
Sign up to save your podcasts
Or


Bayangin nih, lo baru pulang sekolah. Seragam putih merah belom dilepas, dan badan lo lengket bau kambing. Seketika, lo nyalain TV rumah lo dan muncul lah acara TV favorit lo. Dimasa itu lo engga mikirin masalah kerjaan, or percintaan, atau mungkin keluarga. Yang lo pikirin cuma seberapa happynya lo ketika duduk di depan TV nontonin Kajol Devgan joget di taman yang kayak di Cibodas bareng ama Shah Rukh Khan karena ternyata pembokat lu lagi nonton film Bollywood. Ironis bukan?
Gak terbayang oleh pikiran kita yang inovatif namun primitif bahwa tontonan masa belia kita masih "Terekam Tak Pernah Mati" di otak kita, Sayangnya, perasaan pas kita nontonin pembokat kita nonton film Bollywood kaya tadi tidak bisa terulang kaya dulu. Bukan cuma gara-gara masalah idup yang nyerang kaya Negara Api, tapi tontonan di TV juga udah engga semenarik itu lagi. Yang isinya kalo engga talkshow yang naasnya kebanyakan garing, atau sinetron super dramatis yang kalo ada adegan lagi slek pasti ngomong dalem hati tapi suaranya ngawang-ngawang. Tapi, ya kita bisa apaan yak, selain cuma bisa berdoa dan ngasih kritik pedes level 100 ke lembaga-lembaga yang bersangkutan biar tayangan-tayangan bermutu bisa balik lagi.
Disini kami mau berbagi pengalaman dan membawa kalian ke dimensi masa lalu untuk mengenang tontonan kami saat masih "polos". dan saat TV belom kurus alias masih gemuk nan cembung.
Gara-gara penyakit biadab bernama COVID, semua kegiatan pun akhirnya berubah bentuk pelaksanaannya, menjadi lebih fokus ke acara online. Bahkan, ada yang dibatalin. Tentunya, "rasa" kegiatannya pun beda. Kadang-kadang feelnya engga dapet. Tapi, di satu sisi, kegiatan online ini bikin kita bisa menghadiri acara dimanapun tanpa ganggu hobi ataupun kegiatan kita yang lain. Sehingga, waktu buat diri sendiri pun lebih banyak.
Di episode ini, kita bakal bicara tentang plus minus kuliah online (baca : kulon), dan perbandingannya sama kuliah normal (offline).
EPISODE INI MENGANDUNG BAHASAN YANG MUNGKIN MENGGANGGU BAGI SEBAGIAN PENDENGAR. KEBIJAKSANAAN PENDENGAR SANGAT DISARANKAN.
Manusia tuh punya beberapa kebutuhan khusus yang tidak dimiliki mahluk hidup lain, seperti kebutuhan akan afeksi, kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain, sampai kebutuhan untuk membuang ampas di tempat yang seharusnya (toilet, pispot, dll). Namun, meskipun begitu, terkadang ada aja momen dimana ampas itu udah berada di ujung tanduk dan udah engga bisa ditahan lagi. Sayangnya, pas kita jaman bocah dulu, kita belum sebisa itu, sehingga keluarlah itu beban idup di tempat yang tidak seharusnya.
Di episode ini, kita bakal ngobrolin pengalaman yang paling, ah gitu dah, tentang menuruti panggilan alam.
Seperti yang kita tau, kuliah sama sekolah itu beda jauh. Lebih jauh lagi kalo ngeliat masalah "rekreasi" . Lebih tepatnya, di jaman kuliah ini tuh, masalah karyawisata atau field trip lebih terbatas ke bagian kerjanya, dan juga engga se "jalan-jalan" itu. Sementara pas jaman sekolah, jalan jalan tuh yang bikin kita seneng ikut field trip, meskipun kita tau tujuannya yaa kesitu-situ aja. Kalo engga Ancol, Taman Mini, sama Lubang Buaya di Jakarta, yaa di Bandung, datengin Museum Geologi, Saung Mang Udjo. Seakan-akan ga ada tempat lain di dunia ini buat field trip. Tapi, gimanapun juga, kita tetep enjoy.
