
Sign up to save your podcasts
Or


Padahal gak ngerti artinya apa. Begitulah masalah anak baru di perusahaan. Belum juga auto pilot dengan scope of work, mereka juga harus belajar list jargon di perusahaan. Mau tanya, tapi malu. Akhirnya dikerjakan tapi tidak sesuai dengan ekspektasi. Hanya karena tidak mengerti arti jargon yang dimandatkan. Dalam episode ini, @ricuswoy menjabarkan bagaimana jargon itu lumayan ganggu. Lalu bagaimana kita memaksimalkan penggunaan jargon?
Komunitas Games saat ini jumlahnya makin besar. Brand seharusnya sudah masuk dalam komunitas ini melalui creative campaign. Hal ini karena untuk masuk dalam komunitas games terbilang tricky. Karena faktanya tanpa brand pun, komunitas ini sudah berkembang dengan sangat cepat. Jadi endorsement brand bukan prioritas buat mereka. Dalam episode ini, @vanyaviranda menjabarkan bagaimana cara brand untuk masuk ke komunitas ini.
“Ya loe sih enak! Kulit lo emang udah bagus, produk apa aja bisa terlihat bagus. Lah gw boro-boro?” Begini nih respon dari konsumen yang merasa terkesampingkan dari sebuah produk. Hal ini karena sudah ratusan tahun kita dicecoki dengan campaign beauty product yang seolah olah being normal is beautiful. Nah, lewat kampanye “Positive Beauty” Unilever akhirnya mengangkat isu mental health dan isu sosial lainnya yang terkait beauty product. Dalam eppisode ini, @beladienna menjabarkan rationale dari Positive Beauty Campaign Unilever.
Saat crisis communication terjadi, semua orang dalam perusahaan perlu menyatukan suara sesuai narasi yang telah disiapkan oleh Tim Public Relations. Namun, cepatnya ritme krisis juga memerlukan kecepatan tim garda depan untuk cepat merespon pertanyaan. Oleh karena itu, @sheliarp menjabarkan bagaimana chatbot bisa menjadi solusi dari permasalahan slow response ini dan permasalahan lainnya selama krisis berlangsung.
Pandemi Covid-19 memaksa eman-teman event berjibaku menciptakan hal baru untuk mau tidak mau mengakrabkan diri dengan situasi ini. Dalam episode ini, @murphlustig menjabarkan bagaimana teman-teman event menciptakan gamification dapat mendukung virtual event dalam mencapai sebuah objektif dari sebuah event dan bahkan sukses.
Suksesnya seorang founder adalah saat bisnisnya berjalan auto-pilot. Untuk mencapai hal ini, penting bagi founder agar tidak terjebak pada status 'self-employed'. Founder harus membentuk sistem agar bisnis tidak secara terus menerus bergantung pada seorang founder. Inilah salah satu insight yang didapat dari Dialogue with FX Iwan, CEO Jagartha Advisors. Simak insights lainnya dari obrolan @sekariniseruni bersama @fxiwan untuk para founders atau business owner.
There's nothing 'dark' in dark social. Karena arti sebenarnya adalah menjelaskan bagaimana konsumen ngomongin brand kita dibelakang kita dengan lebih spesifik. Tapi tantangannya memang sulit untuk kita analisa kualitas dan kuantitasnya. Harusnya ini bagus banget sih walau ada beberapa contoh negatif dari dark social ini. Hal ini seperti yang dijabarkan @neilycholida dimana dark social masih tetap bisa di-maintain kok. Nah, selain dark social, di episode ini masih ada dua hal lagi yang harus dan gak boleh dicuekin sama para marketers.
Dari dulu marketing playbook selalu berubah. Tapi building customer trust tidak pernah berubah. Yang berubah adalah bagaimana word-of-mouth itu bisa sampai ke telinga kita. Misalnya, dulu belum ada customers review, sekarang kalau mau beli produk pasti liat review nya dulu. Nah dalam episode ini, @karisamanda menjabarkan ada banyak banget golongan orang-orang atau medium yang paling dipercaya oleh konsumen dalam meng-influence keputusan mereka untuk membeli. Yang pasti tiap konsumen punya preferensi yang beda terkait siapa mereka paling percaya.
Anak agensi pasti familiar dengan request ini dari client. Tapi pasti kebawa mimpi saat harus bikin viral dengan keterbatasan budget dan "ke-kekeuhan" client dimana semua konten berbau brand harus masuk dalam materi yang mau diviralin. Mmm jogetin aja dulu lah. Balik ke episode ini, selain besarnya budget amplifikasi, @ricuswoy menjabarkan beberapa emosi yang perlu dimasukin ke dalam iklan ataupun materi yang akan dipakai untuk viral. Iklan Sasa contohnya yang pake emosi marah dan bentak-bentak. Itu adalah salah satu emosi yang bisa dipakai dalam materi yang dipakai untuk viral.
Tenang tenang! Yang bikin caption ini juga Anak Android kok. Tapi karena omongan soal Clubhouse rame banget, jadi ya sok-sokan relate aja deh biar hype. Anyway, ngomongin Clubhouose, brand kayaknya masih lihat-lihat sikon ya kapan harus masuk ke platform social audio ini. Banyak banget sih pertimbangannya untuk hold. Salah satunya adalah takut kalo CEO kita kepeleset ngomong terus keterusan. Tapi dalam episode ini, @sheliarp setuju kalau brand masuk dan memposisikan diri di Clubhouse.
From the publisher's feed
Berawal dari obrolan weekly tim, semoga podcast Dialog in Dialogue ini dapat menyumbang nutrisi bagi para insan komunikasi yang haus akan informasi dan tren komunikasi…