Baca: (Part 1) Legalitas Aborsi di Amerika Serikat Kembali Diperdebatkan
(Taiwan,ROC) --- Yana Rodgers adalah salah satu dari banyaknya ekonom dan cendekiawan yang telah menyatakan pendapatnya di Mahkamah Agung untuk memperdebatkan legalitas aborsi. Salah satu kasus yang ditanganinya adalah Organisasi Kesehatan Wanita Dobbs v. Jackson di Mississipi yang bergerak dalam praktik aborsi.
Pada bulan September tahun ini, ada sekitar 154 ekonom menandatangani laporan “Friend of The Court” setebal 73 halaman, guna mendukung klinik Dobbs v. Jackson. Otoritas Mississipi sendiri telah melarang praktik aborsi setelah memasuki masa 15 minggu kehamilan. Pada tanggal 1 Desember 2021, pihak Pengadilan Tinggi setempat juga telah mendengar debat perbedaan pendapat, guna membahas kembali kasus ini.
Klinik Dobbs v. Jackson membuka pintu kesempatan bagi Hakim Agung untuk mengurangi legalitas aborsi, atau dikenal dengan istilah Roe v. Wade.
Kasus Roe v. Wade yang terjadi pada tahun 1973 menjadi tonggak sejarah bagi perjuangan legalitas aborsi warga AS.
Potensi Pasar Tenaga Kerja dan Pendapatan
Dalam sebuah briefing, para ekonom menyampaikan, legalitas aborsi akan berdampak signifikan bagi kaum perempuan, terutama mereka yang masih berusia muda dan warga kulit hitam. Pakar ekonomi juga menyertakan dokumen yang memperlihatkan, jika seorang perempuan muda menunda persalinan melalui jalur aborsi yang legal, maka perolehan upah yang mereka dapatkan akan meningkat sebanyak 11%.
Studi lain juga mengungkapkan, praktik aborsi yang legal juga akan meningkatkan peluang kaum wanita untuk menyelesaikan kuliah mereka 20% dan peluang untuk memiliki karir cemerlang bertambah hampir 40%.
Yana Rodgers melanjutkan, larangan aborsi hanya akan menghambat karir dan pendapatan kaum wanita.
Menurut data yang dirilis oleh wadah pemikir Guttmacher Institute, UU Mississipi adalah salah satu dari serangkaian pembatasan aborsi yang didukung oleh Partai Republik dalam kurun beberapa tahun terakhir. Untuk tahun 2021, telah ada 19 negara bagian yang memberlakukan 106 UU terkait, yang mana ini adalah pencapaian rekor terbaru.
Pembatasan tersebut dapat mengubah keinginan atau mencegah seorang wanita menjalankan praktik aborsi, meliputi konsultasi wajib, harus menunggu 24 jam untuk melakukan konsultasi kedua dan mengurangi jumlah minggu, dengan alih-alih akan membuat wanita terkait gagal menjalankan aborsi.
UU aborsi di Texas yang diberlakukan pada bulan September kemarin adalah yang paling ketat yang pernah diberlakukan oleh pemerintah negara bagian. UU terkait hampir sepenuhnya melarang praktik aborsi, termasuk bagi mereka yang menjadi korban pemerkosaan.
Setelah detak jantung dari janin terdeteksi, maka warga dilarang melakukan praktik aborsi, dan biasanya ini akan mulai terjadi dalam kurun 6 minggu kehamilan. Ironinya, di waktu ini (6 minggu kehamilan) kebanyakan wanita bahkan mungkin belum sadar jika mereka hamil.
Kemiskinan dan Jeratan Hutang, Lingkaran Setan yang Mematikan
Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Biro Riset Ekonomi Nasional pada tahun 2002, konsekuensi finansial dari pembatasan aborsi dapat berkepanjangan.
Penulis utama dari studi tersebut adalah seorang profesor di University of Michigan's Ross School of Business - Sarah Miller menyampaikan, jika seorang wanita memutuskan untuk menarik diri dari pasar tenaga kerja, untuk kemudian fokus merawat anak, maka ini adalah keputusan yang bagus.
“Namun, apabila seorang wanita kehilangan hak untuk memilih, maka konsekuensi ekonomi yang harus ditanggung juga akan kian berat. Yang mana ini akan berdampak langsung pada pendapatan sang wanita terkait,” terang Sarah Miller.
Penelitian tersebut juga menuliskan, jumlah wanita yang harus hidup dalam lingkaran kemiskinan dan jeratan utang setelah dilarang melakukan aborsi, mencapai angka 78%. Selain itu, mereka yang bahkan harus bangkrut dan mengalami penggusuran meningkat sebanyak 81%.
Kenya Martin mengatakan, ancaman tersebut akan semakin terasa bagi wanita yang memiliki penghasilan rendah. “Saya telah melihatnya langsung dan tahu mengapa aborsi perlu dilakukan, terutama bagi warga kulit hitam, atau komunitas yang terasingkan. Karena mereka tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk merawat anak mereka. Atau mereka yang dipaksa untuk menjadi orang tua karena keadaan di sekitar,” lanjut Kenya Martin.