
Sign up to save your podcasts
Or


讀書會這一生的幸福計劃 Baca buku The How of Happiness (1)
歡迎收聽瑪麗亞週記Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto,
apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. Selama sepekan, sudah baca buku apa saja teman-teman bacabukuers? Tak mengapa, hari ini saya baca buku bersama-sama anda dalam acara 15 menit ini. Kalau Anda cermati, maka sering sekali saya membaca buku tentang hidup bahagia. Memang saya selalu mengharapkan semua mahluk hidup bahagia. Dan saya berharap dengan mendengarkan acara Jurnal yang sesekali berbagi kebahagiaan dengan aneka artikel, maka para Jmers bisa turut membahagiakan orang-orang disekeliling. Sebab bahagia itu sangat sederhana....
Buku untuk Anda hari ini berjudul the How of happiness ditulis oleh Sonja Lyubomirsky diterjemahkan oleh 謝明宗, buku ini memberitahukan kepada pembaca bahwa hidup bahagia seseorang itu bisa diprogramkan, bisa dimanagemen, biasanya buku dengan tema seperti ini termasuk dalam kategori buku psikologi, dalam buku ini dijabarkan bahwa ketidakbahagiaan hidup seseorang dipengaruhi oleh faktor genetika sebanyak 50%, dan ada 10% karena faktor nasib yang menimpa dalam perjalanan hidup, dan 40% bisa kita galang dengan tindakan dan pikiran untuk menciptakan kebahagiaan. Artinya kita bisa mengontrolnya melalui pandangan dan tindakan agar hidup bahagia. Tampaknya kita disadarkan bahwa kebahagiaan itu bisa ditelusuri melalui riset ilmiah, sehingga menghilangkan rasa apatis dari sebagian pembaca bahwa hidupnya sudah tidak cerah dan tidak bisa diubah lagi.
Lalu mengapa kita harus hidup bahagia? Sebab hidup bahagia tidak saja membuat hati kita tambah ceria, apabila dibandingkan dengan orang yang merasa tidak bahagia, maka orang-orang yang hidup bahagia lebih supel, dinamis, murah hati, dan bersemangat kooperatif, dan lebih mudah disukai orang lain. Semakin bahagia semakin sukses.
歡迎收聽瑪麗亞週記Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto,
apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. Hari ini saya membayar utang kepada bung Eddy Setiawan, fans berat RTISI yang begitu setianya memantau siaran RTI sejak remaja. Dan namanya juga sudah ada setianya dan setiawan lagi, bagaimana tidak setia memantau siaran radio? Apa utangnya, yaitu di tahun 2022 yang baru lalu, bung Eddy pernah meminta diceritakan bagaimana trend mode di Taiwan.
Nah, acara Jurnal hari ini akan membahasnya, dan saya mulai dari pandangan seorang imigran baru di Taiwan yang berasal dari Indonesia, seorang ibu bernama bu Lily, yang sekarang mengajar setelah anak-anaknya besar dan studi di universitas di kota lain.
Sehingga ibu Lily mempunyai banyak waktu lagi. Nah... ikuti kutipan obrolan kami yang sebenarnya saya ingin merekam suara ibu Lily tetapi, ia memilih untuk bicara pasif saja dan saya yang menarasikannya. Tentu, topik ini akan bergulir terus, secara tidak berkala, apabila ada komentar baru yang menarik untuk Anda ketahui.
Topik ini saya mulai dengan perbincangan soal busaha Orang Taiwan yang dinilai ketinggalan zaman, dan seperti lebih memilih kenyamanan daripada modenya?
Suka Duka Bunda Ida di Taiwan 聽眾的在台飄泊新鮮事
Manusia itu hidup untuk orang yang dicintai, begitulah kira-kira jawaban Bunda Ida terhadap pertanyaan jurnal pekan lalu yaitu Manusia hidup untuk apa? Lalu bagaimana dengan Anda?
