-restart—proses berulang untuk bangkit dari keterpurukan. Air yang mengalir membawa "data usang" sekaligus mengingatkan bahwa jeda adalah ruang untuk bernapas dan merefleksikan "jejak error" sebagai pembelajaran. Penutupnya mengisyaratkan penerimaan: meski hati masih menunggu "buffer" yang terisi, ada syukur dalam pelan-pelan menyerup kopi, merangkul paradoks antara keputusasaan dan harapan yang terus menyala.


    #ardikamal #literasi #penulis #dialogue #dialog #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet #penyair #penyairindonesia #syaircinta #cinta #patahhati #manusia #ular #gantikulit #mlungsungi #ekdisis

    4 min
  • Tentang Luka Yang Dibungkus Kertas Notaris

    Sebuah Puisi: Tentang Luka Yang Dibungkus Kertas Notaris
    Ditulis & Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima
    Puisi ini mengkritik birokrasi dan sistem sosial yang mereduksi penderitaan manusia menjadi sekadar formalitas, diwakili oleh narator yang "mengetuk pintu-pintu, membawa puisi sebagai salam" sebagai upaya menyuarakan luka melalui seni yang justru ditolak penguasa. Sindiran terhadap elit yang mengabsahkan kesedihan lewat "sertifikat" metaforis dari "figur berkepala babi" mengejek legalisasi emosi oleh otoritas, sementara imaji "gigi emas" dan saham yang dikunyah mencitrakan keserakahan kelas berkuasa yang abai terhadap penderitaan tak terdokumentasi.
    Ketimpangan sosial dan ironi religius terasa dalam interaksi dengan ibu di stasiun yang memberi nasi bungkus sambil menyindir, "Tuhan sedang sibuk mengurus orang kaya"—sebuah kekecewaan terhadap ketidakadilan ilahiah dan sistemik yang mengabaikan kaum marginal. Kebaikan sederhana seperti nasi dalam plastik bekas yang "tak menagih utang" menjadi simbol harapan tulus yang bertolak belakang dengan dunia transaksional yang mengkomodifikasi segalanya, termasuk rasa sakit.
    Puisi menegaskan bahwa empati sejati lahir dari kesederhanaan, seperti tokoh ibu yang berbagi dalam keterbatasan, bukan dari formalitas kosong "kertas notaris" atau materialisme para pemilik "gigi emas". Pesannya adalah kritik pedas terhadap dehumanisasi penderitaan oleh birokrasi sekaligus penghormatan bagi kemanusiaan yang bertahan lewat kasih tulus, meski Tuhan "sibuk" dan dunia sibuk mengejar kekayaan.
    #ardikamal #literasi #penulis #dialogue #dialog #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet #penyair #penyairindonesia

    1 min
  • Tentang Nama Yang Dipatok Di Kuburan Kota

    Sebuah Puisi: Tentang Nama Yang Dipatok Di Kuburan Kota
    Ditulis & Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima
    Puisi Ardi Kamal Karima mengkritik materialisme dan ketimpangan sosial dalam kehidupan perkotaan melalui metafora tajam, menggambarkan kehidupan sebagai "pasar" transaksional di mana kepedulian direduksi menjadi "gemerisik lembaran di dompet". Narator sebagai "kuli" yang miskin diejek oleh elit—disimbolkan seperti "anjing menggonggong bayangannya sendiri"—menyingkap absurditas hierarki sosial: elit mengejar hal semu, sementara kelas pekerja terjebak dalam kemiskinan. Puisi ini juga menyoroti tergerusnya nilai keluarga oleh kapitalisme, lewat ironi nasihat ayah, "Jangan menangis di depan emas", yang berubah muram saat "emas" menjadi pagar nisan ibu—simbol materi yang mengubur humanisme. Spiritualitas yang tergerus industrialisasi tercermin dari doa yang "menguap jadi asap cerobong pabrik", sementara langit "berdasi" menegaskan alam yang tunduk pada struktur kota artifisial. Melalui simbol karung berlubang, debu di kuku, dan kemewahan di kuburan, puisi ini memprotes dehumanisasi yang mereduksi manusia menjadi sekadar nama di tengah kepalsuan sistem bermaterial. Dengan diksi puitis nan pedih, Karima mengajak pembaca merenungi makna hidup autentik di tengah dunia yang kian mekanistik.
    #ardikamal #literasi #penulis #dialogue #dialog #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet #penyair #penyairindonesia

