Dalam acara hari ini, informasi yang akan dibagikan antara lain (1) perusahaan Taiwan yang turut hadir di pameran tekstil internasional di Indonesia, (2) kisah pria yang merasa diperas oleh sang ayah, tapi ternyata menyimpan alasan yang mengharukan, (3) mahasiswa Indonesia menjadi korban perdagangan manusia, (4) kasus keracunan makanan di restoran vegetarian terkait dengan racun tempe bongkrek.
Perusahaan Manufaktur Taiwan Hadir di Pameran Tekstil Internasional Indonesia
Asosiasi Tekstil Taiwan mengumumkan bahwa "Pameran Internasional Tekstil dan Aksesoris Pakaian" (INATEX) yang diadakan bulan ini di Jakarta, ibu kota Indonesia, telah menarik 8 perusahaan manufaktur dari Taiwan untuk berpartisipasi. Acara ini dikunjungi oleh lebih dari 800 pembeli, terutama dari pedagang, pemilik merek, dan desainer dari Indonesia, yang menanyakan benang, kain, dan produk pakaian untuk olahraga dan rekreasi, menciptakan peluang bisnis senilai lebih dari 600 juta dolar AS (sekitar 1,9 miliar NT).
Menurut Asosiasi Tekstil Taiwan, INATEX kali ini dihadiri oleh 600 peserta dari 16 negara, termasuk Jepang, Swiss, Belanda, Tiongkok, Vietnam, India, dan lain-lain, selain Taiwan dan Indonesia. Pameran ini menampilkan berbagai mesin tekstil, mesin pencelupan, peralatan jahit, benang, kain, aksesoris, dan produk pakaian, semuanya menghadirkan inovasi teknologi dan aplikasi baru dalam industri pakaian.
Asosiasi Tekstil Taiwan juga mencatat bahwa Indonesia merupakan pasar ekspor tekstil terbesar keempat dan sumber impor tekstil terbesar ketujuh bagi Taiwan. Oleh karena itu, Indonesia merupakan pasar yang penting bagi produsen tekstil Taiwan, dan INATEX adalah pameran tekstil dan aksesoris pakaian terbesar dan paling lengkap di wilayah Indonesia.
Pameran ini menarik 20.000 pengunjung dari 26 negara, termasuk perwakilan merek pakaian lokal Indonesia. Perusahaan tekstil Taiwan yang berpartisipasi dalam pameran ini termasuk perusahaan publik seperti Ta Fu (1454), San Fang (1307), dan Chang Hsing (1717), serta Nonsibi, Ju Hong, San Rong, Feng Shang, dan Yi Xiang, dengan produk-produk benang, kain, dan pakaian yang menggabungkan estetika, fungsionalitas, dan keberlanjutan.
(foto: Asosiasi Pengembangan Tekstil Taiwan)
19 Tahun “Diporoti” Ayahnya, Pria Ini Menyesal Seumur Hidup Setelah Mengetahui Ada Rahasia Dibaliknya
Seorang pria di Taiwan dihantui rasa penyesalan setelah mengetahui rahasia mendiang ayahnya.
Pria itu, yang tidak disebutkan namanya, menceritakan kisahnya di forum online. Dia mengaku selalu membenci ayahnya karena menuntut uang bakti sebesar NT$25 ribu (Rp12,3 juta) setiap bulan.
Penghasilan pria itu sekitar NT$70-80 ribu per bulan. Gara-gara dipotong sebesar 25 ribu per bulan, dia jadi tidak bisa bersenang-senang. Pria itu mengaku merasa iri dengan teman-temannya yang bisa membeli mobil dan bersenang-senang, sedangkan dia harus hidup sederhana.
Ketika menikah, ayahnya tidak mau membantu membelikan rumah, sehingga dia memutuskan untuk memutuskan hubungan dengan ayahnya.
Meskipun tidak lagi berhubungan, dia tetap memberikan uang bakti kepada ayahnya karena merasa kasihan dan ayahnya adalah orang tua tunggal.
Baru-baru ini, dia menerima kabar buruk dari bibinya bahwa ayahnya telah meninggal.
Awalnya, dia tidak ingin terlibat dalam pemakaman, tetapi bibinya memberinya sebuah buku tabungan.
