
Sign up to save your podcasts
Or


Kepergian sutradara, penulis, bibliofil Richard Oh meninggalkan lubang besar di komunitas sastra dan film. Podcast @cominghome beberapa kali mengundang Richard sebagai narasumber karena dia adalah satu dari sedikit yang sudah banyak membaca buku-buku sastra internasional maupun Indonesia. Namun Kusala Sastra Khatulistiwa adalah salah satu warisan Richard yang penting. Podcast ini pernah membahasnya dengan dua penghargaan sastra lainnya yaitu Penghargaan Badan Bahasa dan Buku Sastra Pilihan Tempo. Bersama F.Rahardi dan Nurdin Kalim sebagai wakil dari kedua institusi tadi, Richard Oh membahas bagaimana dia membangun Khatulistiwa Literary Award dan mencoba memperbaikinya setiap tahun. Kami menayangkannya kembali sebagai penghormatan kepadanya.
Setelah gebrakan duo Jodi Kantor dan Megan Twohey melalui buku “She Said” yang berisi investigasi tentang produser Harvey Weinstein , pada tahun yang sama wartawan Ronan Farrow megeluarkan bukunya berjudul “Catch and Kill, Lies, Spies and a Conspiracy to Protect Predators” (Littlebrown, 2019). Keduanya sama-sama mengisahkan produser Harvey Weinstein yang puluhan tahun menyalahgunakan kekuasaannya kepada para aktris dan karyawan yang bekerja sama dengannya.
Weinstein sendiri kini akhirnya sudah divonis 23 tahun penjara untuk dua dari lima kasus yang diajukannya. Kedua buku ini yang semula dimuat secara serial di media salah satu yang mengguncang #metoomovement di Amerika, yang kemudian merebak ke berbagai negara.
Buku “Catch and Kill, Lies, Spies and a Conspiracy to Protect Predators” karya Ronan Farrow ditulis dengan gaya naratif bak sebuah film thriller, karena Ronan Farrow mendeskripsikan bagaimana produsernya di NBC menelepon dan menyampaikan bahwa laporannya dengan tema kekerasan seksual ‘ditunda’ penayangannya. Setebal 448 halaman, buku yang disusun dengan menggunakan metode jurnalistik investigasi ini akan dibahas oleh Aktivis Perempuan Tunggal Pawestri. Tunggal akan membahas buku ini sekaligus menjelaskan definisi kekerasan seksual, pelecehan seksual dan perkosaan? Kapankah kita mengetahui atau merasa ada sesuatu yang salah atau tidak patut dalam berkomunikasi –offline atau online—dengan seseorang?
“SUKARNO: Paradoks Revolusi Indonesia”
Seri Buku Tempo, Bapak Bangsa
“Sukarno tidak dimakamkan ‘di antara bukit yang berombak, di bawah pohon rindang, di samping sebuah sungai dengan udara segar.” Tidak seperti diinginkannya. Permintaan terakhirnya untuk dikuburkan di halaman rumahnya di Batutulis, Bogor, ditolak. Propspek bahwa makamnya akan menjadi tempat ziarah yang populer yang terlalu dekat dengan Jakarta merisaukan pemerintah baru….”
(“Sukarno, Paradoks Revolusi Indonesia” – hal 2).
Demikian pembukaan buku ini mengisahkan ‘rumah terakhir’ presiden pertama Indonesia dan bahkan jasad Bung Karno pun masih membuat gentar pemerintah Orde Baru. Nama Sukarno tetap dikenang oleh bangsa Indonesia dan dunia. Sukarno, bersama Hatta, akan menjadi simbol revolusi Indonesia. Kali ini @penerbitkpg menerbitkan ulang buku “Sukarno” yang merupakan kerjasama dengan @majalah.tempo
Karena buku-buku seri Tempo ini dikerjakan sebagai Edisi Khusus Tempo, maka tentu saja penulisannya menggunakan pendekatan jurnalistik, bukan sejarah. Selain sekilas jejak langkah sang proklamator yang sering disebut sebagai Putra Sang Fajar, buku ini juga menampilkan berbagai kisah keseharian Bung Karno hingga kisah cintanya yang selalu saja menarik. Tak lupa kisah anak-anak Bung Karno, terutama Megawati yang kelak menjadi Presiden Indonesia.
