Korban penipuan sebagian besar adalah perempuan, Ahli : keinginan untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Penipuan yang kini marak terjadi dimana-mana terus terjadi tanpa henti, akhir-akhir ini banyak kasus korban penipuan yang harus berujung dengan bunuh diri. seorang ibu dan anak perempuan di distrik Neihu - Taipei dan seorang karyawan toko makanan cepat saji yang bunuh diri setelah ditelusuri lebih lanjut oleh pihak yang berwajib mendapatkan bahwa mereka adalah korban kasus penipuan. pemerintah baru-baru ini merilis data yang menunjukkan bahwa warga Taiwan menerima 500 laporan penipuan pada bulan Desember di tahun lalu, dengan total jumlah penipuan sebesar 12.4 miliar NTD. lebih dari 400 juta NTD yang berhasil dirogoh oleh pelaku penipuan dalam satu hari. metode penipuan tersebut berkisar dari investasi palsu hingga pelaku yang berkedok mencari pasangan hidup dengan maksud menipu. fakta telah menunjukkan bahwa korban perempuan jauh lebih banyak ketimbang laki-laki.
Menurut data statistik dari Badan Kepolisian Nasional Kementerian Dalam Negeri, metode penipuan yang paling umum adalah penipuan investasi, berikutnya adalah penipuan belanja online, penipuan kencan palsu, pembeli palsu dalam transaksi jual beli, dan pemberitahuan memenangkan sebuah sayembara palsu, dan berbagai penipuan dengan maksud dan tipu muslihat yang berbeda.
Dalam penipuan investasi palsu yang paling umum, jumlah wanita dan pria yang tertipu memiliki jeda yang sangat tinggi menjadikan jumlah korban wanita yang lebih banyak ketimbang dengan pria. dilansir dari Technews.tw, para ahli dan pengamat Taiwan menyatakan beberapa hal terkait fenomena ini, antara lain :
~ Ingin penghasilan tambahan tapi tidak mampu membelinya
Pihak kepolisian menganalisa bahwa setelah menikah, perempuan berhenti dari pekerjaan mereka atau menerima pekerjaan dengan gaji yang lebih rendah untuk mengurus keluarga. mereka ingin memiliki penghasilan tambahan atau pasif-income, akan tetapi mereka mayoritas tidak memiliki waktu atau sumber daya dan pengetahuan untuk mengembangkan karir mereka. ini menjadi sumber utama yang menjebak mereka dalam perangkap tipu muslihat dari orang yang tidak bertanggung jawab. Fenomena serupa juga terlihat di berbagai negara termasuk Amerika Serikat, dimana laporan pada tahun 2023 yang ditunjukkan oleh Komisi Perdagangan Federal menyatakan bahwa 26% wanita lebih mungkin menjadi sasaran penipuan ketimbang pria.
Para ahli menganalisis lima alasan mengapa wanita lebih mungkin menjadi korban penipuan, salah satunya adalah tekanan finansial. menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada tahun 2024 yang menyatakan bahwa perempuan hanya akan memperoleh 82 sen untuk setiap dolar yang diperoleh oleh laki-laki. tekanan finansial yang terus berlanjut ini dapat membuat perempuan lebih cenderung percaya pada penipuan “ cepat kaya “ atau memanfaatkan peluang yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan atau peluang investasi yang luar biasa.
Banyak korban dari penipuan ini yang tidak kekurangan uang atau bahkan berasal dari kelompok kelas menengah bahkan kelompok dengan pendapatan yang cukup tinggi. para ahli menganalisa bahwa mungkin karena wanita lebih sering menggunakan media sosial dengan begitu tingkat kemungkinan untuk bertemu dengan seorang yang tidak dikenal via medsos lebih mudah, ditambah dengan alasan bahwa wanita lebih mudah terikat secara emosional.
~ Kurangnya pengetahuan keuangan dan keamanan siber.
Para ahli menganalisis bahwa perempuan mungkin kurang memiliki pengetahuan terkait keuangan dan pengalaman investasi, ditambah dengan paparan terkait keamanan siber ketimbang pria, sehingga mengakibatkan kemampuan mereka relatif lemah untuk mengenali sebuah metode penipuan. para pengacara keuangan menganalisa bahwa selama beberapa generasi, perempuan sering kali dikecualikan dari diskusi keuangan dan proses pengambilan keputusan. banyak klien dan perempuannya kurang percaya diri dalam pengetahuan keuangan, sehingga mereka lebih rentan terhadap penipuan yang rumit.
Studi yang mengukur ciri-ciri kepribadian korban penipuan telah mengidentifikasi beberapa ciri yang membuat mereka lebih rentan terhadap penipuan, termasuk juga impulsivitas dan kurangnya pengendalian diri, kebutuhan sensorik yang lebih tinggi, dan lain-lain. para pengamat lain juga mencatat bahwa banyak korban sulit melepaskan diri dari jerat penipuan, bahkan ketika diinformasikan oleh penegak dan petugas hukum, korban yang terjerat sulit mempercayai bahwa mereka sedang atau telah ditipu. tingkat pendidikan yang baik juga tidak menjadi penghalang atau obat penawar yang dapat melindungi semua orang dari kasus penipuan. sebuah penelitian menemukan bahwa terlalu percaya diri juga merupakan salah satu sifat manusia yang membuat seseorang lebih rentan untuk ditipu.
Beberapa ahli juga mengatakan bahwa menjadi korban penipuan tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin, tetapi sebagian besar pelaku penipuan adalah laki-laki, jadi perempuan yang lebih rentan menjadi sasaran. para ahli percaya bahwa pengetahuan adalah kekuatan yang paling ampuh dalam memerangi sebuah penipuan. berinvestasilah dalam mempelajari keuangan pribadi dan pengetahuan investasi dasar, pahami penipuan umum dan tetap waspada adalah tembok perlindungan terbaik.