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. Tokoh utama hari ini adalah Bunda Ida, yang sudah terkenal di RTISI terutama di era non HP dan juga dikenal oleh saya secara pribadi, terutama setelah munculnya era HP, maka berubah juga gaya hidup dunia peradioan khususnya program acara yang mengabdikan diri kepada para PMI atau TKI termasuk masyarakat Indonesia pada umumnya.
Baca Buku : Berani Mengarungi Kemelut
讀書會: 跨過困難,才會愈活愈強大
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. Manusia hidup untuk apa? Kadang kita bertanya-tanya kepada diri sendiri. Atau mendapatkan pertanyaan dari teman, terutama yang sedang galau. Sebenarnya, tidaklah perlu kita gali apa yang sebenarnya kita tuntut dalam hidup ini. demikian pula perjalanan hidup manusia itu tidaklah mulus terus, tetapi kembali kepada kita sendiri, kerikil dalam kehidupan kalau kita manfaatkan akan menjadi suatu bimbingan ke suatu jalan baru yang gemilang.
Pekan ini saya akan bercerita tentang seorang wanita Taiwan yang bercerai, dan usai berpisah ia memutuskan tidak meratapi nasib tapi malah bertekad untuk berbuat yang lebih baik untuk diri sendiri. Maka ia pun bertekad melakukan perubahan, di usianya yang berangka 5, ia mulai belajar bahasa jepang, dan belajar membuat kue. Menurutnya, kita harus berani melangkahi kemelut, dengan demikian kita baru bisa hidup lebih kuat dan tegar.
Kehidupan seseorang yang memasuki usia 50 tahun, mungkinkah bisa mendapatkan kejutan indah lagi? Apakah ia bisa memulai sesuatu yang cemerlang lagi seperti kita di usia muda.
Suka Duka Kesih Sukaesih di Nanjing
忠實老聽眾Kesih S. 南京工作記
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto 歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. Seminggu ada 7 hari, dan berlalu dengan begitu cepat, tapi tetap penuh dengan suka cita, misalnya di jurnal pekan ini saya mengajak anda mengenal kehidupan salah seorang teman kita di Nanjing daratan Tiongkok. Siapakah dia? Ia adalah Kesih Sukaesih. Yang sebelumnya sangat aktif dalam acara RTISI ketika sedang bekerja di Taiwan. Dan begitulah nasib manusia, kadang ia lenyap tanpa kabar berita, lalu tiba-tiba muncul, seperti kemunculan Kesih S, yang menyapa lagi di facebook. Menjalin kembali tali persahabatan.
Memang banyak pendengar dulu ya betul dulu dulu sekali sudah tidak mendengarkan siaran radio. Mereka terbuai dalam alam Hpnya, dalam dunia maya kreasi masing-masing dengan kawan dumai yang seolah-olah begitu akrab. Setiap hari bersapa ria, terkadang bisa cekcok tanpa sebab. Nah.... mari kita berkenalkan kembali dengan Kesih Sukaesih.
讀書會一切都是最好的安排
Baca buku: Apa yang terjadi adalah yang terbaik.
Setiap orang bisa menjadi penulis,
Menulis untuk apa dan siapa?
Menulis seperti memancing, memancing isi hati
Dalam tulisan ada jejak pertumbuhan anda
Menjadikan isi hati dalam bentuk kata-kata yang menyamankan lahir dan batin.
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga.
Tak terasa kita sudah memasuki tahun baru tahun 2023. Tahun 2022, berlalu begitu cepat. Terlalu cepat.... dan tanpa sadar kita sudah berada di nuansa tahun 2023 ini. Bagi saya, ketika saya melihat catatan jurnal 2022 pribadi, ternyata ada beberapa hal belum tercapai di tahun 2022, mungkin akan dilanjutkan di tahun 2023 atau juga akan digantikan dengan proyek baru dan lebih menarik bagi saya sendiri. Nah, bagaimana untuk menyesuaikan diri dengan kehadiran tahun 2023, mungkin sangatlah cocok meredakan gejolak hati ini dengan membaca sebuah buku yang berjudul : “Apa yang terjadi adalah yang terbaik”.