"Ternyata selama 19 tahun, ayah tidak pernah menyentuh uang "孝親費" itu sama sekali. Dia menyimpannya semua," ungkap pria itu.
Dia baru menyadari bahwa ayahnya melakukan itu karena dia khawatir dia tidak akan memiliki apa-apa di masa depan karena kebiasaan berjudi dan berkelahi di masa mudanya.
Pria itu diliputi rasa penyesalan karena dia telah menyimpan dendam selama bertahun-tahun, dan sekarang sudah terlambat untuk menebus kesalahannya kepada ayahnya.
Kisah ini menyentuh hati banyak orang di forum online.
Banyak yang merasa sedih dan menyesal atas apa yang terjadi pada pria itu.
"Penyesalan terbesar dalam hidup adalah ketika ingin berbakti, orang tua sudah tiada," komentar seorang netizen.
Namun, ada juga yang tidak bersimpati dengannya.
"Kamu tidak pantas dikasihani. Kamu sama seperti kakakku, yang selalu membenci ayahku, meskipun ayahku selalu memikirkannya," kata seorang netizen.
Ada juga yang tidak menyalahkan pria itu karena ayahnya tidak memberitahunya kebenarannya.
Ada juga warganet yang menganggap keputusan sang ayah kurang bijak karena inflasi telah menggerus nilai uang itu.
Terlepas dari pro dan kontra, kisah ini menjadi pengingat bagi kita untuk selalu menghargai orang tua kita selagi mereka masih ada.
Ilustrasi ayah dan anak laki-laki (foto: Grid.id)
Mahasiswa Indonesia menjadi Korban Perdagangan Manusia
Belum lama ini, Bareskrim Polri membongkar kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang berkedok penawaran program magang (ferienjob) ke Jerman.
Kasus ini mulai terkuak setelah 4 orang mahasiswa yang mengikuti ferienjob melapor ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jerman. Melansir laman KBRI di Berlin, Jerman, ferienjob bukanlah program magang, tapi sebuah program kerja paruh waktu (part-time) dalam masa libur.
Para mahasiswa awalnya mendapatkan sosialisasi penawaran program di kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Saat itu, seorang dosen dengan inisial SS dari perguruan tinggi yang berada di Provinsi Jambi, bersama dengan sebuah tim menawarkan program magang ke Jerman yang disebut-sebut sebagai program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kemendikbud Ristek. Menurut keterangan, program tersebut bisa dikonversikan dalam 20 sks.
Dalam penawaran dan sosialisasi berikutnya, disebutkan bahwa PT SHB dan CV-Gen merupakan perekrut yang meyakinkan UNJ bahwa mereka merupakan badan resmi. Program magang mereka pun telah diakui oleh pemerintah Jerman dan Indonesia.
Selanjutnya, para mahasiswa dimintakan biaya pendaftaran sebesar Rp150 ribu, pembuatan LOA sebesar 150 euro, pembuatan working permit sebesar 200 euro, dan dana talangan sebesar Rp30-50 juta yang selanjutnya akan dipotong dari penerimaan gaji di Jerman setiap bulannya.
Setelah tiba di Jerman, para mahasiswa diminta untuk menandatangani surat biaya penginapan dan transportasi. Mereka pun kemudian dipekerjakan secara non prosedural dan bekerja seperti buruh kasar, sehingga mereka pun tereksploitasi.
Selanjutnya UNJ menerima keluhan dari mahasiswa dan diperolehlah informasi bahwa program ferienjob adalah program bekerja dan bukan program magang. Bekerja sama dengan KBRI Berlin, seluruh mahasiwa UNJ pun dipulangkan ke Indonesia di akhir Desember 2023.
Setelah kasus tersebut terkuak, Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Djuhandhani Rahardjo Puro menyampaikan, bahwa kasus ini merupakan tindak perdagangan orang (TPPO) dengan modus pengiriman mahasiwa magang ke Jerman. Ia juga mengungkapkan, bahwa PT SHB tidak terdaftar dalam MBKM Kemendikbud Ristek maupun perekrut di Kemenaker.
Para mahasiswa pun dipekerjakan secara ilegal atau nonprocedural dan tereksploitasi.