    1 min
  • Kesepian Adalah Satu-Satunya Yang Tidak Pernah Pergi

    Sebuah Puisi: Kesepian adalah satu-satunya yang tidak pernah pergi

    Ditulis & Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima


    Puisi Ardi Kamal Karima menggali kedalaman kesepian sebagai pengalaman yang abadi, melampaui siklus hubungan yang sementara. Narator menggambarkan dirinya melepaskan tangan dan wajah yang tak terhitung, melukiskan betapa relasi manusia hanya datang dengan janji palsu dan pergi dengan alasan yang diciptakan sendiri. Kesepian menjadi satu-satunya kepastian dalam hidupnya, seperti "bangsal kosong" yang pernah ramai oleh kehadiran semu. Metafora rumah sakit dan pasien yang tak lagi ditengok mengisyaratkan luka emosional yang tak kunjung sembuh, di mana setiap perpisahan hanya meninggalkan kekosongan. Narator terjebak dalam lingkaran jatuh cinta dan patah hati, menyadari bahwa cinta selalu menemukan jalan untuk pergi—tanpa perlu diajari—sehingga kesepian menjadi benteng pelarian dari rasa sakit yang berulang.


    Puisi ini juga mengkritik cara realitas material merasuk ke dalam hubungan intim, bahkan ketika narator berusaha menghindarinya. Uang, yang tak pernah ditulisnya dalam puisi, justru menyusup dalam percakapan paling personal, mengganggu kemurnian cinta. Narator merasa "miskin" secara emosional, tak mampu mencintai sepenuhnya, sementara orang lain memilih pergi ke pelaminan dengan sosok lain. Kontras antara idealisme cinta dan kenyataan hidup—seperti pengangguran di pesta pernikahan—menunjukkan betapa cinta sering dikalahkan oleh tuntutan duniawi. Kebodohan dan ketidakmampuan menawar nasib palsu mencerminkan kepasrahan narator terhadap ketidakberdayaannya dalam menghadapi realitas yang keras.


    Meski cinta gagal diwujudkan, puisi menjadi medium keabadian bagi narator. Awalnya, ia percaya cinta bisa diabadikan dalam sajak, tetapi pengalaman pahit membuatnya menyadari bahwa puisi tak lagi menciptakan cinta—ia justru melampaui diksi dan mimpi. Puisi hidup "untuk seribu tahun," menjadi saksi bisu kesepian yang tak tertulis. Di tengah keputusasaan, narator memilih kesepian sebagai jalan aman, menghindari menjadi penyebab kesengsaraan orang lain. Di sini, puisi bukan lagi alat romantisasi, melainkan ekspresi jujur dari luka yang tak terelakkan. Kesepian, meski pahit, menjadi kebenaran terakhir yang bertahan, sementara cinta dan kata-kata hanya tinggal sebagai jejak yang terus mengambang dalam ruang hampa.


    #ardikamal #literasi #penulis #dialogue #dialog #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet #penyair #penyairindonesia #syaircinta #cinta #patahhati #manusia

    5 min
  • Pembunuh Mimpi

    Sebuah Puisi: Pembunuh Mimpi

    Ditulis & Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima


    Kalian bisa menemukan saya :

    Https://instagram.com/__ardikarima

    Https://Twitter.com/Ardi_karima

    https://open.spotify.com/show/5qXSYrOqMP6CTAhXuSNdYd?si=C6V-ngF6Q9W7pjoOBdgeEQ

    https://www.tiktok.com/@__ardikamal?_t=8mNxLI8EuZU&_r=1


    #ardikamal #literasi #penulis #dialogue #dialog #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet #penyair #penyairindonesia

    3 min
  • Surat-Surat Yang Tak Pernah Sampai Ke Langit

    Sebuah Puisi: Surat-Surat Yang Tak pernah Sampai Ke Langit

    Ditulis & Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima


    Puisi ini menyoroti ketimpangan sosial dan kekuasaan yang korup melalui metafora yang tajam. Bagian I dan II menggambarkan tubuh penyair sebagai "kambing hitam" yang dijual di "pasar kata-kata," simbol marginalisasi kaum lemah oleh sistem yang didominasi "kasta kekayaan." Doa-doa yang tercecer seperti receh di selokan dan kata "peduli" yang mati dalam kamus penguasa mencerminkan hilangnya empati di tengah hegemoni materialisme. Penguasa digambarkan sebagai "berhala berdasi" yang menimbang hati dengan "karat emas," menegaskan kritik terhadap oligarki yang mengubah nilai kemanusiaan menjadi transaksi ekonomi. Puisi ini mengecam dunia di mana luka dan jeritan rakyat kecil dianggap tak layak jadi jaminan, sementara kekuasaan menari di atas meja tulis Tuhan.