Ternyata judul ini banyak digunakan oleh banyak penulis berbeda. Yang bahasa Inggris, yang bahasa Mandarin. Suka sekali memakai judul yang sama. Ya, memang judul boleh sama dan tidak ada yang menuntutnya. Beda sekali dengan merek dagang. Kalau tidak dipatenkan kemungkinan peniru akan menuntut kita nantinya. Jadi judul buku sama tidaklah bermasalah dalam dunia tulis menulis. Karena yang kita cari nama pengarangnya juga. Dari sini kita menyadari betapa pentingnya nama seorang pengarang yang terpampang di depan kulit buku. Seperti nomer rumah.
Jurnal hari ini membaca buku berjudul
Apa yang terjadi adalah yang terbaik. Dan yang menarik perhatian saya adalah isinya. Dan mari kita simak bersama.
Dan semoga memotivasi kita semua.
Penulis Buku yang seorang psikolog, mengatakan:
Semua hal atau pengalaman yang terjadi atas diri kita, adalah bahan materi terbaik bagi kita.
Semua pengaturan yang menimpa kita adalah pengaturan terbaik. Lalu yang menarik adalah: setiap orang bisa menjadi penulis. Sebab kalau Anda bisa berbicara, pasti bisa menulis. Asalkan Anda mau, maka Anda akan menjadi seorang penulis yang baik. Tidak semua hal harus ada bakat barulah kita kita jalankan, termasuk menulis, asal kita jalankan asal kita tulis menjadi tulisan, jadilah kita sebagai penulis.
Pasti ada yang mengatakan Tidak ada bahan, semua hal yang terjadi atas diri kita adalah bahan terbaik. Ketika kesedihan menimpa, pasti ada sesuatu yang tidak bisa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, dan juga perasaan yang sulit dijajaki oleh orang lain. Maka pada saat seperti ini mengapa tidak kita menuliskannya dalam bentuk kata-kata. Perasaan dan kesan itu jika tidak ditulis, maka akan terlupakan begitu saja.
Dimulai dari serba serbi yang terjadi dalam kehidupan kita, dan hanya satu hal yang patut kita punyai adalah sikap mengamati. Anda bisa mencobanya dengan mengkaji apa yang kita lihat, satu persatu kita amati, dan kemampuan mengamati hal-hal kecil inilah akan memperkuat daya tangkap kita.
Tampaknya dalam ilmu psikolog barat, sebuah teknik menulis expressive writing adalah salah satu terapi, penyampaian kesan dan pandangan pengalaman penting seseorang bisa diujudkan dalam bentuk tulisan, dan berangsur-angsur membangun jiwa yang sehat dari intervensi luar.
Menulis seperti sedang menekuni pembelajaran spiritualitas manusia, terkadang menulis itu seperti sedang bermimpi, bisa memenuhi hasrat dan perasaan yang kita dambakan dan tidak bisa terjadi dalam alam nyata. Spirituality writing akan membawa banyak keuntungan, tidak saja bisa menyalurkan emosi terpendam, juga merupakan suatu proses ritual jiwa kita.
Banyak orang mengatakan, menulis itu adalah hak paten orang-orang berbakat, tidak dan itu pandangan salah. Menulis bukan milik orang berbakat saja. Tidak semua hal harus berbakat baru bisa diselesaikan, yang penting adalah, asalkan kita sendiri menyukai, membutuhkan, dan ingin melakukannya, maka lanjutkan dengan mengerjakannya. Apa kata orang lain itu tidak penting, sebab yang penting adalah apa yang hendak kita utarakan, apa kesan saya, apa yang saya rasakan, saya tuangkan dalam tulisan atau karya saya, sebab inilah panggung saya, dan tidak perlu diberikan kepada orang lain. Dalam proses menulis, seseorang bisa belajar untuk mandiri, menikmati kesendirian, berpikir, mendengarkan, menghadapi dunia ini, melakukan perencanaan dan juga belajar untuk meminta bantuan maupun membantu orang lain, semua ini tidak bisa kita dapatkan dari pekerjaan lain.
