Lentera Literasi

Lentera Literasi

By Heri IsmawantoArtsBooks
Download on the App Store

Lentera Literasi episodes

  • Menjadi Orangtua Yang Manusiawi

    Terkadang Orangtu lupa akan perannya terhadap anak-anaknya.

    Maka jangan heran jika anak, suatu saat juga lupa akan perannya terhadap orangtuanya.

    Jadilah orangtua secara sungguh-sungguh buat anak-anak kalian, karena sesuatu yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membawa perubahan. Lebih lengkapnya mari kita dengarkan podcast berikut ini...

    16 min
  • Yaqazah : Awal dari Perjalan Suluk

    Yaqazah: Awal Perjalanan Suluk

    Tuhan menciptakan manusia untuk bergerak mencapai kesempurnaan, dan jika manusia ingin melangkah dalam perjalanan ini, tahap paling awal yang harus dilakukannya adalah yaqazah dan bangkit dari tidur kelalaian.

    Yaqazah artinya bangun. Yakni seseorang menyadari kelalaian dirinya dan menyingkap tabir-tabir kegelapan yang telah menyeret dirinya jauh dari Allah Swt.

    Jika seseorang ingin dengan yaqazah bergerak menuju tujuan, yakni Hak Swt maka tentu pertama ia harus mengenali Tuhan sebagai kesempurnaan mutlak dan juga mengenali dirinya sebagai maujud fakir dan bergantung kepada-Nya. Dari sisi ini, dengan perhatian kepada kesempurnaan mutlak dan kekurangan serta kefakiran diri, salik akan berusaha mendekatkan dirinya kepada Hak Swt untuk menghilangkan kekurangan-kekurangan dirinya.

    Oleh karena itu, yaqazah pada hakikatnya sebuah cahaya yang Tuhan lontarkan pada qalbu salik dan dengannya ia mendapatkan kehidupan insaninya yang baru. Sinar cahaya yaqazah pada qalbu salik ini menarik ia untuk berjalan mendekatkan diri kepada Hak Swt serta menyiapkan dirinya untuk menempuh perjalanan tahap demi tahap dalam melewati berbagai hijab-hijab kegelapan dan cahaya untuk wusul kepada Hak Swt.

    Dalam kalimat Qishar Amirul Mukminin as terdapat perkataan beliau tentang hal ini:

    الیقظة نور و الغفلة غرور

    Yaqazah adalah cahaya dan kelalaian merupakan suatu tipu daya.

    Ditempat lain beliau berkata:

    فاستصبحوا بنور یقظة فی الابصار و الاسماع

    Maka nyalakanlah dengan cahaya Yaqazah dalam pandangan dan pendengaran.

    Khajah Abdullah Anshari dalam mendefenisikan Yaqazah setelah membawakan ayat:

    قل انما اعظکم بواحده ان تقوموا لله مثنی و فرادی

    Katakanlah: Sesungguhnya aku menasehati kalian, hendaklah bangkit untuk Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri , berkata:

    و هی اول ما یستنیر قلب العبد با الحیواة لرأیة نور التنبیه

    Ia adalah yang pertama menyinari qalbu hamba dengan kehidupan pandangan cahaya kesadaran.

    Khajah dalam menjelaskan kalimat ini “bangkit untuk Tuhan”, menafsirkannya dengan Yaqazah dan bangun dari tidur kelalaian serta bangkit dari kejahilan serta kemalasan. Beliau dalam mendefenisikan Yaqazah memandang paling awalnya cahaya yang Tuhan sinarkan pada qalbu pesalik dan memberikan kepadanya kehidupan kebaikan insani.

    Pada hakikatnya, manusia yang hidupnya hanya tenggelam dalam keperluan lahiriah dan materi (apalagi jika dipenuhi perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat), sebenarnya telah mematikan dirinya sebelum menemukan kematian natural. Sebab ia telah mematikan qalbunya dan mematikan aspek maknawiah dan spiritual yang ada pada dirinya. Sabda Nabi Saw:

    الناس نيام فاذا ماتوا انتبهوا

    Manusia adalah tidur, ketika mati barulah tersadar.

    Kebanyakan manusia tidur di alam tabiatnya dan lalai menyucikan dirinya. Ia terlena dengan kelezatan-kelezatan materi sehingga lupa akan kematian. Nanti ketika kematian datang padanya, barulah tersingkap realitas dirinya yang sesungguhnya.

    Akan tetapi manusia yang sebelum didatangi kematian, mendapatkan cahaya Yaqazah, akan segera tersadar dan bangkit melangkah dalam perjalanan penyucian diri dengan meninggalkan kecintaan pada dunia serta kelezatan-kelezatan syahwat yang menipu.

    Ia dengan kesadaran (yaqazah), bergerak menuju kesucian diri, sebab dengan kekotoran-kekotoran batin tidak mungkin dapat meraih kedekatan dengan Hak Swt. Oleh karena itu, pertama yang harus ia lakukan adalah menjalani taubat dan kembali dari dosa-dosa serta menghilangkan sifat-sifat buruk. Barulah kemudian menghiasi batinnya dengan sifat-sifat baik. Para ulama akhlak dan tasawuf menyebut pengosongan diri dari sifat-sifat buruk itu dengan takhliyah dan menyebut pengisian diri dengan sifat-sifat baik dengan tahliyah, dan mereka memandang bahwa takhliyah dan tahliyah merupakan satu-satunya jalan bergerak dalam perjalanan dekat kepada Allah Swt.