    Puisi ini juga menyuarakan kegagalan komunikasi dengan yang transenden, di mana surat-surat penyair tak sampai ke langit. Bagian IV dan VI mengilustrasikan kesendirian sebagai "kamar tanpa jendela," di mana Tuhan diam menghitung "tiket kehancuran" penyair, seolah-Ilahi tak peduli atau sibuk mengatur pesta oligarki di "pusat neraka." Doa dan keluh yang ditulis di "kertas basah hujan asam" hanya dirobek angin menjadi kembang api gagal, simbol harapan yang pudar. Bahkan kematian orang tua (Bagian III) hanya meninggalkan surat yang "termakan cahaya dan bayang" orang lalu-lalang, menegaskan betapa jeritan manusia tersapu dalam kesibukan dunia yang apatis. Tuhan di sini bukan figur penolong, melainkan hakim yang membagi surga dengan "golok tajam," mencerminkan krisis spiritual dan hilangnya kepercayaan pada keadilan ilahi.


    Di tengah kepedihan, puisi ini merangkul paradoks sebagai bentuk resistensi. Bagian VII mengungkap keinginan penyair menjadi "pohon tumbuh terbalik"—akar menjulang ke langit, daun menyentuh bumi—simbol pembalikan tatanan yang timpang. Ini adalah upaya menemukan makna di dunia di mana "surga sudah dibagi-bagi" dengan kekerasan, dan hidup-mati saling bertaut dalam ironi: "hidup yang mematikan" versus "mati yang menghidupkan." Bahkan ketulusan (Bagian V) yang membusuk di sampah menjadi renungan tentang kemanusiaan yang terperangkap antara sifat binatang dan manusia. Puisi ini menutup dengan pertanyaan eksistensial: apakah kehancuran hanyalah ritual rutin akhir pekan? Di balik kepahitan, tersirat upaya untuk tetap bernyawa melalui kata-kata, meski surat-surat itu tak pernah sampai.


    #ardikamal #literasi #penulis #dialogue #dialog #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet #penyair #penyairindonesia

    4 min
  • Titik Yang Tak Pernah Final

    Sebuah Dialog: Titik Yang Tak Pernah Final

    Ditulis & Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima


    Tulisan ini menegaskan bahwa nilai tertinggi bukan terletak pada keberhasilan, melainkan pada kesungguhan dalam bertindak. Narator meminta pembaca untuk tidak membaca namanya, tetapi "luka di telapak kaki" yang merepresentasi perjalanan dan usaha menyelamatkan mawar dari kebakaran. Metafora ini menyiratkan bahwa upaya penyelamatan itu sendiri—meski mungkin gagal—adalah bentuk perlawanan terhadap finalitas. Seperti api yang terus menyala, proses tersebut menjadi simbol ketulusan dan keberanian menghadapi ketidakpastian. Hasil akhir (apakah mawar selamat atau tidak) sengaja diabaikan, karena puisi ingin menekankan bahwa makna hidup terletak pada kebertahanan, bukan pencapaian yang rigid.


    Penggunaan metafora alam (kebakaran hutan, mawar) menggarisbawahi pertarungan abadi antara kehancuran dan harapan. Kebakaran hutan bisa dilihat sebagai fenomena alam yang netral—ia menghancurkan, tetapi juga memurnikan. Api disebut "tulus" karena ia jujur pada sifat dasarnya: membakar tanpa pretensi. Namun, ambivalensi muncul ketika api dihadapkan pada upaya manusia (menyelamatkan mawar). Di satu sisi, api adalah musuh; di sisi lain, ia mengingatkan manusia tentang realitas mentah yang tak terbantahkan. Mawar, sebagai simbol keindahan atau cita-cita, hanya bisa dimaknai ketika ada upaya menyelamatkannya, sekalipun lingkungan sekitar sudah hancur. Ini mencerminkan siklus alamiah di mana manusia terus bergulat antara keputusasaan dan tekad.