Keistimewaan dari buku ini adalah, mengajarkan kepada pembaca bahwa menulis bisa melipur lara, menulis itu suatu terapi. Juga bisa meningkatkan relasi dan daya imun, dengan demikian yang bersangkutan bisa merasakan kehidupan yang bahagia, stress berkurang, dan dalam medis sudah dijadikan salah satu terapi dalam psikologis. Dalam medis disebutkan sebagai expression writing, tetapi oleh penulis buku ini lebih dikonotasikan sebagai spirituality writing, jiwa sedang menulis atau menulis dengan bebas tanpa kekangan harus dengan gaya bagaimana. Menurut konsep Sigmund Freud, menulis bisa memenuhi kebutuhan perasaan tertentu dalam kehidupan, seperti seseorang bermimpi mencapai sesuatu yang tidak bisa diperoleh dalam kehidupan nyata. Demikian pula dengan menulis, bisa membantu anda menikmati kembali kenyamanan dan kebahagiaan dalam momen masa lalu, atau menggalang kehidupan baru yang diidamkan di masa depan, semua ini membantu kita melampiaskan emosional buruk.
Melalui kebiasaan menulis, kita bisa mendengarkan suara hati yang terpendam lama. Untuk itu kita bisa menganggap proses menulis seperti sebuah permainan, untuk menjelajahi alam bawah sadar kita yang terselubung terlupakan. Kita kembali mengenali diri sendiri, dan juga memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengenal kita kembali. Mungkin saja sekarang anda masih tidak banyak bervariasi, tulisan anda tidak banyak kata-kata indah, tetapi ini semua tidak penting. tidak perlu puitis, tetapi yang dipentingkan adalah itu semua adalah suara hati anda sendiri. Dan bisa dimengerti.
Menurut penulisnya sendiri, dalam prakata ia mengatakan menulis adalah sebuah perenungan ke dalam diri sendiri. Dunia dalam tulisan kita sendiri, tidak perlu kepura-puraan, tidak ada kecaman dan kritik, melemparkan kail ke dalam air, tidak harus menantikan hasil tangkapan ikan yang banyak, tetapi yang diharapkan adalah kita bisa mendapatkan ketenangan hati. Setiap orang yang hobi memancing, mayoritas menikmati ketenangan hati saat menanti ikan terpernagkap kailnya. Dan bahkan ada yang mengembalikan ikan ke sungai. Sebab ia menikmati meditasi saat memancing dan bukan hasil pancingannya. Demikian pula dengan menulis. Yang secara langsung, praktis dan efektif membebaskan kita dari tekanan emosional yang terpendam.
Dwi創業左右名 Kiat Bisnis Kuliner Sukses Dwi B.
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. Suasana masih tahun baruan, dan saya harapkan di tahun 2023 ini harapan dan cita-cita serta impian teman-teman bisa tercapai. Hari ini saya kembali menghadirkan seorang pendengar setia nan lawas dan sempat bertemu dua kali, siapakah beliau? Ia adalah Dwi Budiraharjo. Ada apa gerangan? Apakah seperti bung Rudy Hartono yang menerbitkan buku? Atau sdr. Waluyo yang akhli filsafat dengan tulisannya yang cerdik menawan. Tampaknya Dwi Budiraharjo datang ke jurnal maupun Jelajah kuliner memperkenalkan kiat bisnisnya.
Beberapa teman Dxers sudah tahu bahwa sdr. Dwi mengelola resto makanan yang sangat terkenal di Wonosobo. Bahkan di Grab, nama restonya berada di paling atas. Nah... bincang-bincang tertulis ini semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan terima kasih kepada Dwi yang bersedia berbagi pengalaman. Ohya. Di JK telah dibagikan resep tempe kemul khas Wonosobo ala depot EDS.
Dwi Budiraharjo adalah sosok pria yang pendiam pemikir, tapi friendly sekali kalau Anda ngobrol dengannya.
