Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. Setiap pekan, setiap menulis jurnal selalu ada kejutan, hal-hal baru, setidaknya bagi saya sendiri. Menyegarkan jiwa raga. Sedikit berita indah, sudah membuat hati saya berbunga-bunga.
Kabar dari Rudy Hartono setelah sekian lama absen dari Jurnal.... tampaknya Rudy menjadi pelajar kembali... inilah ceritanya:
Kuliah Pascasarjana di IAIS-Sambas
Tidak pernah terpikir untuk kuliah mengambil pascasarjana Ekonomi Syariah. Perjalanan hidup membawa batin saya ke sebuah komunitas religious. Saya merasa hidup sudah kepala lima. Tuhan sangat baik kepada saya, memberi saya kebebasan dalam berkarya, bertindak nyata dan terpenting memberi saya kebahagiaan. Walau Bahagia sesungguhnya itu adalah dapat berbuat baik kepada sesama.
IAIS ( Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin) menjadi pilihan, sebenarnya mengalir saja. Kuliah online pada hari Sabtu dan Minggu membuat saya semakin berani memutuskan untuk kuliah pascasarjana. Samahalnya saya menjadi pendengar radio adalah karena aktivitas saya di lokasi kerja yang saya sebut “hutan belantara” itu. Nah sekarang kesempatan berilmu muncul lagi. Kampus IAIS hanya mewajibkan satu kali saja kuliah offline selama satu semester. Syarat ini membuat saya semakin semangat. Saking semangatnya, saya ajak satu orang Yunior saya untuk ikut kuliah itu.
Lalu, apa saja motivasi saya kuliah di usia kepala lima ?
Motivasi pertama, mencari ilmu agama tentang ekonomi syariah. Penasaran saja apa saja yang ada didalamnya. Pertanyaan besar di hati saya adalah perbankan di Indonesia yang berlabel syariah. Apakah sudah benar-benar syariah ? Karena program bagi hasil yang digaungkan itu tidaklah mudah. Bagaimana bisa perbankan syariah itu membagi hasil kepada nasabahnya yang ribuan bahkan jutaan itu ? Nah, ilmu itulah yang ingin saya gali hingga ke dasar terdalam.
Motivasi kedua, beberapa bulan saya keliling ceramah mengikuti penceramah terkenal di kota Sambas. Satu bulan saya ikut dua hari, menghabiskan waktu liburan saya untuk dakwah. Karena dalam Islam setiap lelaki itu adalah pemimpin atau khalifah. Ia wajib menyampaikan ayat-ayat Alquran kepada sanak keluarga dan ditingkatkan dengan memberi ceramah satu ayat kepada orang lain. Sedangkan kemampuan saya dibidang ini nihil. Cara saya adalah mendekati penceramah untuk bisa menyampaikan ayat-ayat Tuhan. Dan penceramah itu adalah dosen IAIS itu.
Motivasi ketiga, saya ingin punya banyak sahabat atau orang yang memiliki pemikiran lebih dari saya. Ada Doktor. Ada professor. Sehingga pikiran saya terbuka dengan fenomena di lapangan. Dan memandang sesuatu dari kaca mata intelektual, bukan pada emosional semata. Selain itu juga saya bisa bersilaturahmi dengan para intelektual yang mana sejauh ini dari tujuh dosen doctor dan professor ini sangat rendah hati.
Motivasi keempat, konon pascasarjana itu lebih banyak berinteraksi mengungkapkan pendapat atas apa yang kita pelajari dan kita Yakini sebuah permasalahan di lapangan dan dituangkan dalam persentasi makalah ilmiah. Karena sesungguhnya pendapat kita pasti ada sisi benarnya yang selalu dikaji dalam bentuk pendapat ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Bukankah pendapat seorang terdakwa saja didengar dengan seksama oleh hakim. Hingga akhirnya ia dapat diputuskan secara adil.
Motivasi kelima, saya ingin pada masa pensiun nanti memiliki aktivitas yang mungkin seorang yang memiliki akademisi S-2 dapat mengajar di kampus hehe.. intinya adalah ingin berbagi dalam berbagai hal, baik itu ilmu bermanfaat maupun harta yang bermanfaat.
Wah, jadi tertulis juga untuk Jurnal Maria. Sang motivator yang membangkitkan semangat untuk selalu semangat hehe. Salam hangat untuk kak Maria dan penyiar RTISI.