Bombardir iklan terhadap anak?! ( Part 2 )
Penelitian tentang iklan terhadap anak-anak biasanya dapat berpengaruh secara langsung, berbagai penelitian yang menggunakan metodologi berbeda menemukan bahwa anak-anak akan mengingat konten dari iklan yang pernah mereka tonton. Dimana hal ini tentu akan berpengaruh terhadap permintaan anak untuk pembelian suatu produk terhadap orang tua.
Dilansir dari APA, bahwa beberapa penelitian menemukan bahwa konflik orang tua dengan anak umumnya terjadi ketika orang tua menolak untuk memberikan permintaan produk sang anak yang terpicu oleh iklan. Bahwa efek kumulatif iklan dalam kebiasan makan anak-anak, misal permen, makanan cepat saji, penganan ringan, DLL dan paparan iklan dapat meningkatkan jumlah konsumsi dari produk ini. Mungkin tidak akan berimpak bagi kesehatan atau berbahaya bagi tubuh, namun konsumsi yang berlebihan atas suatu produk ini dapat meningkatkan obesitas dan kesehatan yang lebih buruk. Beberapa penelitian juga telah menemukan hubungan yang kuat antara peningkatan iklan makanan tidak bergizi dan tingkat obesitas pada anak.
Seputar penelitian ini, sebetulnya banyak negara di dunia yang mulai melarang pemasangan iklan jenis iklan untuk publik dengan berbagai metode, demi memperjuangkan kesehatan para kaum muda tidak sedikit para pemimpin negara yang mulai mengadopsi metode ini sebagai contoh konkret dalam membatasi penggunaan dan konsumsi iklan bagi konsumen. Dilansir dari Antaranews.com bahwa Spanyol akan melarang iklan makanan dan minuman tidak sehat seperti cokelat, biskuit, dan es krim yang ditujukan untuk anak-anak guna membantu memerangi obesitas pada kaum muda ujar Menteri Urusan Konsumen Spanyol Alberto Garzon. “Anak-anak sangat rentan terhadap iklan dan merupakan kewajiban kami dalam melindungi mereka”.
Terdapat lima kategori produk yang dilarang untuk diiklankan kepada anak dibawah umur, terlepas dari kandungan nutrisinya misal : cokelat, permen, energy bar, kue, biskuit manis, jus, es krim, dan minuman berenergi. Produk lainnya juga akan menghadapi regulasi yang sama apabila kandungan lemak jenuh, gula dan garam melebihi batas tertentu.
Dikutip dari Reuters yang mengatakan bahwa sembilan dari sepuluh iklan makanan yang ditargetkan untuk anak-anak adalah produk yang tidak sehat, meskipun langkah ini dirasa cukup ekstrem, namun pihak pemerintah masih berupaya agar dapat mencapai mufakat. Langkah yang masih memerlukan persetujuan kabinet akan mempengaruhi iklan yang ditujukan untuk anak-anak dibawah umur 16 tahun, baik di televisi, radio, bioskop, internet dan jejaring sosial serta aplikasi seluler. Menurut Badan Gizi dan keamanan Spanyol terdapat 40.6% anak-anak Spanyol dengan rentan usia antara 6~9 Tahun yang tengah mengalami kelebihan berat badan dan 17.3% obesitas.
Tanggapan perubahan regulasi ini nampaknya juga telah mengundang pro dan kontra bagi para pelaku industri, Federasi Industri Makanan dan Minuman Spanyol ( FIAB ) yang menyatakan “ terkejut dan Marah “ dengan regulasi ini, dikarenakan pihak ini telah bekerjasama dengan Kementerian terkait selama kurun waktu satu tahun demi memperbaharui praktik etis dalam dunia periklanan. “ Kami percaya bahwa produsen makanan dan minuman diserang secara serampangan dan tidak dapat dibenarkan,” ujar Direktur Jenderal FIAB Mauricio Garcia de Quevedo dalam sebuah pernyataan. Maka dari itu tidaklah heran dalam zaman kapitalisme bahwa dorongan ke arah konsumerisme dapat dirasakan baik secara langsung atau tidak langsung terhadap semua orang, dewasa maupun anak kecil. Apakah hal ini adalah sebuah hal yang baik? Orang dewasa dengan tubuh dan pikiran yang sehat pun dapat merasakan kejenuhan apabila terpaparkan oleh iklan dalam kurun waktu yang singkat, bagaimana dengan anak kecil?
Dilansir dari Fatherly.com yang mengatakan bahwa sebuah studi baru yang menunjukkan bahwa anak-anak zaman sekarang dihantam dengan pesan dan iklan dalam kegiatan kesehariannya, konstan tanpa henti, bahkan tidak jarang ditemukan bahwa bagi anak-anak yang memiliki akses media elektronik dapat mencapai satu iklan per menit. Para peneliti di University of Otago Selandia Baru menggunakan metode baru dalam mengukur paparan iklan terhadap anak kecil, yaitu dengan cara mengikatkan kamera kepada tubuh anak selama beberapa hari, lalu menghitung jumlah iklan yang tertangkap oleh kamera. 9 dari 10 anak dengan rentan usia 11~13 tahun memakai kamera selama 4 hari yang terhitung dari hari kamis hingga minggu.