Rupanya kesibukan resto EDS nya tidak menyita waktu Dwi utnuk jelajah kuliner dan sekalian belajar dari tempat2 makan yang saya kunjungi, begitu tutur Dwi.
Asal usul profresi Dwi menjadi pengelola resto EDS karena ingin melanjutkan usaha orang tua yang pada awal mulanya bisnis berjualan makanan ini dimulai dengan menawarkan kesanak famili, lalu bikin tenda di depan rumah, kemudian berkembangn menjadi bangunan semi permanen dan sampai saat ini bangunan permanen berbentuk ruko seperti terlihat di foto kalau anda masuk ke situs RTISI ke kolom penayangan acara, atau ke FB saya Mariasukamto disitu terpasang foto dan tautan untuk mendengarkan acara ini, bisnis menjual makanan dimulai tahun 1985, dengan menu sederhana soto sapi dan bakso sapi, serta bubur kacang hijau es campur, namun seiring berlalunya waktu menu bertambah karena tuntutan pelanggan yaitu ada tambahan seperti soto ayam dan bakso ikan,
Warung didaerah Wonosobo sepertinya wajib menyediakan camilan tempe goreng karena daerahnya dingin sejuk maka tempenya diselimuti tepung dan dinamai tempe kemul sebagai pendamping menikmati soto dan bakso,
Jadi Wonosobo itu sejuk dingin, maka tempe pun kemulan. Berselimut agar tidak kedinginan. Suatu kreasi yang bagus sekali ya.
Di Indonesia punya segudang soto sesuai daerahnya maka soto sapi khas Wonosobo dan menjadi menu andalan restto EDS punya Dwi Budiraharjo adalah soto dengan kuah berwarna kecoklatan karena bumbunya menggunakan gula merah , jadi hampir seperti rawon, bisa dinikmati dengan nasi, lontong atau ketupat, itu sekilas cerita perjalanan restonya Dwi. Sekarang Anda bisa melihat daftar menu dan harganya di Grab. Dan tentu kalau ingin memesan, harus dalam wilayah jangkauan Grab.
Seperti resto resto sukses yang saya kenal, pemiliknya selalu hampir setiap hari mencicipi masakan jualannya. Bahkan ada resto yang pegawainya setiap hari makan menu jualannya. Dan tidak ada rasa bosan. Akan salah besar kalau penjualnya mengatakan bosan memakan masakan di restorannya. Dan sama sekali tidak menjamahnya. Dan hal ini akan membuat kualitas masakannya merosot tanpa diketahui.
Tampaknya resto EDS Dwi begitu sukses bukan karena beruntung, melainkan memang pemiliknya setiap hari selalu mencicipi sotonya. Agar setiap hari terjamin mutunya. Dan juga menjaga sang tukang masak tidak berani ngawur memasaknya. Kalau bos mengecek setiap hari, maka tukang masak tidak berani lengah.
讀書會我們的童書
Baca Buku Cerita Dongeng masa kanak-kanak
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. Hari ini kita bicarakan soal buku dongeng masa kecil. Ibu bercerita kepada anaknya, dan pasti menjadi cerita yang dikenang sepanjang masa. Dan biasanya cerita yang dituturkan oleh sang ibu tanpa melihat buku cerita, akan lebih berdaya tarik besar bagi anak kecil. Bagaimana dengan pengalaman dan kenangan Anda? Tapi untuk bercerita setiap malam, tentu harus ada buku dongeng, kalau tidak ibu akan kewalahan dan anak anak juga sering ingin melihat gambarnya untuk menambah partisipasi sang anak.
Tema ini tebersit masuk Jurnal karena menantu teman berjualan buku cerita secara online. Dan laris manis katanya. Menantunya dulu sebelum menikah adalah seorang guru TK dan pendongeng. Jadi otomatis ia sangat menyukai buku cerita bergambar yang indah sekali. saya yang melihat buku-buku cerita anak-anak itu pun juga ingin membelinya. Begitu indah. Nah... mengapa tidak kita bercerita tentang buku dongeng yang kita baca di masa kecil. Semoga anda juga bisa berbagi cerita dengan saya.
