Yesus datang bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan. Bukan berarti universalisme - semua orang akan diselamatkan, dan bukan tidak ada penghakiman. Tetap ada penghakiman (ay. 48), tetapi yang menghakimi bukan Yesus. Firman yang sudah pernah didengar dan diucapkan. Firman itu akan menjadi hakim pada akhir zaman, dan perbuatan kita sendiri yang kita lakukan kepada orang lain. Apakah perbuatan tersebut menurut hati, jiwa dan akal budi secara kompak, bersamaan atau malahan melalui perang batin yang hebat, dan kemudian tinggal siapa yang menang.
Berdasarkan ayat 47 ini, Yesus tidak menjadi hakim, Yesus datang bukan untuk menghakimi dunia (bdk. Yoh 3), melainkan menjadi pembela untuk menyelamatkan. Kita manusia berdosa ini gampang sekali menghakimi. Apalagi kalau orang tersebut adalah orang yang melukai kita, kita lebih judgemental lagi. Bahkan mengutip ayat-ayat untuk melampiaskan kekesalan, kemarahan, termasuk dendam, namun dilemparnya kepada Tuhan, bukan kepada manusia. Tetapi, kalau kita membaca bagian ini, ada bagian yang indah, bahwa Saudara dan saya dipanggil untuk seperti Kristus waktu kita mengalami penolakan, tidak dipercaya, dsb., yaitu konsistensi mengasihi, konsistensi Injil, datang bukan untuk menghakimi melainkan menyelamatkan. Yesus mengajak kita semua untuk bisa menikmati kehidupan kekal.