
Sign up to save your podcasts
Or


Penemuan mayat perempuan bernama Siti Lempit yang mengenaskan menambah episode mencekam di Desa Ranapati. Tragedi ini hanyalah pintu untuk memahami sebuah moralitas yang tidak akan dimengerti banyak orang. Merasa ada yang salah dengan banyak hal, tokoh kita, seorang penulis yang bersih hatinya, berusaha menentang dengan menuliskan hal-hal yang ia ketahui.
Dengarkan cerita pendek audio yang merupakan cuplikan dari novel Surga Anjing Liar karya Adimas Immanuel (@adimasnuel) di podcast buku Podcast Main Mata. Cerita ini dinarasikan oleh Adimas sendiri sebagai “si tokoh kita: sang penulis”.
Foto: fotografierende
Cerita pendek bertema Memori dari segmen Pembaca Menulis podcast buku Podcast Main Mata ini ditulis oleh Astri Apriyani aka Atre (@atre7) dan dibacakan oleh Astari Indahingtyas (@astarindah). Bercerita tentang perjalanan seorang Pak Gani, kakek tua penderita dementia yang sedang keliling kota. Pikirannya silih berganti tanpa kendali ketika dia menemukan satu demi satu peristiwa keseharian yang lalu lalang di hadapannya. Meskipun ingatannya larut dimakan usia, hasratnya untuk mengabadikan hidup yang mungkin hanya tinggal sekejap lagi tetap tidak bisa digoyah. Di tengah perjalanannya, Pak Gani bertemu dengan mantan siswanya di kampus, Sawala. Perjumpaan tak disengaja tersebut meninggalkan kesan yang membekas bagi keduanya.
Di bab ini @patricia.wulandari merekomendasikan lima buku karya penulis perempuan yang kisah-kisahnya mengajak kita untuk berani dalam menentukan pilihan hidup. Buku-buku yang disebutkan di sini ada:
1. Americanah (Chimamanda Ngozi Adichie)
Bab rekomendasi buku kali ini berkolaborasi dengan Magdalene, sebuah media online berisi konten seputar perempuan, ada tentang gaya hidup, feminisme, seksualitas, kecantikan, sosial, politik, yang semuanya berperspektif gender. Kamu bisa cek lebih lanjut tentang Magdalene di instagram @magdaleneid. Selamat mendengarkan!
Di bab ini @patricia.wulandari membahas buku terbaru yang juga merupakan naskah tertua karya penulis Dee Lestari, yaitu Rapijali. Buku Rapijali pertama kali dirilis awal tahun 2021 melalui platform digital Storial menggunakan sistem cerita bersambung yang terbit setiap hari Senin dan Kamis selama kurang lebih satu bulan. Akhir Februari 2021, buku ini baru dirilis versi cetaknya dan bisa diperoleh di toko buku mulai 1 Maret 2021. Perilisan buku cetak Rapijali berdekatan dengan berakhirnya cerita bersambung di Storial. Yang memang cukup mengagetkan pembaca, baik pembaca versi digital maupun cetak, ternyata buku Rapijali merupakan buku berseri. Artinya, Rapijali yang awal tahun ini terbit adalah seri pertama "Mencari", kemudian akan disusul dengan seri kedua "Menjadi" yang direncanakan terbit pertengahan 2021. Kejutan yang enggak diduga-duga ini membuat respons pembaca terbagi menjadi dua: ada yang menerima dengan baik, tapi ada juga yang responsnya negatif karena merasa "kejutan" ini seharusnya diinfokan saja dari awal.
Untuk membahas tentang respons dari kejutan ini, Patricia mengundang dua teman pembaca, yaitu Aditya Hadi dari Podcast Buku Kutu yang membaca Rapijali versi cetak dan Astari Indahingtyas yang membaca Rapijali versi digital. Sebelumnya, di episode Podcast Buku Kutu, Adit sudah menyampaikan opininya tentang sikap tim penulis dan penerbit yang memutuskan untuk menyimpan si kejutan sampai bukunya tiba di tangan pembaca. Di sini, Adit memberikan penjelasan lebih lanjut tentang opininya tersebut, yang kemudian ditanggapi oleh Astari sebagai pembaca Rapijali yang dapat menerima dengan baik si kejutan ini.
Selamat mendengarkan.
Membaca buku Wuhan Diary yang menceritakan masa lockdown di Wuhan, China, selama 60 hari lewat tulisan-tulisan dalam jurnal harian yang ditulis oleh penulis China bernama Fang Fang, membuat Patricia Wulandari (@patricia.wulandari) melakukan refleksi menuju satu tahun sejak pandemi COVID-19 dinyatakan masuk ke Indonesia.
Di bab ini, kamu bisa mendengarkan kisah-kisah pandemi dari lima orang teman. Pertama, ada Nurjannah Intan (@nurjannah_intan) dari Penerbit Bentang Pustaka (@bentangpustaka) yang bersusah payah memastikan buku Wuhan Diary bisa dibaca untuk jadi pembelajaran masyarakat Indonesia. Lalu ada Kathena (@kathenaaa), seorang dokter umum di sebuah rumah sakit di Depok yang selama hampir setahun ini menjadi dokter jaga dan menjumpai banyak pasien COVID-19 dengan karakteristik yang beranekaragam. Kemudian ada Achink dari Podcast Abjad Tersirat (@abjadtersirat) yang menceritakan pengalamannya merasakan penanganan pandemi di dua kota/negara, yaitu di Munich, Jerman, selama 9 bulan dan Jakarta, Indonesia, sejak Desember 2020 lalu. Kemudian ada Putri (@prunamasari) yang sempat menderita COVID-19 dan melakukan isolasi mandiri di rumah. Dan ada Widya (@franastasia), yang juga sempat menderita COVID-19 bersama kedua orangtuanya dan harus kehilangan sang ibu akibat virus menakutkan ini.
Semoga bab ini bisa membantu kita sama-sama menjalani pandemi ini sampai situasinya menjadi baik. Selamat mendengarkan.
-
Jika tertarik mengoleksi buku Wuhan Diary, kamu bisa membelinya lewat Toko Buku Kutu di aplikasi Shopee atau Tokopedia. Toko Buku Kutu merupakan toko kolaborasi antara Podcast Buku Kutu dan Podcast Main Mata. Pembelian lewat tokobukukutu berarti kamu mendukung keberlangsungan Podcast Main Mata dan Podcast Buku Kutu.
-
Kredit foto: Louis
Di bab ini, Patricia Wulandari (@patricia.wulandari) membahas buku kumpulan cerpen Memburu Muhammad karya Feby Indirani, seorang jurnalis dan penulis yang dikenal menaruh perhatian lebih terhadap isu-isu tradisi beragama, khususnya agama Islam yang ia anut, di Indonesia.
Kumpulan cerita di dalam buku ini menggelitik, menyusup masuk ke saripati keberagamaan masa kini. Aneka rupa tema dan cerita —suara dari alam kematian yang menggemparkan kampung di Jakarta, Kyai yang hidup kembali setelah wafat, dilema bakso terenak di dunia, pelukis yang ingin melukis Tuhan, malaikat yang mencintai dengan pedih, negeri Tuantu yang dilanda mitos dan pandemi, juga seorang yang mengaku musuh Nabi menyandera petugas kelurahan. Jenaka, juga mengharukan.
Dengerin sampai selesai karena sebagai penutup kamu bisa menikmati cerpen audio "Haji Mabrur" yang merupakan salah satu cerpen di buku Memburu Muhammad. Cerpen audio "Haji Mabrur" dinarasikan oleh Feby Indirani sendiri.
Feby Indirani adalah seorang jurnalis dan penulis yang dikenal menaruh perhatian lebih terhadap isu-isu tradisi beragama, khususnya agama Islam yang ia anut, di Indonesia. Ia menuangkan pemikirannya dalam karya tulis cerita pendek yang ia rangkum menjadi sebuah trilogi yang ia sebut sebagai Islamisme Magis. Buku pertama dari trilogi ini, Bukan Perawan Maria, terbit 2017 lalu dan menuai tanggapan positif sampai diterjemahkan ke berbagai bahasa asing. Akhir tahun 2020 lalu, Feby baru saja merilis kedua dari trilogi ini, Memburu Muhammad, dengan masih membahas isu yang sama.
