Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga.
Hari ini anda saya ajak untuk mendengarkan cerita tentang kucing kesayangan Waluyo Ibn Dischman, judulnya Kucing Panda, dan kalau anda baru saja bergabung dengan acara ini, anda bisa mendengarkan acara JM pekan lalu yang berisi cerita asal usul kehadiran dewi kucing di keluarga Waluyo. Anda bisa ke situs Rtisi mencari acara ini ke bagian pedoman acara.
Demikian pula di acara Jelajah Kuliner, saya juga memperkenalkan kehadiran depot depot atau kafe kafe khusus untuk kucing, atau ramah kucing bahkan ada yang menerima tamu kucing untuk makan di sana. Demikian pula kalau Anda suka kucing, tapi tidak mampu memeliharanya di rumah, anda bisa makan siang atau makan malam di resto berkucing. Anda bisa makan sambil bermain-main dengan kucing. Nah... menarik sekali bukan.... ini menandakan banyak orang Taiwan mencintai kucing.... tapi juga banyak yang mencampakkannya sehingga muncul organisasi2 swasta yang menampung kucing dan anjing liar yang dibuang begitu saja oleh pemiliknya. Ada yang dengan alasan putus cinta, atau tidak ada uang lagi untuk memeliharanya. Nah.... mari kita simak cerita Kucing panda.
Sebut saja Panda, kucing betina yang cerewet. Jika dibandingkan dengan emaknya yang beradab dia termasuk 'orang' yang kurang sopan. Mungkin hasil didikan yang kurang baik atau terlalu dimanja, bisa jadi karena turunan dari bapaknya yang diduga Si Kucing Mandung (karena warna bulunya sama). Panda tipikal kucing cerewet, rewel soal makanan, dan sembrono. Kucing Panda dilahirkan pada hari Selasa Legi yang menurut weton Jawa sebagai orang yang pemarah. Primbon Jawa tersebut memang tak terlalu meleset, pesis sekali dengan karakter Kucing Panda saat ini. Kucing Panda dilahirkan bersama dua saudara lainnya yakni Kucing Sapi dan Kucing Loreng, namun sayang kedua saudaranya mati dengan keadaan damai.
Umur 5 bulan Kucing Panda adalah satu-satunya kucing yang selalu menemaniku, sementara ibunya lungo tuku trasi seperti Sri yang tak kembali pulang pada lagu Didi Kempot. Kaburnya ibunya bukan berarti hal yang cuma-cuma, melainkan ada misi tersendiri untuk menambah momongan. Kepercayaannya masih sama seperti masyarakat Indonesia lainnya, bahwa banyak anak banyak rezeki. Misinya begitu menjijikkan bagiku, berhubung beban anggaran keuangan yang semakin meningkat.
Kucing Panda selalu tidur di atas dadaku selama lima menit, mungkin inilah bahasa cintanya padaku. Sekali aku bangun untuk hal-hal yang tidak terlalu penting, dia pun ikut bangun mengawasi. Berjalan ke WC untuk sebuah hajat biologis, ia pun berjalan tanpa kantuk menemani. Dan itu terjadi terus-menerus. Oh Tuhan inilah bahasa cintanya yang sangat indah nan manis. Kesemberonoan Kucing Panda tersamarkan oleh kisah cinta yang tulus darinya. Bukan soal ke WC saja, bahkan aku pergi ke sawah pun ikut memantau dan duduk menemani. Walaupun kadang aku kesal karena dia tidak terlalu membantu dalam berbagai hal pekerjaan, mungkin dia pikir aku pembantunya. Ini hal yang menjijikkan, tapi apa daya Laila Majnun dan Romeo Juliet pun sama.
Ada hal yang tidak pernah bisa terlupakan. Jasa-jasa Kucing Panda memang sepele, tapi sangat berarti bagiku dalam kondisi saat itu. Varian Delta COVID-19 mencekik paru-paru manusia, berjuta orang menderita karenanya termasuk aku sendiri. Setiap orang yang terinfeksi harus karantina mandiri di rumah maupun karantina terpusat di fasilitas umum yang disediakan. Aku termasuk yang karantina mandiri di rumah, ibu dan semua keluarga minggir. Hanya Kucing Panda saja yang menemani. Jujur saja saya seperti mendapat kekuatan iman dari 'seorang' Panda yang sangat setia. Sekali panggil saat paru-paru berisik karena tak mampu menangkap oksigen, dia datang dengan senyumnya. Pedih dan nyeri hilang barang sedetik atau semenit karena kedatangan Panda.
