Khutbah Jumat Tentang Ilmu: Bahaya Berkata Agama Tanpa Ilmu ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 4 Rabbi’ul Awwal 1441 H / 01 November 2019 H.
Khutbah Pertama – Khutbah Jumat Tentang Ilmu: Bahaya Berkata Agama Tanpa Ilmu
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
Ummatal Islam,
Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita untuk berkata ataupun mengikuti perkara yang tidak ada ilmunya. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Jangan kamu ikuti apa-apa yang tidak ilmunya sama sekali.” (QS. Al-Isra'[17]: 36)
Karena berkata tanpa ilmu adalah sumber berbagai macam kesesatan, sumber berbagai macam kehancuran dan kebinasaan. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 33:
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللَّـهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّـهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ﴿٣٣﴾
“Katakan, ‘Sesungguhnya yang diharamkan oleh Rabbku yaitu fahisyah yang tampak maupun yang tersembunyi, dan dosa, dan kamu berbuat zalim di muka bumi dengan tanpa hak, dan kamu berbuat syirik (mempersekutukan Allah) dengan apa yang Allah tidak turunkan ilmu padanya, dan kamu berkata atas Allah dengan tanpa ilmu.’“(QS. Al-A’raf[7]: 33)
Di situ Allah menyebutkan tentang keharaman-keharaman. Allah mulai dari yang kecil, kemudian naik menjadi besar, besar dan yang paling besar. Allah mengatakan, “Sesungguhnya yang diharamkan oleh Rabbku yang pertama adalah perbuatan fahisyah yang tampak maupun yang tersembunyi, dan dosa, (lalu naik lagi) dan berbuat zalim di muka bumi ini, (dan naik lagi) berbuat syirik. Padahal syirik merupakan dosa yang sangat besar, akan tetapi Allah tidak menutup ayat itu dengan syirik. Allah menutup ayat itu dengan firmanNya, “Dan kamu berkata atas Allah dengan tanpa ilmu.”
Para ulama menyebutkan mengapa Allah menutup ayat tersebut dengan, “Berkata tanpa ilmu.” Karena berkata tanpa ilmu adalah tiang kesesatan. Karena semua kesesatan berasal daripada berkata tanpa ilmu. Seseorang berkata/berucap sesuatu dalam agama lalu kemudian dia mengatakan, “ini halal/ini haram” padahal tidak ada dalilnya dari syariat Allah, sungguh ia telah berdusta atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman:
وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـٰذَا حَلَالٌ وَهَـٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّـهِ الْكَذِبَ
“Jangan kalian mengucapkan dengan lisan-lisan kalian dengan mensifatkan ini halal dan haram sehingga kalian pun berdusta atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS.