Niat Puasa Ramadhan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan صفة صوم النبي صلى الله عليه وسلم في رمضان. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Rabu, 3 Sya’ban 1442 H / 17 Maret 2021 M.
Download kitab PDF: صفة صوم النبي صلى الله عليه وسلم في رمضان
Kajian Islam Tentang Niat Puasa Ramadhan
1. Wajib meletakkan niat di malam hari pada puasa wajib sebelum terbit fajar
Ini maksudnya adalah orang yang ingin berpuasa wajib, seperti puasa Ramadhan, maka dia wajib berniat di malam hari. Batasan paling maksimal untuk niat puasa wajib Ramadhan adalah sebelum adzan subuh. Kalau seandainya ada orang berpuasa Ramadhan tapi belum beniat di malam hari sampai terbit fajar padahal di mengetahui besok Ramadhan, maka tidak sah puasa Ramadhannya dan wajib baginya untuk mengqadha.
Jika telah tetap masuk bulan Ramadhan dengan ru’yah (penglihatan mata) atau dengan persaksian atau dengan menyempurnakan jumlah hari bilangan bulan Sya’ban, maka wajib atas setiap muslim yang dibebani beban untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk meniatkan berpuasa di malam hari, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
مَنْ لَمْ يُجِيْعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ
“Barangsiapa yang tidak mengumpulkan niat puasa sebelum subuh, maka tidak sah puasanya” (HR. Imam Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, Baihaqi)
Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:
مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامُ مِنَ اللَّيْلِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ
“Barangsiapa yang tidak meletakkan niat di malam hari untuk berpuasa, maka tidak sah puasanya” (HR. An-Nasa’i)
Niat tempatnya adalah di hati, dan mengucapkan niat adalah sebuah perbuatan bid’ah yang sesat, meskipun sebagian manusia menganggapnya adalah baik. Niat secara bahasa adalah tekad dan maksud yang itu semua adalah amalan hati, bukan amalan lisan. Kita sebagai seorang muslim tidak perlu mengajari Allah tentang amal ibadah kita, karena Allah Maha Mengetahui apa yang ada di langit dan yang ada di bumi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْ
“Apakah kalian mengajari Allah tentang amalan kalian?” (QS. Al-Hujurat[49]: 16)
Maka mengucapkan niat puasa belum ada petunjuknya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Menetapkan niat pada malam harinya ini khusus untuk puasa wajib, seperti puasa Ramadhan, puasa nadzar dan puasa wajib lainnya. Karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mendatangi ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha pada selain bulan Ramadhan, kemudian beliau bertanya: “Apakah kalian mempunyai makanan untuk makan siang?” Kemudian kata ‘Aisyah: “Tidak” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Kalau begitu aku berpuasa” (HR. Muslim)
Ini menunjukkan bahwa niat puasa di malam hari hanya ada pada puasa-puasa wajib.
Hal ini juga dilakukan oleh para sahabat, di antaranya Abu Darda’, Abu Thalhah, Abu Hurairah, Abdullah bin ‘Abbas, Hudzaifah Ibnul Yaman -semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai mereka dan semoga Allah mengumpulkan kita bersama mereka dibawah benderanya Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
2. Kesanggupan Adalah Syarat Pembebaban Ibadah
Jika tidak ada kesanggupan, maka tidak disyaratkan untuk mengerjakan pembebanan ibadah. Misalnya seseorang sanggup berdiri, maka dia wajib berdiri saat di shalat.