Di episode ini kita bakal bahas tentang pengalaman kita field trip, rekomendasi tempat field trip di Bandung, dan kita juga membahas mengenai field trip itu sebenernya menguntungkan murid atau guru.
Musik udah jadi bagian dari hidup kita. Bisa dibilang, dalam titik tertentu di kehidupan kita, pasti ada "soundtrack" yang ada disitu, entah karena lagu itu dimainkan saat momennya, atau karena ada lagu yang sesuai sama keadaan saat itu. Engga terkecuali waktu kuliah kaya kita. Ada aja tuh lagu yang nempel di kepala kita, entah itu yel-yel ospek, atau lagu hymne kampus.
Di episode ini kita bakal membahas lagu-lagu yang berkesan di kehidupan kampus kita, dan juga ngebocorin lagu-lagu favorit kita. Siapa tau butuh referensi lagu ye kan.
Namanya kehidupan ga selalu berjalan sama ekspektasi kita. Sesimpel cover episode ini, pengennya sih ga kepotong itu fotonya, cuma gara-gara di foto aslinya Malik sama Thariq rada berjarak, akhirnya kepotong. Padahal udah diedit tuh. Begitu juga dengan ekspektasi orang terhadap kuliah kita. Konteksnya bukan "pengennya di A masuknya di B" ya, tapi lebih ke "kirain bakal begini, ternyata begitu". Dalam kasus kita nih, banyak banget orang yang ngira kalo kita bakal kuliah di Bandung. Pada kenyataannya, kita kuliah di Sumedang. Ga jauh dari Bandung sih, cuma ya deket dari Bandung kan berarti bukan di Bandung.
Masalah ekspektasi ini bakal dibahas lebih dalam di episode ini, termasuk mengenai ekspektasi dan realita mengenai jurusan kita masing-masing.
Buat beberapa orang, masa kecil merupakan masa yang paling menyenangkan dalam fase kehidupan. Kalo kata orang-orang sih gara gara pas kecil kita ga mikirin masalah selain PR yang harus dikumpulin. Tapi, menurut kita engga juga sih. Kita pernah ngerasain fase dimana selain harus mikirin PR, kita juga mesti mikirin gimana bisa bertahan sama anak orang yang usil atau ngeselinnya mampus. Sampe akhirnya kita ngikutin insting bertahan hidup untuk melawan hal yang mengganggu itu dan terjadilah sebuah pertengkaran untuk mempertahankan harga dan martabat diri. Ga peduli hasilnya kalah atau menang, yang penting harga diri dipertahankan.
Di episode ini, kita bakal ngomongin tentang pengalaman kita mempertahankan diri kita di komplek dan di sekolah, dan kenangan tentang masa kecil kita.
Jatinangor, sebuah kecamatan di Sumedang yang bisa dibilang "Kota Pelajar". Gimana engga, ada 4 kampus yang berdiri disitu. Tentunya, banyak perantau yang datang ke Jatinangor untuk kuliah. Dan supaya para perantau bisa survive di Jatinangor, merekaa harus berinteraksi dengan warga lokalnya. Kebanyakan warga lokal Jatinangor emang ramah, tapi ada juga yang rada ngeselin. Meskipun begitu, kita mesti bijak menghadapi mereka, karena bagaimanapun juga, Jatinangor bukan tanah mereka.
Di episode ini, kita mau cerita tentang pengalaman kita sama warga lokal Jatinangor, mulai dari first impression, sampai kejadian yang membekas dengan warlok Jatinangor.
Di setiap tongkrongan pasti punya "bahasanya" sendiri. Entah itu punya panggilan sendiri, ataupun inside jokes. Nah, di tempat kita sendiri, sang pencetus "catchphrase" tersebut adalah Ricky, bintang tamu episode kali ini (dan episode lalu, karena takenya di hari yang sama.) Dia suka banget ngomong asal tapi memorable. Saking memorablenya, dijadiin nama podcast. Yes, KanKinKun adalah hasil ocehan dari Ricky (dan Malik, karena ditemuinnya pas lagi barengan.)
Di episode ini, kita bakal ngobrolin arti dari kata-kata aneh yang sering lu temuin di episode-episode sebelumnya, dan darimana KanKinKun itu muncul.
From the publisher's feed