Di bab ini, Feby banyak bercerita tentang proses pembuatan buku Memburu Muhammad, mulai dari stand point-nya terhadap isu-isu beragama yang dibahas di buku ini, sudut pandang yang ia gunakan ketika bercerita, dan masih banyak lagi. Selamat mendengarkan.
Feby Indirani adalah seorang jurnalis dan penulis yang dikenal menaruh perhatian lebih terhadap isu-isu tradisi beragama, khususnya agama Islam yang ia anut, di Indonesia. Ia menuangkan pemikirannya dalam karya tulis cerita pendek yang ia rangkum menjadi sebuah trilogi yang ia sebut sebagai Islamisme Magis. Buku pertama dari trilogi ini, Bukan Perawan Maria, terbit 2017 lalu dan menuai tanggapan positif sampai diterjemahkan ke berbagai bahasa asing. Akhir tahun 2020 lalu, Feby baru saja merilis kedua dari trilogi ini, Memburu Muhammad, dengan masih membahas isu yang sama.
Di bab ini, Feby bercerita alasan di balik kenapa ia menaruh perhatian lebih dalam membahas isu tradisi beragama di kalangan umat Muslim di Indonesia, yang sebenarnya berakar dari pencarian jati dirinya serta trauma kreatif yang sempat dialami sewaktu ia menerbitkan novel pertamanya, Simfoni Bulan, di tahun 2006 silam. Selamat mendengarkan.
Di segmen Orang Dalam podcast buku Main Mata kali ini, @patricia.wulandari mengobrol dengan @adimasnuel soal buku terbarunya yang juga merupakan novel perdananya, Surga Anjing Liar, yang diterbitkan oleh Penerbit @bukune. Lewat novel bergenre misteri ini, Adimas menyisipkan pertanyaan seputar moral manusia, baik-buruk, hitam-putih dalam balutan kisah pembunuhan yang diwarnai mitos.
Bab ini bekerja sama dengan Penerbit Bukune dalam rangka perilisan novel Surga Anjing Liar. Kamu bisa ikut preorder Surga Anjing Liar lewat Podcast Main Mata dari 1-5 Februari 2021. Caranya dengan membuka aplikasi Shopee atau Tokopedia kemudian cari "tokobukukutu". Lewat preorder ini kamu akan mendapatkan novel bertandatangan penulis dan bonus stiker dengan harga Rp88.000. Promo ini merupakan kolaborasi antara Podcast Main Mata dan Podcast Buku Kutu dengan Penerbit Bukune, didukung oleh Jaringan Podluck. Pembelian lewat tokobukukutu berarti kamu mendukung keberlangsungan Podcast Main Mata dan Podcast Buku Kutu.
PS: jangan lewatkan juga cuplikan cerpen audio Surga Anjing Liar yang dibacakan oleh Adimas sendiri di Podcast Main Mata.
Dengarkan bab terbaru segmen Orang Dalam Podcast Main Mata bersama penulis Adimas Immanuel. Selama ini, Adimas mungkin lebih dikenal sebagai penyair karena hampir semua bukunya merupakan buku puisi, kecuali buku terbarunya yang akan rilis dalam waktu sangat dekat: novel Surga Anjing Liar yang diterbitkan oleh Penerbit Bukune.
Di bab ini Patricia Wulandari mengobrol dengan Adimas mengenai pengalamannya berproses menulis secara ototidak, kesukaannya bereksperimen dengan struktur di dalam karya-karyanya, alasan kenapa dia enggak ingin menggantungkan hidup di kepenulisan, dan masih banyak lagi. Selamat mendengarkan!
PS: tungguin juga obrolan bagian kedua yang bakalan banyak ngobrolin novel Surga Anjing Liar, dan akan ada juga cuplikan cerpen audio Surga Anjing Liar yang dibacakan oleh Adimas sendiri di Podcast Main Mata.
From the publisher's feed