Dalam acara ini, topik yang dibahas antara lain adalah (1) pembebasan penggunaan masker, (2) plat kendaraan yang tidak disukai di Taiwan, (3) Taiwan meraih peringkat 20 besar dari negara-negara atau wilayah terkaya di dunia, dan (4) kisah inspiratif Melati R. Wijsen, Gen Z yang berhasil membuat perubahan ramah lingkungan dari Indonesia.
Taiwan akan Membebaskan Penggunaan Masker, Termasuk di Rumah Sakit
Masyarakat yang berkunjung ke fasilitas medis seperti rumah sakit dan klinik, serta panti jompo, tidak lagi diharuskan memakai masker mulai tanggal 19 Mei, mengakhiri semua mandat penggunaan masker di Taiwan, demikian pernyataan dari Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) pada Rabu, 8 Mei 2024.
Setelah mandat tersebut dicabut, hanya akan “disarankan” bahwa individu yang mengunjungi fasilitas medis atau kesejahteraan lansia tersebut memakai masker.
Keputusan tersebut diambil oleh panel ahli berdasarkan fakta bahwa COVID-19 telah stabil dan terkendali di Taiwan dan langkah-langkah pengendalian pandemi telah dilonggarkan di seluruh dunia.
Ketika ditanya mengapa mandat tersebut tidak akan dicabut hingga tanggal 19 Mei dan bukan segera dicabut, Wakil Direktur Jenderal CDC Tseng Shu-hui (曾淑慧) mengatakan kepada CNA bahwa ada pedoman yang perlu direvisi, dan ini akan memakan waktu.
Mandat penggunaan masker di fasilitas medis dan panti jompo yang diberlakukan sejak 1 Desember 2020 telah berlaku selama lebih dari 1.000 hari, sementara pembatasan di tempat lain menjadi semakin tidak lazim.
Meskipun mandat masker akan segera dihapuskan, CDC pada hari Senin mengumumkan penerapan program alat tes cepat di rumah gratis untuk mendorong penggunaan sekitar 10 juta alat tes cepat COVID-19 yang akan segera mencapai tanggal kedaluwarsa.
Dalam siaran persnya pada hari Senin, CDC mengatakan inisiatif ini dirancang untuk memaksimalkan efektivitas bahan-bahan pencegahan epidemi yang ditimbun dan “memastikan akses tepat waktu terhadap perawatan medis yang tepat bagi populasi rentan melalui deteksi dini.”
Penggunaan masker di Taiwan (foto: CNA)
Pelat Nomor Kendaraan yang Paling Tidak Disukai Warga Taiwan! Kenapa Ya?
Bagi banyak orang, pilihan huruf dan angka pada pelat kendaraan tidak hanya berfungsi sebagai identifikasi semata, tetapi juga memiliki makna keberuntungan atau simbolisme khusus. Karena itu, saat membeli mobil baru, banyak orang di Taiwan akan memilih pelat nomor yang dianggap beruntung atau memiliki arti tertentu.
Pada Selasa kemarin (7/5), Kementerian Transportasi dan Komunikasi (MOTC) melalui Biro Jalan Raya (THB) merilis hasil survei terkait "4 kelompok" kode huruf paling tidak populer.
THB menjelaskan bahwa setiap orang memiliki perspektif yang berbeda terhadap kode huruf pelat nomor. Untuk mengumpulkan pandangan yang beragam sebagai referensi pembuatan pelat nomor di masa mendatang, maka semenjak tahun 2021, kode pelat nomor yang akan diproduksi dalam dua tahun ke depan dipublikasikan melalui situs layanan manajemen lalu lintas untuk disurvei.
Tahun 2024 ini, survei terkait kode huruf pelat nomor kendaraan dilakukan mulai 16 Februari hingga 16 April. Jenis kendaraan yang disurvei meliputi mobil penumpang pribadi (dan niaga kelas ringan), sepeda motor, mobil sewaan penumpang, truk besar (termasuk truk gandeng) dan masih banyak lagi.
Terdapat total 11 kelompok kode huruf yang disurvei, dan sebanyak 3.398 orang berpartisipasi dalam pemungutan suara kali ini.
THB telah merilis hasil survei yang menunjukkan bahwa empat kelompok kode pelat nomor dianggap tidak layak oleh lebih dari 10% responden. Kode tersebut adalah "CDC" (singkatan dari Pusat Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan) dan "CGG" (pengucapan GG yang memiliki konotasi negatif) untuk mobil penumpang pribadi, "PGY" (pengucapan GY yang memiliki konotasi negatif) untuk sepeda motor kelas, serta "RGG" (pengucapan GG yang memiliki konotasi negatif) untuk mobil penumpang sewaan.
