(Taiwan, ROC) --- Ada banyak faktor penyebab seseorang mengidap insomnia, tetapi para pakar percaya jika kebijakan “WFH (Work From Home)” telah menjadi pemantik terhadap berubahnya siklus kebiasaan manusia, seperti dengan tidak berangkat ke kantor, jam makan yang berubah atau rutinitas lembur di malam hari.
Seorang ahli saraf di Mayo Clinic Amerika Serikat, Steven Altchuler mengatakan kepada media BBC, “Bekerja dari rumah, telah mengganggu ritme tubuh dan aktivitas manusia”.
Pada saat yang sama, definisi definisi antara bekerja dengan istirahat di rumah kian tidak jelas setiap harinya, yang mana ini disinyalir dapat mengintervensi persepsi otak manusia. Profesor kesehatan klinis di University of California, Angela Drake mengatakan, “Otak Anda akan menerima perintah : bekerja di tempat kerja kemudian bersantai di dalam rumah. Namun sekarang semuanya telah berubah, kita semua berada di dalam rumah sepanjang waktu”.
Ia juga mengingatkan, ketika seseorang bekerja di dalam rumah, mereka mungkin akan kurang berolahraga dan lebih jarang terpapar sinar matahari. Padahal olahraga yang cukup dan paparan sinar matahari merupakan salah satu rahasia memiliki kualitas tidur nyenyak.
Keseringan di Rumah Mengacaukan Produksi Hormon
Selain itu, “lockdown” ternyata memberikan dampak berikutnya, terutama bagi kaum wanita, yakni terganggunya ritme menstruasi. Beberapa dari mereka bahkan mengaku mengalami keluhan tidak senak badan, seperti sakit kepala, sakit perut, nyeri pada bagian payudara dan mood yang tidak stabil.
Majalah Cosmopolitan edisi Inggris mewartakan, menurut sebuah studi yang digelar pada bulan Februari tahun ini oleh Orecco, dengan mensurvei 743 wanita di Inggris, memperlihatkan bahwa 55% dari mereka memiliki gangguan siklus menstruasi, terlebih saat ketetapan “lockdown” diberlakukan.
Wanita-wanita tersebut mengaku jika mereka lebih rentan terhadap kestabilan emosi dalam menjalankan keseharian. Dan bahkan mereka mengaku bahwa masa menstruasi menjadi lebih lama dari biasanya.
Meski belum diuji secara klinis, tetapi penelitian ini membuktikan bahwa stres mempengaruhi keseimbangan fisiologi manusia. Seorang dokter yang juga merupakan penulis artikel sains, Sarah Toler mengatakan kepada Cosmopolitan, “Stres mempengaruhi kesehatan mental dan fisik. Bagi mereka yang tengah menghadapi menstruasi, stres menjadi tekanan yang sangat mempengaruhi.”
Faktanya, sekresi hormon dalam tubuh manusia memiliki keterkaitan erat dengan stres. Media The Guardian mewartakan, ketika manusia berada di bawah ancaman, maka tubuh akan mengeluarkan kortisol, untuk membantu manusia menghadapi tekanan yang ada.
Kemudian, jika otak besar manusia terus merilis sinyal “menghadapi ancaman” sepanjang waktu, maka kortisol akan terus dilepas, yang mana hal tersebut dapat mengganggu tubuh untuk mengeluarkan hormon reproduksi. Dan hal tersebut bukan tidak mungkin akan berakibat pada ovulasi abnormal dan mengganggu siklus menstruasi kaum wanita atau bahkan menghentikannya.
Ancaman di atas termasuk dengan ketidakpastian situasi pandemi saat ini, atau faktor lainnya meliputi perubahan lingkungan, stres karena pekerjaan rumah dan beban sekolah yang menumpuk, kesepian, penyakit, serta rasa kecewa ditinggalkan kekasih.
Para ahli mengingatkan, di tengah tren lockdown saat ini, dampak stres pada tubuh manusia sudah seharusnya menjadi topik pembahasan banyak orang. Sehingga warga dunia dapat bersama-sama melewati masa-masa sulit ini. Di saat yang sama, kita dapat menganalisis dari perspektif lain dan menelaah kembali apa yang dimaksud dengan “stres” itu sendiri.
Ketika menghadapi berbagai problematik kehidupan, kita harus senantiasa memperhatikan sinyal yang dirilis tubuh kita sendiri dan mencari jalan keluar untuk menjaga emosi. Dan jika diperlukan, tidak ada salahnya untuk mencuri bantuan dari tenaga medis profesional di sekitar kita.