Kali ini program podcast “Coming Home with Leila Chudori” season 8 mengundang jurnalis Hermien Y. Kleden. Bersama-sama host Leila Chudori yang juga terlibat dalam proyek Edisi Khusus ini, Hermien Kleden akan berdiskusi dan membahas tantangan dan asyiknya membangun dan menciptakan tradisi baru di Tempo pasca bredel: Edisi Khusus. Sukarno menjadi pilihan pertama penulisan edisi khusus bertopik di masa itu. Hermien sebagai salah satu Pimpinan Proyek akan menceritakan mengapa para bapak bangsa menjadi pilihan awal dari serial ini. Selamat mendengarkan.
“Suatu pagi hari Minggu, ketika para hewan berkumpul untuk meneria perintah mingguan, Napoleon mengumumkan kebijaksanaan baru. Mulai saat itu ke depan, Pertanian Hewan akan melakukan hubungan perdagangan dengan pertanian tetangga. Bukan untuk maksud komersial, tentu saja, tetapi hanya agar bisa mendapatkan barang-barang tertentu yang sangat dibutuhkan…..”
( Republik Hewan, George Orwell)
Ini adalah terjemahan novel legendaris George Orwell “Animal Farm” ke dalam bahasa Indonesia oleh Djokolelono yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Novel yang diterbitkan pertama kali tanggal 17 Agustus 1945, “Animal Farm” –atau dalam bahasa Indonesia berjudul “Republik Hewan” --- adalah sebuah novel satiris alegori yang berkisah tentang sekelompok binatang milik Tuan Jones si pemabuk berat. Suatu hari dia lupa memberi makanan para binatang , maka terjadilah pemberontakan di bawah pimpinan anggota geng binatang bernama Napoleon dan Snowball. Para binatang berharap di bawah pimpinan baru maka akan tercipta masyarakat yang memiliki hal yang sama, demokratis dan bahagia. Ternyata, tentu saja dalam setiap perjuangan atau perubahan, selalu akan ada pengkhianatan. Segala perjuangan sia-sia karena pada akhirnya Republik Hewan di bawah pimpinan Napoleon sama buruknya dengan masa pemerintahan manusia.
Animal Farm atau REPUBLIK HEWAN yang menurut Orwell terinspirasi di masa-masa panasnya Soviet menjelang Revolusi 1917 ini adalah sebuah novel yang universal dan termasuk dalam 100 buku dalam bahasa Inggris versi majalah Time. Episode terbaru Program podcast “Coming Home with Leila Chudori" Musim Tayang 8 kini mengundang Rocky Gerung untuk membahas novel klasik ini.
“Rendra tak pernah mati: ia telah memberi kita puisi.”
Demikian Goenawan Mohamad mencatatnya sebagai seorang penyair untuk penyair, dalam “Rendra (1935-…)” . Ini salah satu tulisan Goenawan di antara 23 tulisan tentang tokoh-tokoh politik dan kesenian yang dihimpun dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia , bekerja sama dengan Freedom Institute dan Komunitas Salihara, 2021, dengan judul “Pembentuk Sejarah”. Disusun oleh empat orang: Zaim Rofiqi, Candra Gautama, Akhmad Sahal dan Rustam F.Mandayun, buku ini menguraikan renungan, ulasan, pendapat Goenawan tentang pemikiran tokoh-tokoh antara lain Bung Karno, Tan Malaka, Kartini, Gus Dur, Nurcholis Madjid, hingga sastrawan seperti Pramoedya Ananta Toer, Rendra dan Subagio Sastrowardoyo. Diambil dari berbagai sumber dan buku karya Goenawan ini , seperti diutarakan dalam Kata Pengantar Akhmad Sahal , bernada “penolakannya terhadap pemutlakan ide atau pikiran, entah dalam bentuk ideologi, utopianiasme, dogma agama, saintisme bahkan juga kategori-kategori konseptual yang mengklaim kepastian.”
Program podcast “Coming Home with Leila Chudori” Musim Tayang ke 8 Episode 2 kali ini mengundang CEO Tempo Media Arif Zulkifli yang akan membahas kumpulan esei Goenawan Mohamad ini dari berbagai segi.
BERSAMA : DEE LESTARI DAN PETTY FATIMAH
Ini adalah kisah Ping, remaja dengan anugerah musik di dalam dirinya yang nyaris sempurna. Yang telinga & suaranya bisa menyatukan harmoni musik dengan alat apapun dan memiliki pendengar sedemikian tajamnya. Ia mampu mendengar suara sehalus apapun yang tak tertangkap oleh ‘telinga biasa’.
