Dibacakan oleh Febrian -
Seno Gumira Ajidarma (lahir 1958) adalah salah satu sastrawan paling disegani dalam sejarah sastra Indonesia modern seorang penulis yang menjadikan kata-kata bukan sekadar medium estetika, tetapi juga alat perlawanan.
Di tengah era ketika kebenaran kerap dibungkam, Seno hadir sebagai suara yang tak bisa disenyapkan. Melalui cerpen, novel, dan esainya, ia meretas batas antara jurnalisme dan sastra, menciptakan bentuk narasi yang tajam, puitis, sekaligus mengguncang. Karyanya “Saksi Mata” bukan hanya karya sastra melainkan arsip keberanian, merekam realitas yang tak diberi ruang untuk diucapkan.
Ia dikenal dengan pernyataan legendarisnya: “Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Sebuah credo yang tidak hanya diucapkan, tetapi dijalankan dengan konsistensi intelektual dan keberanian moral.
Gaya bertuturnya yang eksperimental, sinis, dan penuh lapisan menjadikan Seno bukan hanya penulis, tetapi juga arsitek wacana membentuk cara kita membaca realitas, kekuasaan, dan kemanusiaan. Ia berdiri di antara fakta dan fiksi, menjadikan keduanya saling menegaskan.
Sebagai jurnalis, akademisi, dan intelektual publik, Seno Gumira Ajidarma telah menempatkan dirinya sebagai pilar penting dalam lanskap sastra Indonesia bukan hanya karena karya-karyanya, tetapi karena keberanian untuk tetap bersuara ketika banyak memilih diam.