    Tulisan ini juga mengandung kritik halus terhadap kecenderungan manusia terjebak dalam kata-kata ("sajak-sajak yang gagal"). Penyair mempertanyakan: apakah karya seni atau ekspresi manusia cukup berarti ketika dihadapkan pada realitas keras seperti api? Nama yang tak perlu dibaca kontras dengan luka di kaki—simbol pengalaman nyata yang tak terucapkan. Api yang "tulus" bisa dibaca sebagai ironi: kehancuran justru lebih jujur daripada upaya manusia yang sering dipenuhi ilusi. Namun, ambiguitas ini sengaja dipertahankan untuk menolak jawaban final. Judul "Titik yang Tak Pernah Final" merangkum semangat ini: hidup adalah rangkaian pertanyaan yang terus bergulir, bukan jawaban yang paten. Kegagalan pun menjadi saksi atas keberanian manusia untuk tetap bergerak dalam ketidaktahuan.


    #ardikamal #literasi #penulis #dialogue #dialog #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet #penyair #penyairindonesia

    6 min
  • Tentang Tuhan Yang Bermain Catur Dengan Reruntuhan

    Sebuah Dialog: Tentang Tuhan Yang Bermain CaturDengan Reruntuhan

    Ditulis & Disuarakan oleh Ardi Kamal Karima


    Tulisan ini menggambarkan kehidupan sebagai papan catur yang retak, di mana manusia hanyalah bidak-bidak rapuh seperti daun yang diinjak roda sistem besar. Metafora "langkah-Nya terlalu cepat, tertukar dengan algoritma lalu lintas" menyiratkan ketidakberdayaan manusia di tengah percepatan modernitas yang dikendalikan oleh teknologi dan struktur tak kasatmata. Pertanyaan seperti "Apa arti 'skak mat' bila kita semua cuma pion yang dicat jadi ratu?" mengejek ilusi kekuasaan manusia, yang meski merasa menjadi "ratu", tetap terjebak dalam permainan hierarki sosial yang tak adil. Bahkan langkah-langkah hidup seolah direduksi menjadi data yang diatur oleh kekuatan di luar kendali manusia.


    Tulisan ini menelanjangi bagaimana agama dan penderitaan dijadikan komoditas. Gereja yang "menjual tisu saat air mata gratis" mengkritik institusi keagamaan yang memanfaatkan kesedihan untuk keuntungan, sementara "perusahaan asuransi yang menjanjikan langit tanpa badai" menyindir kapitalisme yang menawarkan keselamatan palsu. Billboard dianggap sebagai "altar baru", mencerminkan penyembahan terhadap konsumerisme, di mana Tuhan digambarkan sebagai "kurator di museum ilusi"—entitas yang jauh, sibuk mengurusi citra ketimbang substansi. Pertanyaan "Berapa harga tiket untuk duduk di barisan depan?" mengejek komersialisasi iman, di mana kedekatan dengan Yang Ilmu dijual layak barang dagangan.


    Tulisan ini diwarnai kegelisahan akan ketidakpastian hidup dan keheningan langit yang tak merespons. Gambaran "doa-doa terjebak di lift gedung pencakar langit" atau "Tuhan sedang rapat menentukan nasib" menyindir birokrasi ilahi yang dingin dan tak terjangkau. Tokoh seperti tunawisma yang menyebut surga sebagai "stasiun terakhir yang tak perlu ongkos" atau pilot yang melihat surga sebagai "zona waktu berbeda" mencerminkan kerinduan akan makna yang sederhana, jauh dari kompleksitas dunia. Pertanyaan repetitif seperti "bolehkah kita menuntut ganti rugi?" dan "jam berapa kita bisa klaim tuntutan?" mengekspresikan kekecewaan manusia terhadap ketidakhadiran jawaban, sekaligus ironi bahwa pada akhirnya, "kita hanya punya tombol berjalan"—simbol penerimaan pasrah dalam ketidakberdayaan.


    Ardi Kamal Karima


    #ardikamal #literasi #penulis #dialogue #dialog #jurnal #luka #perspektive #monolog #menjadimanusia #filsafat #sastra #ardikamal #puisi #poem #poet #penyair

    5 min

About Ardi Kamal Karima

From the publisher's feed

Menulis apapun yang ada pada kepala, mengkonversikannya menjadi beberapa bait, atau kosa kata, yang dipenuhi berbagai rasa yang berbeda.