(Taiwan, ROC) --- Saat ini ia memiliki 2 pasangan pria, satunya ia sebut dengan istilah "pasangan utama", karena telah bertunangan dan berbagi akan harta kekayaan,
Sedangkan satu lainnya ia sebut dengan istilah "pasangan bermain", yakni seorang pria yang akan ia temui untuk bersenang-senang atau berhubungan seks. Meski demikian, Muvumbi Ndzalama lebih jarang bertemu dengan "pasangan bermainnya"
"Yang kami jalankan adalah hubungan poliamori. Minimal kami harus kenal antara satu dengan yang lain".
"Kami tidak harus menjalin hubungan yang sangat akrab, melainkan suatu bentuk keterbukaan untuk mengembangkan ikatan ini pada masa mendatang".
Awalnya Muvumbi Ndzalama tidak berani menceritakan hal ini kepada anggota keluarganya. Namun akhirnya, ia pun menerangkan sepenuhnya kepada anggota keluarga, setelah ia merasa hubungannya dengan sang pasangan utama, yakni Mzu Nyamekela Nhlabatsi berjalan stabil.
"Ia juga seorang penganut paham poliamori. Saya tidak ingin anggota keluarga saya menjadi bingung, ketika melihat dia tengah berada di tempat lain dengan pasangan yang bukan saya," jelas Muvumbi Ndzalama.
Muvumbi Ndzalama yang kini memiliki satu putri berusia 5 tahun tersebut menyampaikan, jika dirinya tengah aktif mengikuti organisasi sosial yang bergerak di bidang poliamori.
"Saya akan berbicara di platform poligami atau poliandri. Saya tidak ingin putri saya mengetahuinya dari salluran yang tidak jelas asal-usulnya," tambah Muvumbi Ndzalama.
Meski telah diterima oleh anggota keluarganya, tetapi Muvumbi Ndzalama mengaku bahwa perjalanannya masih teramat panjang.
Aktivis kesetaraan gender saat ini tengah memprakarsai legalitas poliandri di Afrika Selatan, karena undang-undang setempat hanya mengizinkan praktik poligami, yakni satu pria dapat menikahi beberapa wanita.
Pemerintah setempat juga telah mewacanakan proposal yang relevan, dan menggelar rapat negosiasi dengan pihak publik.
Ini adalah gerakan amandemen terbesar terhadap undang-undang pernikahan di Afrika Selatan, semenjak berakhirnya kekuatan minoritas kulit putih pada tahun 1994 silam.
Proposal tersebut juga mencakup status legal di mata hukum untuk pernikahan umat Muslim, Hindu, Yahudi dan Rastafarianisme, yang selama ini belum diakui oleh UU Afrika Selatan.
Muvumbi Ndzalama menyampaikan, proposal adalah doa yang harus dipenuhi di tengah pertentangan yang datang dari paham patriarki.
Salah seorang sarjana sosial yang telah lama meneliti tentang poliandri - Profesor Collis Machoko menyampaikan, bahwa dirinya telah menyaksikan perkembangan dari fenomena ini.
"Dengan munculnya agama Kristen dan pemerintahan kolonial, membuat kedudukan perempuan kian melemah. Mereka tidak lagi setara, dan pernikahan menjadi salah satu alat untuk membangun kekuasaan atau hierarki," terang Profesor Collis Machoko.
Ia menerangkan, sebelumnya beberapa negara Afrika pernah mempraktikkan paham poliandri, misal Kenya, Republik Demokratik Kongo dan Nigeria.
Saat ini, Gambia yang terletak di Afrika Barat masih mempraktikkan hal tersebut, serta dilindungi oleh UU setempat.
"Masalah identitas anak bukanlah perkara sulit. Anak yang lahir dari keluarga tersebut, maka akan terhubung dengan ibu dan ayah biologisnya," lanjut Profesor Collis Machoko.
Aksi Protes Lintas Generasi
Muvumbi Ndzalama awalnya merasa bahwa paham patriarki sedikit banyak akan menyusup masuk dalam jalinan asmaranya.
Setelah sadar bahwa ia adalah penganut paham poliamori, Muvumbi Ndzalama pun merasa lebih mudah dalam menjalin hubungan intim dengan seseorang.
"Banyak lelaki yang awalnya setuju atau tidak keberatan untuk menjalankan hubungan ini. Namun, di tengah jalan mereka akan kewalahan dan akhirnya menolak," terang Muvumbi Ndzalama.
"Berada di sisi poliamori, bukan berarti saya ingin memiliki segudang kekasih. Melainkan dengan sisi poliamori, saya bisa menjajaki sebuah hubungan dengan seseorang".
Muvumbi Ndzalama dipertemukan dengan dua pasangannya saat ini melalui komunitas kencan online di Afrika Selatan. Di saat pemerintah tengah memperdebatkan legalitas dari poliandri, Muvumbi Ndzalama bekerja sama dengan pasangan utamanya membangun sebuah platform daring yang diberi nama "Open Love Africa".
Platform ini memiliki tujuan utama untuk memperkenalkan paham pernikahan non-monogami, dengan tetap mengedepankan nilai moralitas.
Platform ini sebagian besar didukung oleh warga kulit hitam yang sangat toleran terhadap perbedaan.
"Ini adalah hadiah kecil bagi mereka yang memang lebih memilih untuk menjalankan hubungan non-monogami. Saya berharap agar platform ini dapat ditemukan oleh mereka di luar sana yang selama ini hidup di tengah kebohongan maupun kehampaan".
Muvumbi Ndzalama pun menyadari jika langkahnya ini akan mendapat dukungan atau pertentangan dari masyarakat luas.
"Ketika saya berada di perut ibu saya, ia maju dalam gerakan protes untuk menentang kebijakan legalitas menggunakan alat kontrasepsi pada wanita, yang sebelumnya harus mendapatkan persetujuan dari pihak laki-laki terlebih dahulu".
"Ibu saya dan saya adalah pejuang untuk memperoleh hak kesetaraan gender. Nilai yang kami perjuangkan tentu akan berbeda, mengingat transformasi sosial dari generasi ke generasi."