Mentari muda di timur dengan cahaya hangatnya menyentuh bumi, di situlah Panda paham rutinitasku. Berjemur. Asupan vitamin D hasil memetik daun cahaya mentari pagi sangat membantu proses penyembuhan, juga keikutsertaan Panda menjadi vitamin tambahan yang tiada tara. Ada masa sangat menyedihkan untuk si mungil Panda, dimana stok makanannya habis. Sedih rasanya tak mampu membeli makanannya langsung saat itu, ia mengeong terus sementara aku hanya berbaring. Rasanya sangat berdosa tak memberikan haknya untuk makan, maafkan aku Panda yang terlupa untuk membelikan makanan. Hingga sore hari kakakku membelikan pakan istimewa untuk Panda untuk seminggu lebih. Dua kali gelombang COVID-19 Kucing Panda selalu menemani, saat gelombang Omicron pun.
Rabu di pengakhiran bulan Mei. Panda mati dengan rasa sakit yang terlalu dalam. Penuh pilu dan sengsara menahan sakit. Sebulan sebelum bulan Ramadhan, Kucing Panda tampak murung. Makan tidak terlalu lahap dan cenderung menyendiri. Selama seminggu kehidupannya berubah dan menampakkan kesusahan yang sedikit mengubah kehidupannya. Kupikir Kucing Panda sudah bermain api dengan para jantan yang penuh birahi, ternyata salah. Panda terkena virus jahat yang mudah menyebar dari kucing ke kucing lainnya melalui air liur dan kontak lainya. Panleu namanya, virus yang banyak merenggut nyawa kucing.
Panda mengingatkanku pada perjuangan melawan Covid-19, kini dia melawan virus Panleu yang ganas. Tubuhnya mengecil, kering dan tampak mengenaskan. Dia termasuk gigih melawan penyakit Panleu, setiap hari kejang lebih dari empat kali. Sangat menyedihkan dimana tubuh kurus itu menjerit-jerit kesakitan, saat kejang akan berakhir jeritan panjang sekali dan diam. Kejang kucing berbeda dengan manusia, kucing akan meloncat-loncat menahan nyeri yang hebat dan menjerit panjang. Ada titik air mata pada kedua matanya setelah kejang berakhir, menetes seperti aliran sungai yang tidak begitu deras. Panda mendatapku datar, namun merespon saat aku memanggil namanya. Berbulan-bulan kejang hingga akhirnya kembali pulih, namun ada derita yang mesti ditanggungnya yakni kaki yang tidak sempurna akibat banyaknya kejang. Menyakitkan.
Panda pulih, berat badannya mulai naik. Keceriaannya bertambah sumringah, selalu merespon saat aku memanggil. Bermain ke belakang rumah dan berjalan-jalan di sekitar rumah. Satu genggam makanan kering selalu habis, makanan basah terlampau suka dan dicabik dengan nikmatnya.
Terlalu menyakitkan, kebahagiaan Panda hanya diberi selama dua minggu saja. Panda terkena diare hebat dan tak tertolong. Berbagai usaha telah dicoba untuk menyelamatkan nyawanya yang tinggal satu saja. Saat sekarat selalu mengeong, dan masih merespon saat aku panggil namanya. Aku merasa terpukul, terlebih dia membuktikan cintanya untuk salam perpisahan. Di saat sekarat dia pun mendekat untuk menemaniku dan dia mengharapkanku untuk mengantarkan pada pintu kedamaian abadi. Sambil mengelus-elus tubuhnya dan menyebut nyawanya dia mengeong seiiring aku memanggil.
Kalimat Tuhan yang mulia kuucapkan untuk mengantarkannya pada pintu kedamaian. Dengan jeritan keras hembusan itu terasa menyesakkan dan nyeri. Saat itulah pintu kedamaian terbuka untukknya. Terima kasih Panda. Jam sepuluh malam Panda tidur dalam keabadian di sarung kesayangannya. Kini dia terkubur sedalam dua jengkal dengan kain yang disukainya. Panda titip salam untuk Kucing Sapi, Kucing Loreng dan Kucing Swew-swew-swew. Berlarilah dengan lincah dan bermain yang ceria bersama saudara-saudaramu. Berbahagialah Panda.
Menjelang Jam 9 Malam, 14 Juli 2022.