THB menekankan bahwa hasil survei ini akan menjadi referensi dalam produksi pelat nomor untuk masa mendatang. Empat kelompok kode yang dianggap tidak layak oleh lebih dari 10% responden akan ditangguhkan pembuatannya untuk sementara waktu. Namun, ini tidak berarti bahwa semua kode akan diproduksi tahun ini, karena jadwal distribusi pelat nomor selanjutnya akan ditentukan berdasarkan kebutuhan setiap tahun.
Peringkat 100 Negara dan Wilayah Terkaya di Dunia 2024 Dirilis! Peringkat Taiwan Melampaui Tiongkok, Jepang, Korea Selatan
Meskipun ukurannya kecil, Taiwan sebenarnya memiliki kekayaan yang cukup besar. Majalah keuangan terkenal di Amerika Serikat, Global Finance, baru-baru ini merilis peringkat "100 Negara Terkaya di Dunia 2024".
Menurut laporan dari ETtoday News Cloud dan China Times, posisi teratas dalam peringkat "100 Negara Terkaya di Dunia 2024" dipegang oleh negara Eropa, Luksemburg.
Di belakangnya, yakni peringkat kedua ditempati oleh Makau, disusul oleh Irlandia di posisi ketiga, Singapura di urutan keempat, dan Qatar di peringkat kelima.
Peringkat Taiwan tahun ini sangat mengejutkan, berada di posisi ke-14. Taiwan tidak hanya mengungguli wilayah Asia lainnya, sebut saja peringkat ke-15 Hong Kong, peringkat ke-30 Korea Selatan, peringkat ke-36 Jepang, dan peringkat ke-78 Tiongkok, tetapi Taiwan juga berhasil melampaui negara-negara maju seperti Jerman, Kanada, dan Inggris.
Peringkat "100 Negara Terkaya di Dunia" didasarkan pada beberapa indikator, termasuk produk domestik bruto (PDB), PDB per kapita, pertumbuhan PDB per kapita, daya beli per kapita setelah mempertimbangkan inflasi, kemudahan akses ke layanan sosial seperti kesehatan, pendidikan, keamanan, dan perumahan, serta harga energi dan makanan.
Wawancara Khusus: Melati R. Wijsen, Gen Z dengan Segudang Prestasi Perubahan Ramah Lingkungan
Melati adalah seorang perempuan muda kelahiran 19 Desember 2000, keturunan campuran Indonesia-Belanda yang tinggal di Bali.
Pada akun Instagram pribadinya, Melati Riyanto Wijsen yang akrab dipanggil Melati ini menuliskan "a full time changemaker" pada bio-nya. Bukan tanpa alasan, Melati memang benar-benar sudah berhasil membuat perubahan.
Sebagai pencinta lingkungan, Melati mendirikan sebuah organisasi Bye Bye Plastic Bags (BBPB) untuk membuat perubahan baik. Gerakan BBPB akhirnya berhasil membuat Pemerintah Provinsi Bali melarang penggunaan kantong plastik, sedotan, dan gabus sintesis pada tahun 2019.
Oleh karena itu, BBPB dapat berkembang lebih besar lagi menjadi gerakan internasional yang dipimpin oleh anak muda dan bergerak di 50 lokasi di seluruh dunia.
Selain fokus berkegiatan di Bye Bye Plastic Bags, Melati juga mulai mengembangkan Youthtopia. Youthtopia merupakan platform komunitas bagi pembuat perubahan muda (youth changemaker) untuk mewujudkan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) PBB.
Awal dibuatnya Youthtopia adalah ketika Kak Melati bertemu dengan banyak anak muda seumurannya dalam kegiatan yang diadakan BBPB.
Oleh karena itu, Melati mendirikan Youthtopia untuk membantu youth changemaker belajar satu sama lain dan mempercepat perubahan.
Bersumber dari situs resminya, Youthpedia sudah bekerja sama dengan 5 juta komunitas di berbagai platform dan media sosial, di 72 negara-negara dengan perwakilan anak muda dari seluruh dunia.
Melati bukan saja dapat membuat perubahan besar, ia juga dikenal sebagai aktivis lingkungan berprestasi.
Dengan beragam pencapaian yang berhasil diraih, Melati sudah dipercaya menjadi pembicara di berbagai media, seperti Time 100 Talks, World Economic Forum, dan TEDGlobal London.
Bahkan, Melati masuk ke dalam daftar Forbes 30 Under 30 - Asia - Social Entrepreneurs tahun 2020 serta TIME's 25 Most Influential Teens of 2018.
Bagaimana ia membuat perubahan? Apakah kamu juga ingin tahu cara berpikir beliau? Yuk dengarkan langsung di acara ini!