
Sign up to save your podcasts
Or


Amerika Serikat mengerahkan kapal induk, sanksi, dan ancaman terbuka terhadap Iran.
Respons yang muncul justru memperlihatkan batas kekuatan Washington. Iran tidak mundur.
Rusia dan China memberi sinyal penangkal yang jelas. Negara-negara Arab mulai membatasi ruang gerak militer AS. Eropa memilih menjaga jarak.
Di tengah tekanan ekonomi, risiko energi, dan kalkulasi politik domestik, Amerika menunda langkah militernya.
Episode ini membedah bagaimana krisis Iran membuka satu fakta penting: Amerika tidak lagi bisa memaksakan kehendak secara sepihak di sistem internasional yang semakin multipolar.
Kedigjayaan Starlink beserta mitosnya dipatahkan di Iran, negara yang hampir 5 dekade di cekik sanksi Amerika Serikat. Starlink yang kini menjadi alat geopolitik AS, justru memandu penangkapan ratusan sel Mossad di Iran. Simak bagaimana Iran bisa menyabotase Starlink dan menggagalkan pergantian rezim.
Arab Saudi tidak menginginkan terjadi perang IranāASāIsrael. Bagi Riyadh, perang bukan soal keamanan, tapi soal harga minyak.
Iran yang keluar dari sanksi berarti pasokan global meningkat dan harga turun. Harga rendah berarti tekanan anggaran dan risiko ketidakstabilan fiskal bagi Arab Saudi.
Episode ini membahas bagaimana sanksi, pasokan minyak, dan tekanan pasar membuat Arab Saudi terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama berisiko.
Target PLTN Indonesia adalah 2032. Pembangunan butuh waktu 4ā5 tahun. Artinya, keputusan vendor harus diambil paling lambat 2027.
Namun mulai 2028, Amerika Serikat akan menerapkan sanksi uranium secara penuh, termasuk tarif tinggi bagi negara yang bekerja sama dengan Rusia.
Saat ini, hanya Rosatom yang memiliki teknologi, bahan bakar, dan pengalaman operasional yang sesuai dengan target 2032.
Vendor lain tidak memiliki pasokan bahan bakar yang dibutuhkan, belum memiliki reaktor modular yang terbukti, atau tidak realistis secara waktu.
Memilih Rosatom berarti menghadapi risiko tekanan dan sanksi dari Amerika Serikat. Menunda keputusan berarti target PLTN 2032 gagal dan posisi teknologi nuklir Indonesia melemah.
Pemerintah fokus pada narasi keberterimaan publik.
Namun faktor geopolitik dan jadwal global justru menjadi penentu utama. Ini bukan soal Rusia atau Amerika.
Ini soal apakah Indonesia masih memiliki kendali atas keputusan strategisnya sendiri sebelum 2028.
Uni Emirat Arab mencoba menggeser kepemimpinan Arab Saudi di kawsan Teluk. Menggandeng Israel, UEA kini menancapkan kekuasaannya di tanduk Afrika dengan destabilisasi dan kontrol atas pelabuhan.
From the publisher's feed