
Sign up to save your podcasts
Or


Kita sebagai rakyat jelata selalu ada didalam sirkulasi kekuasaan, para penguasa yang terkadang mentukan nilai moral. apakah yang tidak bermolar bagi kita layak jadi pahlawan bagi mereka ?
Brand-brand besar semakin sering mengambil posisi yang jelas pada isu-isu sosial-politik atau kemanusiaan yang sedang panas di ranah publik dan media sosial. Langkah ini seringkali disambut dengan dua reaksi ekstrem: pujian masif dari audiens yang setuju (membentuk loyalty yang kuat) dan boikot dari audiens yang tidak setuju (memicu polarisasi di kolom komentar).
Semakin banyak brand-brand baru yang viral dan meraih omzet masif di platform social commerce tanpa pernah menampilkan wajah pemiliknya sama sekali. Mereka tidak memakai influencer ternama, tidak ada CEO yang menjadi "wajah" brand. Kekuatan mereka murni pada estetika produk, user-generated content (UGC), dan kepercayaan yang dibangun dari keramaian di kolom komentar. Ini adalah pergeseran subtil namun signifikan dari era "founder-led brand" atau "influencer economy".
Ini adalah sinyal perlawanan terhadap "kultus individu" dan sebuah studi kasus menarik tentang bagaimana kepercayaan dibangun di era digital saat ini.
Pemerintah Indonesia secara bertahap mulai mengimplementasikan dan mensosialisasikan Identitas Kependudukan Digital (IKD) atau "KTP Digital". Dalam seminggu terakhir, muncul banyak berita mengenai uji coba di berbagai daerah, diskusi di media sosial tentang kelebihan dan kekurangannya, serta kebingungan publik mengenai keamanan dan privasi data.
Salah satu band papan atas Indonesia menggelar konser roblox pertamanya. Tiketnya (yang memberikan akses ke experience premium) ludes dalam hitungan menit, memicu "war tiket" layaknya konser fisik. Di media sosial, terjadi perdebatan seru antara mereka yang berhasil dapat tiket dan mereka yang tidak, serta diskusi tentang apakah pengalaman Game bisa menggantikan atmosfer konser sungguhan.
20% Bapak merupakan segmen terbatas dari podkha atas dasar keresahan menjadi seorang bapak. Kita tahu semua bahwa tidak ada sekolah untuk menjadi seorang bapak, sehingga kita perlu belajar dari bapak-bapak lainya. Harapanya kita belajar dari banyak kebaikan dan kesalahan sehingga pada akhirnya kita mamu menjadi bapak yang berkeadilan dan memberikan ruang terbaik bagi anak-anak kita.
Pada episode perdana yang mengundang bapak Fikri sebagai salah satu bapak yang telah mengemban tugas kurang lebih selama 9 tahun. Bagaimana perjalananya lika-likunya dan harapanya. yuk simak, feel free untuk memberikan komentar dan saran yah gengs
hallo sudah lama tidak bersua, saya kembali dengan siniar podkha di session ke 2, mungkin akan sangat personal enjoy!!
From the publisher's feed