Data yang didapatkan adalah, bahwa secara otomatis kamera ini menangkap gambar setiap 7 detik, setelah data lengkap ini ditelaah dan verifikasi para peneliti terkejut bahwa data menunjukkan anak-anak dibombardir oleh iklan dengan berbagai mereka selama 10 jam/hari, dalam satu hari terdapat 554 mereka, dengan kata lain adalah 1 iklan per menit. Sebagian besar paparan iklan dapat terjadi di sekolah dengan jumlah persentase sebesar 43%, rumah 30%, toko dan pusat perbelanjaan sebesar 12%. Hasil yang sangat mencengangkan, dengan kata lain anak-anak yang terpapar iklan dua kali lipat lebih banyak terkait dengan produk berbahaya ketimbang produk yang sehat. Meskipun anak-anak yang lebih muda tidak secara konseptual akan menyadari bahwa iklan secara aktif mencoba untuk menjual atau menggiurkan bagi mereka, namun semakin banyak ekspos pada suatu merek atau logo tertentu, maka akan semakin akrab dengan merek tersebut hingga pada suatu hari mereka akan semakin menginginkan produk ini.
Inilah juga yang disebut sebagai Niat persuasif ( Persuasive Intent ), bagi anak-anak yang berusia 10-12 tahun dapat memahami bahwa iklan adalah perpanjangan tangan dari sebuah perusahaan. Dilansir dari Common Sense media yang menyatakan bahwa sulit bagi anak kecil melihat maksud dan tujuan dibalik iklan tersebut, korporasi dengan mudah mendapatkan batu pijakan dengan paparan iklan terhadap anak kecil sejak dini, misal penggunaan tokoh kartun pada kotak sereal, maskot lucu pada sebuah biskuit manis, DLL.
Disinilah pentingnya peran orang tua dalam membimbing dan mengajari anak-anak untuk berpikir dengan kritis dan menggunakan dosis sehat dalam menelaah sebuah iklan yang mereka lihat, dengan begitu dapat membantu untuk mengurangi konsekuensi negatif dari dunia kapitalis .
Bagaimana caranya anak-anak ini terpaparkan oleh iklan? Beragam cara dalam mendapatkan sebuah tontonan iklan dijaman sekarang, baik gadget, ponsel, televisi, DLL. lalu apa kata perusahaan multi teknologi yang berfokus dalam bidang teknologi, misal Google yang notabene adalah sebuah perusahaan penyedia layanan iklan yang memiliki jutaan Ads/iklan yang dapat iklankan via berbagai produk teknologi dari perusahaan asal Amerika Serikat. Seperti yang sudah tertulis jelas dalam regulasi dan kebijakan untuk pengiklan dari peraturan tetap Google menyebutkan bahwa :
Pengiklan tidak boleh menjalan iklan yang dipersonalisasi pada konten yang ditetapkan sebagai jenis “ dibuat untuk anak-anak.” iklan yang ditujukan untuk anak-anak atau dijalankan pada konten yang ditetapkan sebagai “dibuat untuk anak-anak “ tidak boleh bersifat menipu, tidak adil atau tidak pantas untuk target audiensnya, tidak boleh menggunakan pelacak pihak ketiga manapun, atau berupaya mengumpulkan informasi pribadi tanpa mendapatkan izin dari orang tua wali terlebih dahulu, serta harus mematuhi semua hukum dan peraturan yang berlaku.
Dalam kategori iklan yang dibatasi oleh google, salah satunya adalah :
~ konten yang memiliki kandungan produk seperti alkohol, tembakau dan narkoba yang diregulasi atau bersifat ilegal untuk diiklankan kepada anak-anak. Hal ini juga mencakup konten terlarang dan konten yang dibatasi, selain itu produk yang sangat terkait dengan alkohol, tembakau, dan narkoba juga dilarang misalnya, penawaran untuk tour kebun anggur merah, penggunaan rokok elektronik atau konsumsi narkoba.
~ Makanan dan Minuman : produk yang terkait dengan makanan dan minuman yang dapat dikonsumsi, terlepas dari kandungan gizinya.
Dua butir regulasi yang terlampir dengan seksama dan menyeluruh pada laman iklan Google adalah salah satu dari begitu banyaknya regulasi bagi pengiklan dan pengguna jasa dari penyebaran iklan ini. Apakah akses ini dapat mengunci sang anak untuk tidak mendapatkan akses hanya dari satu tempat saja? Tentu tidak, ketika seorang anak yang dengan mudahnya mendapatkan akses dalam aktivitas keseharian tentu akan mempersulit pengawasan orang tua dalam tontonan anak.
Pentingnya arahan serta pengawasan dari orangtua terhadap tontonan sang anak seharusnya sudah dimulai sejak dini, apabila dapat mencapai sebuah keseimbangan antara penggunaan teknologi serta aktivitas bersama keluarga tentu sudah menjadi idaman bagi para orang tua wali dalam membimbing anak-anak agar dapat tumbuh dewasa menjadi orang yang lebih peka terhadap kewaspadaan akan sebuah konten internet.