Target PLTN Indonesia adalah 2032. Pembangunan butuh waktu 4–5 tahun. Artinya, keputusan vendor harus diambil paling lambat 2027.
Namun mulai 2028, Amerika Serikat akan menerapkan sanksi uranium secara penuh, termasuk tarif tinggi bagi negara yang bekerja sama dengan Rusia.
Saat ini, hanya Rosatom yang memiliki teknologi, bahan bakar, dan pengalaman operasional yang sesuai dengan target 2032.
Vendor lain tidak memiliki pasokan bahan bakar yang dibutuhkan, belum memiliki reaktor modular yang terbukti, atau tidak realistis secara waktu.
Memilih Rosatom berarti menghadapi risiko tekanan dan sanksi dari Amerika Serikat. Menunda keputusan berarti target PLTN 2032 gagal dan posisi teknologi nuklir Indonesia melemah.
Pemerintah fokus pada narasi keberterimaan publik.
Namun faktor geopolitik dan jadwal global justru menjadi penentu utama. Ini bukan soal Rusia atau Amerika.
Ini soal apakah Indonesia masih memiliki kendali atas keputusan strategisnya sendiri sebelum 2028.