
Sign up to save your podcasts
Or


Menjadi bucin juga terjadi kepada pembaca. Seperti Hestia misalnya. Bucin terhadap penulis menjadikannya langsung membeli karya-karya penulis yang ia sukai. Siapa sajakah mereka?
Persimpangan yang dekat dengan kita adalah pilihan untuk menerima diri atau malah mencoba untuk bersikap "denial" dengan keadaan. Sangat sering terjadi, ada perasaan dendam terhadap masa lalu yang masih kita bawa hingga sekarang. Pada bukunya yang berjudul Love for Imperfect Things, Haemin Sunim membahas mengenai pentingnya mencintai diri sendiri sebelum akhirnya orang lain bisa mencintai diri kita juga. Sama halnya dengan berada di persimpangan, jangan sampai kita malah lupa diri kita sendiri hanya karena melihat orang lain yang tampak lebih sukses/cantik/kaya dari kita.
Berkat buku dan hidup di era internet, pertemanan pun bisa dengan mudah terjalin. Acara-acara perbukuan yang mulai menjamur bisa dijadikan lahan basah untuk mendapatkan kenalan baru. Kalimat pembuka percakapannya tentu saja dari buku-buku. Dan bukanlah hal yang tidak mungkin jika karena buku, bisa punya teman dekat. Hari ke-10 dari tantangan 30 Hari Bersuara bertemakan "Pertemanan" menceritakan pengalaman Hestia tentang berteman karena buku.
Tulisan Agatha Christie mungkin terasa aneh jika dijadikan bacaan keluarga. Tapi itu benar terjadi. Ten Little Niggers atau And Then There Were None adalah karya Agatha Christie yang akhirnya dibaca oleh seluruh keluarga. Bukan karena paksaan, melainkan karena saling merekomendasikan sesama anggota kelurga. Ibu merekomendasikan kepada anak dan akhirnya sang ayah pun juga ikut tergoda untuk mencoba membacanya. Episode ini merupakan episide ke-9 dari rangkaian tantangan 30 Hari Bersuara by The Podcasters Indonesia dengan tema "keluarga."
Bertemakan "Pasangan" di hari kedelapan dari rangkaian tantangan 30 Hari Bersuara by The Podcasters Indonesia ini mari kita bahas buku Konbini Ningen. Cerita tentang Keiko yang merasa terusik karena bagi orang-orang di luar "konbini" atau minimarket, Keiko yang tidak segera memiliki pasangan merupakan hal yang aneh. Bahkan Keiko dianggap aib oleh keluarganya sendiri. Perihal hidup sendiri seperti Keiko dan cibiran mengenai tidak segera mendapat pasangan juga terjadi di Indonesia. Tetapi, pernah kita menyadari bahwa pertanyaan sepele seperti, "mana pacarnya?" atau "gimana kisah cintamu?" membuat orang lain kurang nyaman?
Berkat tuntutan skripsi yang menggunakan buku trilogi The Hunger Games, rasa penasaran terhadap buku-buku distopia klasik pun muncul. Dari sanalah, pendekatan terhadap genre distopia dimulai. Dari 1984 milik Orwell, The Handmaid's Tale-nya Atwood, hingga Fahrenheit 451 karya Ray Bradburry. Tema hari ketujuh tantangan 30 Hari Bersuara by The Podcasters Indonesia: PDKT.
Belum cocok dengan satu penulis tertentu bukan berarti tidak akan menemukan tulisan yang pas. Dengan eksplorasi, kita bisa berjumpa dengan penulis yang namanya asing namun rupanya tulisannya sesuai dengan minat kita. Holy Mother karya Akiyoshi Rikako mengantarkan pada perkenalan dengan penulis Jepang perempuan lain seperti Minato Kanae. Episode keenam ini mengangkat tema "Perjumpaan."
Manusia yang memang makhluk yang tidak pernah puas rasanya perlu untuk mengendalikan pikirannya. Memahami bahwa setiap kali ada keinginan, perlu ditilik ulang apakah benar itu yang dibutuhkan atau cuma sebatas dorongan emosi yang impulsif. Buku Into the Magic Shop yang ditulis oleh James R. Doty mengajak pembaca untuk mengevaluasi keinginan kita. Betulkan itu yang terbaik atau jangan-jangan keinginan itu muncul karena tuntutan dari keadaan sosial. Episode kelima ini mengangkat tema "keinginan" dan masih menjadi rangkaian dari tantangan #30HariBersuara by The Podcasters Indonesia.
Membahas tentang "rencana" bagaimana kalau dikaitkan dengan kematian? Bagaimana sih manusia sebaiknya membekali diri untuk mempersiapkan ajalnya? Melalui buku "How to Die" Seneca menekankan bahwa manusia hendaknya menemukan kerjaan dalam dirinya sendiri semata-mata agar kematiannya tidaklah sia-sia. Dalam episode ini, dibahas betapa pentingnya memahami diri sendiri untuk merencanakan kehidupan yang bisa menyambut kematian dengan suka cita.
This Changes Everything merupakan buku karya Naomi Klein yang terbit tahun 2014. Buku itu secara blak-blakan membuka bagaimana kapitalisme berusaha menekan narasi global warming yang coba digaungkan oleh para aktivitas lingkungan dan ilmuwan. Membaca This Changes Everything membawa kepada sebuah keputusan bahwa tidak bisa kita diam saja. Sebagai konsumen, rasanya perlu untuk menjadi kritis hingga bersusah-susah mencari tahu ada apa di balik produk yang kita konsumsi. Apakah benar melalui proses yang "green" atau malah hanya menggunakan label tersebut untuk mendongkrak keuntungan saja? Episode ketiga musim kedua dari Hzboy Reads Podcast merupakan bagian dari tantangan #30HariBersuara by The Podcasters Indonesia dengan tema hari tiga: keputusan.
From the publisher's feed