Mari kita mengkilas balik masa kecil kita secara bersama, coba kita ingat-ingat, apakah pernah diceritai dongeng oleh orang tua setiap malam sebelum kita tidur? Kalau pertanyaan ini kita lontarkan ke para ibu muda, mungkin mayoritas akan serentak menjawab mereka bercerita kepada bayinya setiap malam atau setiap hari. Sambil membaca buku dongeng bergambar yang indah. Dan dalam bahasa inggris bahkan.
改變實現了夢想 Impian menjadi kenyataan.
Pertemuan 10 tahun silam di tepi sungai Yang tze, telah mengubah nasib seorang gadis suku tibet.
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. Ada sebuah cerita nyata yang membuat saya terharu sekali dan merasa betapa indahnya dunia ini dengan keberadaan orang-orang baik hati, orang-orang yang dengan tanpa takut susah, mengulurkan sedikit tangan, dan hasilnya memberikan perubahan luar biasa kepada seseorang. Sering kita tersendat pada sebuah suara hati, yang ketika kita hendak kepo, membantu misalnya. Suara hati muncul mengatakan: buat apa, toh nanti juga akan sia-sia, atau banyak lagi alasan yang menghalangi kita untuk berbuat sesuatu untuk orang lain, yang dalam waktu dekat tidak mungkin menunjukkan hasil konkrit. Tetapi justru kalau kita bisa mengalahkan suara yang menghalangi kita untuk maju atau mengikuti kata hati, maka kemungkinan besar mendatangkan suatu hasil yang dahsyat sekali dan bahkan sama sekali di luar dugaan kita. Nah.... segera saya bercerita untuk Anda.
蘇東坡 Sang filsuf Su Dongbo
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. Dalam Jurnal, agak jarang saya memperkenalkan tokoh sastrawan tiongkok kuno. Karena pertama sudah ada mata acara di rtisi memperkenalkannya, tetapi hari ini sangat tergerak untuk mengangkatnya sebagai bahan pembahasan. Karena Sudongpo adalah tokoh yang sangat saya kagumi, karena ia adalah seniman multitalenta. Ada yang menyebutnya seorang gastronom, menurut saya ia lebih cocok dikatakan sebagai seorang filsuf. Ia sangat antusias dalam segala hal, bisa beradaptasi dengan keadaan apapun, setiap terpuruk kariernya, ia mendapatkan semangat melalui kuliner, melebur kepahitan hidup dalam kenikmatan kuliner, dan bersemangat menyongsong masa depan. Ia berfilsafat, ke mana aku pergi dan menetap, di situlah kampung halamanku. Makanan apapun, selalu dinikmati sepenuh hati, ia suka kuliner enak. Segetir apapun hidup ini, manusia tetap hidup penuh semangat. Sehingga kita melihat sushi berlahan menjadi Sudongpo, menjadi sastrawan santai menghadapi hidup yang dielu-elukan orang sepanjang masa.
Cerita riwayatnya, Anda bisa mencarinya sendiri karena sudah sangat umum. Saya berbagi kesan saya, dari kacamata saya bagaimana menilai dan mengapresiasinya.
Bagi saya Sudongpo kalau tidak begitu sering dikucilkan, diasingkan, dan tidak disukai karena banyak orang takut ia terlalu pandai dan mengancam kedudukannya. Seandainya, nasib Sudongpo sangat baik. Pandai dan disukai semua orang, maka ia akan menjadi pejabat kerajaan yang hidup makmur. Dan dalam keadaan begini pasti tidak bisa menciptakan karya=karya seni yang dahsyat. Biasanya, hidup kesulitan bisa mencetuskan potensi terpendam dalam diri seseorang.
From the publisher's feed
Dari mata Maria melihat:
Serba Serbi Kehidupan, Baca Buku, Seni Budaya, Q&A