Selanjutnya terindikasi ada 33 kampus yang terlibat dalam kasus ini, meskipun nama-nama kampus tersebut belum diketahui. Seluruh pihak, baik perguruan tinggi maupun swasta diminta untuk menghentikan keikutsertaan program ferienjob ini karena adanya berbagai pelanggaran.
Menurut data, pada tahun 2022 setidaknya telah ada 752 kasus TPPO. Polanya yaitu dengan mengiming-imingi tawaran bekerja di luar negeri yang menggiurkan.
Masyarakat pun diminta untuk lebih waspada untuk menerima tawaran dari pihak asing.
Kasus Keracunan di Polam Kopitiam Ternyata Ada Hubungannya dengan Tempe Bongkrek?
Kasus keracunan makanan di Polam Kopitiam Xinyi A13 per tanggal 27 Maret 2024 telah menimbulkan 2 korban jiwa dan 8 orang lainnya harus mendapatkan perawatan.
Seorang dokter yang tidak disebutkan namanya berspekulasi, bahwa penyebabnya kemungkinan adalah racun asam bongkrek (Bongkrekic Acid) yang 1mg saja dapat berakibat fatal.
Awal kasus ini terjadi setelah 2 warga Kota New Taipei makan siang di Polam Kopitiam Xinyi A3 pada tanggal 22 Maret lalu. Mereka kemudian mengalami gejala mual, sakit perut, dan diare setelah makan kwetiau, sehingga mereka dicurigai keracunan makanan.
Berdasarkan laporan UDN, seorang dokter yang tidak ingin disebutkan namanya berspekulasi bahwa penyebabnya kemungkinan adalah racun asam bongkrek yang berasal dari beras atau produk beras yang difermentasi dengan tidak benar. Menurutnya, 1mg racun tersebut bisa berakibat sangat fatal.
Patut diketahui, asam bongkrek merupakan racun yang sangat berbahaya dan dapat ditemukan di makanan yang difermentasikan, termasuk berbagai jenis mi basah dan kue basah. Racun ini terjadi dalam fermentasi kelapa atau jagung yang terkontaminasi bakteri Burkholderia gladioli strain cocovenenans
Mengapa namanya asam bongkrek?
Pada tahun 1895, terjadi wabah keracunan makanan di Jawa, Indonesia. Wabah tersebut disebabkan oleh konsumsi makanan tradisional Indonesia bernama tempe Bongkrek. Selama ini tempe Bongkrek menjadi sumber protein utama di Jawa karena harganya yang murah. Tempe Bongkrek dibuat dengan cara mengekstrak sisa daging kelapa dari santan menjadi bentuk kue, yang kemudian difermentasi dengan jamur R. oligosporus. Wabah keracunan Bongkrek oleh tempe Bongkrek pertama kali dicatat oleh peneliti Belanda, meskipun tidak ada penelitian lebih lanjut untuk menemukan penyebab keracunan yang dilakukan pada tahun 1895.
Sebelumnya di Kabupaten Jidong, Provinsi Heilongjiang, Tiongkok pada tahun 2020 lalu sempat terjadi sebuah kasus kematian massal akibat “mi asam” (酸湯子) yang telah dibekukan selama 1 tahun. Makanan ini merupakan makanan serupa dengan udon yang dibuat dengan cara memfermentasi jagung ke dalam air. Saat itu jamuan makan untuk kerabat dan teman berubah menjadi petaka yang mengakibatkan 9 kematian. Saat itu, Departemen Makanan dari Komisi Kesehatan Provinsi Heilongjiang mengeluarkan pernyataan yang menyatakan bahwa konsentrasi asam oryzae yang tinggi terdeteksi pada tepung jagung, ditemukan pada cairan lambung pasien. Awalnya penyebab kematian adalah kontaminasi cocotoxin Pseudomonas dan fermentasi dari asam oryzae.
Kasus keracunan makanan serupa dengan udon ini juga sempat terjadi di tahun 2015 di Liaoyang, Provinsi Liaoning, Tiongkok. Mereka meninggal hanya dalam waktu 30 jam setelah dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan darurat. Saat itu, dokter menyampaikan, bahwa mi asam yang dikonsumsi telah terkontaminasi, membuatnya 20 kali lipat lebih beracun daripada arsenik.