Ping, yang nama aslinya adalah Lovinka, hidup bersama kakek Yuda Alexander di sebuah desa nun di Pangandaraan. Tetapi suatu hari, kehidupannya mendadak harus berubah. Sang kakek terpaksa menyerah pada gerogotan kanker. Lalu siapa yang akan mengurus dan membesarkan sang cucu? Yuda menyerahkan pada seseorang yang sudah lama ‘berhutang’ padanya & terutama pada Ping: Guntur Putra Sasmita, Walikota Jakarta Selatan yang mempersiapkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta.
Begitu saja Ping harus pindah ke Jakarta sebagai anak asuh pak Guntur, dicemplungkan ke sebuah sekolah, menghadapi berbagai tingkah anak kaya raya Jakarta di sebuah SMA elite Jakarta. Ping bukan saja terkejut dengan gaya hidup mereka, tetapi pada saat yang bersamaan, Ping mendapatkan kesempatan bergabung dengan band SMA: Rapijali.
Sekali lagi, Dee Lestari mengajak pembaca menyusuri kehidupan dan kegalauan remaja dengan segala seluk beluk batin Ping, Rakai, Jemima, Buto, Inggil, Lodeh yang masing-masing menyandang persoalan keluarga. Yang sungguh memukau adalah bagaimana kita bisa menikmati lagu-lagu yang dinyanyikan band Rapijali melalui ketiga buku ini dan serangkaian lagu-lagu ciptaan Dee--dinyanyikan antara lain oleh Iwan Fals, Bunga Citra Lestari-- mengisi ruh para tokoh-tokohnya.
Program podcast “Coming Home with Leila Chudori” membuka Musim Tayang ke 8 dengan obrolan asyik bersama Pemimpin Redaksi Femina @petz09 . Sang Penulis Dee Lestari @deelestari tentu saja akan bergabung dengan kami untuk menunaikan segala rasa penasaran kami: tentang mengapa 27 tahun cerita ini disimpan & baru dikeluarkan sekarang.
“Troubled Blood” (Kecamuk Darah) oleh Roberth Galbraith
Ketika Detektif Partikelir Cormoran Strike tengah berkunjung ke kampung halamannya di Cornwall, seorang perempuan meminta tolong Strike untuk mencari ibunya Margot Bamborough yang menghilang secara misterius tahun 1974 silam.
Mengulik kasus yang sudah ‘dingin’ dan terlupakan bukanlah sesuatu yang mudah. Namun detektif kita memutuskan mengendus jejak yang berusia 40 tahun itu didampingi partnernya Robin Ellacot yang dilanda perceraian yang kacau dan berantakan.
Novel setebal 933 halaman ini sudah diterjemahkan oleh Siska Yuanita (Gramedia Pustaka Utama, 2021) menjadi “Kecamuk Darah”), karena itu program podcast “Coming Home with Leila Chudori” edisi penutup season 7 akan mengundang Siska untuk berbincang tentang isi novel yang sempat melahirkan kontroversi ini; juga bagaimana Siska menerjemahkan novel setebal bantal itu menjadi “Kecamuk Darah” yang asyik sekali seperti halaman pembuka: “The Victory Inn penuh sesak pada malam bulan Agustus yang hangat ini, sehingga para pengunjung meluber keluar, ke undak-undakan batu lebar yang menurun ke pantai…”.
Episode penutup musim tayang ke 7 ini akan membahas petualangan duo Cormoran Strike dan Robin Ellacot dalam labirin kasus yang sudah berusia 40 tahun yang dituangkan dalam novel setebal 900 halaman ini. Selamat mendengarkan
FEAT DIAN SASTROWARDOYO DAN JOKO ANWAR
“Rafilus telah mati dua kali. Kemarin dia mati. Hari ini, tanpa pernah hidup kembali, dia mati lagi”
Inilah sebuah pembukaan novel berjudul “Rafilus”, salah satu karya Budi Darma yang pertama kali diterbitkan Balai Pustaka tahun 1988. Seperti juga karya-karya sebelumnya kumpulan cerpen “Orang-orang Bloomington” (1981) dan “Olenka” (1983), novel Rafilus adalah salah satu prosa Budi Darma yang menjungkir balikkan dunia. Tetapi kelebihan dari berbagai ceritanya, Budi Darma si pencerita ulung ini selalu menampilkan tokoh-tokoh utama atau tokoh pendukung yang tak mudah hilang dari benaknya.
