
Sign up to save your podcasts
Or


Siang itu, kita habiskan waktu di danau cinta. Kita tuang segala resah dan asmara jadi segala~
Selalu berat saat kita berbicara tentang perpisahan. Namun, kita harus menghadapinya dengan lapang dada. Sebab, mengenang adalah jalan satu-satunya untuk bertegur sapa dengan segala hal yang telah tiada ~
Walau sebentar, persinggahan telah memberi kita sedikit kebahagiaan tanpa kepura-puraan. Untuk itu, tidak sampai hati kita saling melupakan ~
Pergi dan pulang
adalah perjalanan kehidupan
Sudah sepantasnya kita bahagia
di antara keduanya
Kita tidak meninggalkan apa-apa
Tidak pula, kehilangan apa-apa~
Berbicara rindu memang tidak ada habisnya. Kita hanya bisa pasrah. Adakah belajar ikhlas yang paling paripurna, yang melebihi punggung perindu; menanti hujan syahdu? Mari kita menikmati bunga-bunga lotus yang mekar, agar sesaknya hati beralih jadi ruang-ruang sabar~
Tersadar dari sesuatu yang semu; bukan berarti kita kalah
kita telah menang
paling tidak, memenangkan perasaan kita sendiri
selamat terbang.
Aku juga akan menemukan langitku sendiri ~
Han, sahabat termanisku
Aku tidak hendak mengucapkan maaf atau terima kasih
Aku hanya ingin mengajakmu merayakan
apa yang semestinya dirayakan
dan mengikhlaskan
apa yang sepatutnya diikhlaskan~
Cinta yang sulit; saat salah satu dari kita, hanya menganggap ini sebatas ujian
Ujian atas cinta yang lain. Apakah adil saat kita hanya dianggap batu kerikil?
Memang cinta kadang tidak adil. Tapi perjuangan, biarlah turut andil;
untuk menemu hasil.
Siapapun kamu, tetaplah berjuang; maju untuk menang!
Sajak untuk Sahabatku, Jauhari Umar; sebagai kado pernikahannya. Puisi ini, saya tulis ketika di Tunis. Saya baca, untuk melepas masa lajangnya. Selamat, selamat, dan selamat menjadi dewasa yang paripurna. Selamat menikmati laut yang luas ~
From the publisher's feed