Khutbah Jumat: Qana’ah Dalam Kehidupan ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 29 Jumadil Akhir 1442 H / 12 Februari 2021 M.
Khutbah Pertama – Khutbah Jumat Qana’ah Dalam Kehidupan
Jama’ah, kaum muslimin yang dimuliakan Allah,
Pertama-tama kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala limpahan karunia dan nikmat yang tidak akan bisa kita hitung satu per satu.
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya kamu tidak akan dapat menghitungnya.” (QS. An-Nahl[16]: 18)
Shalawat beriring salam tidak lupa kita limpahkan untuk Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, atas keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau dan umat beliau sampai hari kemudian.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Dalam sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
فَوَاللَّهِ لاَ الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ
“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian.”
وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا
“Akan tetapi aku khawatir akan dibentangkan di hadapan kamu dunia.”
فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا
“Lalu kalian berlomba-lomba untuk mengejar dunia itu sebagaimana umat sebelum kalian berlomba-lomba mengejarnya.”
وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
“Lalu dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan umat-umat sebelum kalian.”
Di dalam hadits ini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan kepada kita semua bahwa masalah umat ini bukanlah masalah kefakiran yang menimpa mereka. Walaupun kita tahu bahwa kefakiran itu adalah perkara yang kita harus berlindung kepada Allah darinya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kita doa, salah satunya adalah:
اللّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ
“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kefakiran.”
Demikian pula Nabi mengatakan bahwa kefakiran itu adalah بئس الضجيع (seburuk-buruk kemelaratan dan kesengsaraan). Dan Nabi melarang kita untuk meninggalkan keluarga kita dalam keadaan fakir, meminta-minta manusia. Seperti yang Nabi katakan kepada Sa’ad bin Abi Waqqash ketika ia ingin mewasiatkan sebagian besar hartanya, maka Nabi mengatakan:
الثُّلُثُ والثُّلُثُ كَثيرٌ…
“Sepertiga saja, dan itu pun sudah banyak. Seandainya engkau meninggalkan keluargamu dalam keadaan berkecukupan, maka itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan fakir meminta-minta kepada manusia.”
Yaitu kemelaratan akan menggiring kepada kehinaan.
Nabi kita memerintahkan untuk berlindung dan agar kita tidak jatuh kepada kefakiran tersebut. Akan tetapi bukan itu yang paling ditakutkan Nabi atas umat ini, bukan itu masalah umat ini, bukan itu problematika umat. Akan tetapi yang Nabi kawatirkan atas kita semua justru dibentangkan kepada kita dunia, kita berlomba-lomba mengejar dunia itu dan akhirnya kita binasa karena mengejarnya.
Para jamaah yang dimuliakan Allah, ada tiga status yang ada pada manusia:
* yang pertama adalah dia dalam kondisi kaya dan berlebihan,
* yang kedua dia dalam kondisi miskin berkecukupan,
* dan yang ketiga adalah kondisi fakir (dia kekurangan).
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak melarang kita menjadi orang yang kaya. Walaupun Nabi dalam banyak konteks nash-nash Al-Qur’an maupun hadits mencela dunia. Seperti di dalam Al-Qur’an, Allah menyebut dunia itu sebagai مَتَاعُ الْغُرُورِ (kesenangan yang memperdaya),