Bahlil Lahadalia tumbuh di lingkungan yang miskin. Ia dibesarkan dalam keluarga sederhana, jauh dari privilese. Busung lapar pernah menjadi bagian dari cerita hidupnya. Ia pernah berjualan koran, menjadi sopir angkot—pekerjaan-pekerjaan yang oleh sebagian orang dianggap sebagai batas akhir dari sebuah takdir. Namun, semua dilakukannya tanpa pernah berhenti belajar, dan berkat semangat pantang mundur serta anti-baper yang dimilikinya, Bahlil kini jadi rujukan bagi status: politisi jenius Indonesia.