(Taiwan, ROC) --- “Ini menunjukkan bahwa Tiongkok berusaha untuk bersaing dengan AS secara diplomasi, bukan hanya di kawasan tetangga saja,” terang Wang Lian (王聯), Profesor Hubungan Internasional di Universitas Peking. Wang Lian percaya, keberhasilan negosiasi antara Arab Saudi dengan Iran mencerminkan rasa kepercayaan kedua negara kepada Tiongkok.
Media Amerika Serikat, Associated Press menganalisis, Tiongkok melibatkan dirinya dalam konflik internasional yang terletak cukup jauh secara geografis, hanya karena ingin mengejar kepentingan ekonomi.
Tiongkok selama ini merupakan pembeli sumber energi terbesar di kawasan Timur Tengah. Sementara AS di lain pihak mulai mengurangi impor energi mereka, mengingat Negeri Paman Sam tengah mengejar misi kemandirian energi.
June Teufel Dreyer, Profesor Politik Tiongkok di Universitas Miami menyampaikan, para pejabat Tiongkok telah lama berpendapat bahwa Beijing sudah seharusnya memainkan peran yang lebih aktif di kawasan Timur Tengah.
Pada saat yang sama, benturan antara AS dengan Arab Saudi dalam beberapa tahun belakangan telah menciptakan “kekosongan”, yang kemudian disusupi oleh Tiongkok.
Tiongkok telah banyak menanamkan investasi mereka dalam pembangunan sarana infrastruktur di Timur Tengah. Meski AS telah menjadi penjamin utama bagi keamanan Timur Tengah semenjak era 1980-an, tetapi Negeri Tirai Bambu sesekali mengirim kapal Angkatan Laut mereka untuk bergabung dalam misi melawan para pembajak di lepas pantai Somalia.
Iran, yang memiliki pasar ekspor terbatas karena sanksi Barat terhadap program nuklirnya, menjual minyak ke Tiongkok dengan diskon besar.
Di mata banyak negara Timur Tengah, Tiongkok adalah negara netral serta memiliki hubungan baik dengan Arab Saudi dan Iran. Arab Saudi adalah pemasok minyak terbesar bagi Tiongkok.
Sementara Iran juga cukup bergantung pada Tiongkok untuk sektor perdagangan luar negeri mereka, yang mencapai 30%. Tiongkok berjanji untuk menginvestasikan US$ 400 miliar dalam waktu 25 tahun untuk negara Iran.
Karena program proyek nuklir mereka, Iran mendapat sanksi ekspor dari bangsa Barat, yang kemudian membuat Iran akhirnya menjual minyak mereka dengan diskon besar kepada Tiongkok.
Persaingan Diplomatik Dengan AS
Secara umum diyakini bahwa Xi Jin-ping menjadi lebih konfrontatif kepada bangsa Barat, setelah ia berhasil memenangkan masa jabatan lima tahun ketiganya sebagai pemimpin Tiongkok.
Dalam pertemuan pers dengan media asing perdananya yang digelar pada tanggal 7 Maret 2023, Menteri Luar Negeri Tiongkok, Qing Gang (秦剛) memperingatkan bahwa sikap permusuhan AS hanya akan mengarah kepada konflik dan konfrontasi.
Pakar hubungan Tiongkok, Jin De-fang (金德芳) menyampaikan, sikap keras yang diperlihatkan Beijing hanya ditujukan kepada negara maju yang selama ini memperlihatkan rasa perlawanan. Negeri Tirai Bambu senantiasa menjaga hubungan diplomatik baik mereka dengan negara negara-negara lain, termasuk salah satunya adalah bekerja sama dengan Korea Utara, Nikaragua dan rezim otoriter lainnya.
Profesor kajian Asia di Universitas Haifa, Israel, Yitzhak Shichor menyampaikan, keputusan Tiongkok untuk menengahi Iran dan Arab Saudi sangat disengaja. Setidaknya Tiongkok nantinya akan dikenal oleh Iran dan Arab Saudi sebagai pemegang kunci stabilitas regional, yang mana ini bisa menjadi peluang besar untuk memukul berat Amerika Serikat.
Hingga hari ini, belum dapat dipastikan efek yang akan berdampak pada Negeri Paman Sam. Namun yang jelas, pengaruh AS di Timur Tengah telah menyusut semenjak Washington memutuskan menarik mundur pasukan mereka dari Irak, serta meningkatkan otonomi sumber energi.
Otoritas Gedung Putih telah menepis anggapan bahwa peran AS di kawasan Timur Tengah telah tergantikan oleh Tiongkok. Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, John Kirby mengatakan, “Saya sangat tidak setuju terhadap anggapan bahwa kita sudah mundur dari kawasan Timur Tengah.”
Seorang pakar Timur Tengah di wadah pemikir AS, Center for Strategic and International Studies (CSIS), yakni Jon Alterman merasa, fakta bahwa Arab Saudi mencari kesepakatan dengan Iran tanpa melibatkan AS, memperlihatkan bahwa mereka tengah berupaya untuk mendiversifikasi sektor keamanan yang ada, daripada hanya mengandalkan sepenuhnya kepada Amerika Serikat.
Namun, Jon Alterman percaya, sikap Amerika Serikat terhadap Arab Saudi juga tidak konsisten.
Di satu pihak, Amerika Serikat berharap Arab Saudi dapat lebih bertanggung jawab terhadap keamanan mereka sendiri, tetapi di lain pihak mereka tidak ingin Arab Saudi menjadi terlalu mandiri, yang mana hanya akan melemahkan keamanan AS.
Strategi Tiongkok Berikutnya: Negosiasi Rusia Ukraina
Masih terlalu dini untuk beranggapan apakah dengan dimulainya hubungan diplomatik Arab Saudi dengan Iran akan membawa perubahan bagi hubungan permusuhan jangka panjang kedua negara.
Selain menjadi penengah antara Arab Saudi dengan Iran, Tiongkok jelas akan merencanakan lebih banyak strategi diplomatik mereka. Tiongkok juga mengklaim, pihaknya mereka berencana untuk memfasilitasi negosiasi antara Rusia dengan Ukraina. Namun, masih belum diketahui apakah ini akan berhasil membawa perdamaian substantif ke kawasan Ukraina