    ---
    Send in a voice message: https://anchor.fm/kopi-hitam2/message
    10 min
  • Arbain dan Syair Suluk

    Arbain dan Sair Suluk

    Amalan arbain atau empat puluh hari, adalah suatu istilah akhlak dan irfani dengan pengertian seorang hamba pesalik berkhalwat selama empat puluh hari dengan program-program riyadah. Para ulama, khususnya mereka yang punya masyrab dan maslak irfani, dalam hal menyucikan diri (tahdzib dan tazkiyah nafs) memandang bilangan empat puluh sebagai suatu hal yang penting untuk itu. Menurut mereka bilangan ini punya efek dan pengaruh khusus dalam pencapaian aktualitas potensi-potensi manusia dan penyempurnaan malakah-malakah akhlaki serta perolehan derajat-derajat makrifat.

    Dalam suatu hadits disebutkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: 

    من اخلص لله اربعين صباحا ظهرت ينابيع الحكمة من قلبه علي لسانه

    Barangsiapa yang ikhlas untuk Allah selama 40 hari maka akan memancar hikmah dari hati pada lisannya. 

    Dalam Surah Al-Baqarah ayat 53 dan Surah Al-A’raf ayat 142, terdapat penjelasan tentang miqat empat puluh hari (malam) hadhrat Musa as:

    و اذ واعدنا موسی اربعین لیله

    Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam… 

    و واعدنا موسی ثلاثین لیله و اتممناها بعشر فتم میقات ربه اربعین لیله

    Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam.

    Sebagian mufasir berpandangan bahwa empat puluh malam itu adalah tiga puluh malam dzulqaidah dan sepuluh malam awal dari dzulhijah, sebagaimana terdapat dalam riwayat dari Imam Shadiq as.

    Bagi kita, rahasia miqat empat puluh malam Nabi Musa as tentulah tidak jelas, namun dengan adanya riwayat Rasulullah Saw: Barangsiapa yang ikhlas untuk Allah selama 40 hari maka akan memancar hikmah dari hati pada lisannya, disamping dua ayat tentang miqat tersebut, maka sedikit banyaknya terdapat kejelasan tentang amalan khusus empat puluh hari ini. Bisa jadi seorang salik, lewat amalan tersebut akan mencapai suatu tingkat kesucian batin sehingga layak baginya memperoleh derajat-derajat makrifati dari Allah Swt.

    Menurut Shadrul Muta’alihin Mulla Shadra, rahasia ditetapkannya bilangan empat puluh tersebut hanya para nabi dan wali Tuhan yang mengetahuinya. Beliau dengan menukil suatu pernyataan dari filosof besar Iluminasi Suhrawardi, menjelaskan tentang rahasia bilangan tersebut bahwa Hak Swt membentuk lempung hadhrat Adam as selama empat pulu hari; sebagaimana terdapat dalam riwayat: 

    خمرت طینه آدم بیدی اربعین صباحا

    “Aku ciptakan lempung Adam dengan tanganKu empat puluh hari”.

    Tuhan menciptanya sesuai dengan kondisi alam syahadah dan alam gaib. Dalam setiap harinya memberikannya setiap tingkatan dari potensi kekuatan untuk kebutuhan dimensi alam syahadahnya (yakni kehidupan duniawi). Antara dia dan alam-alam gaib muncullah hijab-hijab, dan terjauhkanlah ia dari sisi Hak Swt. Oleh karena itu, agar dia dapat keluar dari hijab-hijab ini dan dekat kepada Hak Swt, maka ia butuh suatu amalan arbain yang ikhlas.

    Melanjutkan topik ini, Mulla Shadra lantas mengisyaratkan tentang sumber penentuan jumlah empat puluh untuk khalwat, riyadah, dan mujahadah  para urafa. Demikian pula riwayat tersebut menarik para urafa dalam riwayat lain tentang sabda Rasulullah Saw, barangsiapa dari umatku yang menjaga (menghapalkan) empat puluh hadits yang menjadi kebutuhan masyarakat dalam perkara agama, maka Tuhan akan membangkitkannya pada hari kiamat sebagai seorang ulama dan faqih. 

    Simpelnya, bagi yang ingin mendapatkan kesucian batin perlu melakukan program-program riyadah yang bersifat fokus dan amalan arbain ini menjadi salah satu alternatif yang dianjurkan oleh urafa.

    7 min
  • Mengenal Syiah Lebih Dekat

    Sebuah pengalaman dari seorang pendeta yang berasal dari Turki. Pengalamannya itu memutar balikkan pandangannya tentang Islam. Awalnya beliau berfikir islam itu erat kaitannya dengan terorisme. Semuanya begitu berubah ketika beliau ketemu langsung dengan mereka, melalui ahlak yang ditampilkannya beliau sadar bahwa pandangan sebelumnya sangat keliru.

    8 min

About Lentera Literasi

From the publisher's feed

Bacaan Buku, Cerpen, Puisi dan Diskusi