Olenka, Fanton Drummond, Kritikus Adinan, Yorrick, Orez, Ny Eberhart, Ny. Talis. Begitu banyak tokoh, begitu banyak cerita dalam karya-karya Budi Darma, begitu banyak pujian dan penghargaan, termasuk Sea Write Awards (1984) untuk berbagai hal yang baru di dalam sastra Indonesia.
Lahir di Rembang tahun 1937 dan wafat Agustus tahun ini, Budi Darma mengabdikan hidupnya dalam dunia akademis dan sastra. Karya-karyanya yang terkemuka selain fiksi seperti Orang-orang Bloomington ,Olenka, Rafilus dan Nyonya Talis, ada beberapa kumpulan eseinya antara lain “Solilokui” yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dan juga “Harmonium”.
Podcast “Coming Home with Leila Chudori” berjudul “In Memoriam Budi Darma” akan menampilkan cuplikan dua karya Budi Darma, yakni novel “Olenka” dan “Orang-orang Bloomington” yang keduanya diterbitkan ulang oleh Noura, kelompok penerbit Mizan. Cuplikan karya-karya Budi Darma ini akan dibacakan oleh sutradara Joko Anwar dan aktris Dian Sastrowardoyo.
Seorang penulis bestseller Kunikihiko Hidaka ditemukan tewas terbunuh di rumahnya tepat sehari sebelum keberangkatannya untuk pindah ke Kanada. Kematiannya juga menggemparkan dunia industri buku, karena novel terbarunya baru saja selesai dan akan meluncur. Detektif kesayangan kita Kyochiro Kaga menyelidiki dan mengendus beberapa calon tersangka, salah satunya adalah kawan dekat Hidaka, seorang penulis buku anak Osamu Nonoguchi yang memang cemburu atas kesuksesan Hidaka. Inilah yang kita temukan dalam novel “Malice” karya Keigo Higashino (Gramedia Pustaka Utama). Selain menguak dunia industri buku yang seru dan penuh kecemburuan, seperti biasa gaya detektif Keigo yang santai sekaligus tajam dan cerdas ini membuat kita sulit melepas buku ini hingga halaman terakhir.
Kali ini program podcast @cominghomepodcast with Leila Chudori mengundang Pemimpin Redaksi Femina @petz09 Petty Fatimah mengulik novel ‘whoduunit’ ini dan membandingkannya dengan karya Hidaka lainnya.
Tengoklah market place. Dan perhatikan novel-novel yang Anda ingin beli ternyata berharga sangat murah sekitar Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu, meski harga resmi di toko buku atau toko buku online resmi novel tersebut berharga Rp 80 ribu. Buku-buku yang berpenampilan buruk karena isinya adalah hasil fotokopi dengan sampul wajah yang hasil fotokopi warna adalah hasil bajakan.
Dan percayakah Anda bahwa pembajakan di Indonesia sudah seperti industri hingga para pelakunya sudah sampai hidup makmur kaya raya dan bisa membeli beberapa rumah? Tak percaya? Coba tengok kisah bagaimana polisi menangkap pembajak buku di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Tetapi ini bukan saja soal ekonomi, industri pembajakan buku ini menunjukkan betapa kita masih jauh dari peradaban di mana hak cipta seharusnya dihargai sebagai sesuatu yang melekat pada pencipta.
Membajak atau membeli benda bajakan artinya Anda ikut mencuri hak ekonomi penulis, penerbit, ilustrator dan seluruh tim yang bekerja untuk buku yang anda beli. Dan ini penyakit ganas yang menyerupai kanker di dalam kehidupan perbukuan Indonesia.
Kali ini podcast “Coming Home with Leila Chudori” musim tayang 7 akan membahas masalah pembajakan dan bagaimana para penerbit mencoba untuk menghadapinya. Dua narasumber podcast kali ini adalah Wandi Brata, Direktur grup penerbitan Gramedia dan Haidar Bagir, Direktur Utama Mizan Grup. Mereka memberikan banyak informasi baru yang mencengangkan dari dunia buku bajakan yang sayangnya belum menjadi perhatian penting bagi pemerintah.
From the publisher's feed